<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561</id><updated>2012-02-13T04:39:10.829-08:00</updated><category term='jurnalistik'/><category term='h'/><category term='PUISI'/><category term='LieBoEr'/><category term='Politik'/><category term='Photographi'/><category term='Lingkungan'/><category term='SOSIAL'/><category term='identitas'/><category term='Umum'/><category term='Humaniora'/><category term='budaya'/><category term='profile'/><category term='sastra'/><title type='text'>budi miank</title><subtitle type='html'>my home, my words, my memories, and my life</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>168</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1953939595932157729</id><published>2012-02-06T21:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T22:14:28.694-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Batas Negara; Ujung Sebuah Negeri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-HV3QkJ5hm3o/TzDA6MyX77I/AAAAAAAAAaE/72TFLvgDgAQ/s1600/kakaka.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-HV3QkJ5hm3o/TzDA6MyX77I/AAAAAAAAAaE/72TFLvgDgAQ/s320/kakaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706272833975873458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika boleh mengurut, ada tiga tempat yang menjadi favorit bagi orang ketika berkunjung ke tanah Borneo Barat. Tiga tempat itu berada pada kabupaten/kota yang berbeda juga. Satu, Pontianak. Kedua, Singkawang, dan ketiga itu Entikong. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;&lt;/span&gt;Mengapa hanya tiga tempat itu? Pontianak, sebagai ibu kota provinsi, tentu saja menjadi lalu lintas yang utama. Tetamu yang berkunjung dari luar Pontianak akan singgah di kota ini. Walau hanya sejenak untuk sekadar meluruskan pinggang karena lelah berpergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kota perdagangan dan jasa, Pontianak mau tidak mau harus siap menerima arus mobilitas massa yang frekwensinya terus meningkat. Karena itu, infrastruktur penunjang harus juga siap. Inilah yang menjadi tugas pemerintah. Apapun alasannya, infrastruktur penunjang sebagai sebuah kota perdagangan dan jasa haruslah sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berkunjung ke Pontianak. Sebagian orang akan melanjutkan perjalanannya. Ada dua tempat yang kerap menjadi tujuan: Singkawang dan Entikong. Singkawang yang disebut juga kota amoy, selalu menjadi tempat pelesiran yang menarik. Dari Pontianak, Singkawang bisa ditempuh menggunakan mobil atau sepeda motor. Waktu tempuh dari Pontianak sekitar tiga jam dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada momen tertentu, kunjungan ke Singkawang meningkat signifikan. Di antaranya, saat perayaan Imlek, Cap Go Meh, sembahyang kubur, bahkan peringatan-peringatan hari besar lainnya. Namun tingkat kunjungan tertinggi biasanya terjadi saat warga Tionghoa merayakan hari-hari kebesarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi kedua yang kerap dikunjungi jika seseorang sudah berada di Pontianak, yakni Entikong. Lho, kok bisa? Yah, Entikong boleh dicatat sebagai lokasi yang paling banyak dikunjungi orang. Bahkan, Badan Pusat Statistik menempatkan Entikong sebagai salah satu indikator mencatat jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Barat. Kendati faktualnya, tidak semua orang yang masuk dan keluar lewat Entikong dengan tujuan berwisata. Ada juga sebagian yang masuk untuk berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kebiasaan pejabat dari pusat negara yang berkunjung ke Kalbar. Begitu, tiba sekalian mengunjungi Entikong kemudian menyeberang ke Jiran. Namun kunjungan yang berkode resmi itu tidak juga bisa mengubah wajah batas negara. Padahal kedatangan temuai dari pusat negara menyerap aspirasi masyarakat perbatasan untuk sebuah kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pameo dalam masyarakat perbatasan: jika saja buku tamu dikumpulkan selama bertahun-tahun, maka isinya sudah tidak muat untuk tandatangan oleh tetamu itu. Bahkan, ada seloroh yang menyebutkan, “hanya malaikat saja yang datang ke perbatasan ini. Tetapi wajah perbatasan tetap saja seperti ini.” (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1953939595932157729?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1953939595932157729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/02/batas-negara-ujung-sebuah-negeri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1953939595932157729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1953939595932157729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/02/batas-negara-ujung-sebuah-negeri.html' title='Batas Negara; Ujung Sebuah Negeri'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HV3QkJ5hm3o/TzDA6MyX77I/AAAAAAAAAaE/72TFLvgDgAQ/s72-c/kakaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4474514172654273866</id><published>2012-01-28T19:54:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T19:56:29.721-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Coretan Vanessa</title><content type='html'>Vanessa baru saja keluar dari kelas. Tas barbie pink bergelayut di pundaknya. Rambut sebahu terikat tak berkepang. Sepatu hitam berkaus kaki putih. Seragam olahraga tak pas dengan ukuran tubuhnya yang ceking. Vanessa mengumbar senyum. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah akasia, di halaman sekolah, aku menunggunya. Limabelas menit sebelum jadwal pulang sudah bertemu akasia rindang itu. Ritual Sabtu pagi sebagai sebuah pertemuan dengan Vanessa, bocah enam tahun yang baru kelas satu sekolah dasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan kecil, my little angel, yang selalu ceria memberondongku dengan beragam tanya. Mulai kapan datang, kenapa ayah pakai celana pendek, lalu naik apa datangnya. Dari beragam tanya itu, satu hal yang tak dilupakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana buku kakak?" &lt;br /&gt;"Ada."&lt;br /&gt;"Di mana ayah beli?" &lt;br /&gt;"Di Pontianak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia naik ke sadel sepeda motor. &lt;br /&gt;"Berapa ayah beli?" Gadis kecilku itu kembali bertanya saat roda-roda sepeda motor menggilas aspal jalan yang dihiasi lubang-lubang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua.” &lt;br /&gt;“Asik. Buku.. buku.” &lt;br /&gt;Vanessa menggoyang-goyangkan kepala dan badannya. Aku mengingatkannya agar tak terlalu bergoyang-goyang karena khawatir terjatuh dari sepeda motor. Sebab kami melintasi rute yang ramai dilintasi para pengendara, yang laju kendaraan hingga 80 kilometer per jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit berlalu. Saya menghentikan laju sepeda motor. Vanessa turun. Tas minnie the pooh ditinggalkan. Tanpa buka sepatu, ia langsung masuk kamar menghampiri ransel yang selalu setia menemani ayahnya. Tanpa ba bi bu, isi tas dibongkar. Satu buku cerita rakyat dan satu buku gambar ditariknya. Ia melonjak kegirangan. Mulai ia menyerecos tak tentu rudu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengemas bukunya, Vanessa langsung bermain. Ia kedatangan tamu. Cici, teman sebaya, anak tetangga sebelah. Keduanya masuk gudang. Mainan dalam keranjang dibongkar. Suara-suara tawa renyah menemani. Aku jadi iri melihat keceriaannya. Sejenak aku melamun, bayang masa lalu datang. Ingat ketika Emak dan Ayah masih ada. Sebelum keduanya berangkat menuju dimensi lain. Dimensi yang pada suatu hari nanti, semua orang akan menghadapinya. Saat Vanessa bermain, Pedagi hanya melangkah satu dua. Lelaki satu tahun itu menuju ayunan. Bahasa tubuhnya, ia mengatakan, ingin tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah bermain, Vanessa menghampiriku. “Yah, susu,” katanya. Aku terbaring seraya menonton televisi langsung beranjak. “Terima kasih,” sahut Vanessa saat kusodorkan botol susu kepadanya. Ia pun mengambil guling kemudian berbaring sambil menonton teve. Setengah jam, susunya ludes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ia merengek, agar mengambil buku gambarnya. Kendati malas, aku tetap saja menuruti kemauannya. Buku gambar dan pensil, juga crayon sudah ditangannya. Ia pun mulai mencoret. Dua gunung dengan matahari mengintip dari salah satu sudutnya. Di bawah gunung satu rumah dengan jalan berkerikil. Tak ada sawah di lereng gunung itu. Ah, satu coretan yang sarat makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hari-hari Vanessa…..(*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4474514172654273866?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4474514172654273866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/coretan-vanessa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4474514172654273866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4474514172654273866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/coretan-vanessa.html' title='Coretan Vanessa'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8381939498140123537</id><published>2012-01-28T08:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T08:36:53.395-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Berbagi Kegelisahan</title><content type='html'>Aku berangkat membawa kegelisahan. Bersama hujan yang tak jeda sejak sore hingga hari menjelang pagi. Mungkin hujan tahu kalau hati lelaki senja itu sedang galau. Ribuan kedip tak berjeda membuncah dalam setiap pori-pori jiwa. Saat hujan mulai jenak, galau tak jua beranjak. Hanya satu keyakinan, selalu ada jalan untuk keluar. Dan, suatu hari nanti, kita bisa berucap selamat tinggal galau. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa sepenuhnya melawan kegelisahan. Sebab kegelisahan menunjukkan betapa tidak sempurnanya hidup. Kegelisahan juga menunjukkan kalau kebahagiaan sejatinya tak singgah. Ia hanya lewat sejenak. Menoleh, namun enggan singgah. Senyum pun payah. Mungkin kebahagiaan sedang bad mood. Walau begitu, aku masih berharap ia mau singgah, walau hanya sejenak. Tentu dengan senyum yang tak dipaksakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan mulai berjeda. Satu harap terserap. Bahagia harusnya segera menghadap, agar jiwa yang dipenuhi kegelisahan bisa berubah menjadi kegembiraan. Ceria akan membawa cerita indah. Karena kegelisahan menjadi catatan yang tak mencerdaskan. Aku rindu semua hasrat yang belum terjawab. Aku ingin berbagi cerita kala bersua. Sebab banyak hal yang tak bisa diceritakan kalau kita tidak bersua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memang mengharap kebaikan pada hidup. Manusia mencoba untuk meraih kebahagiaan yang tak memiliki fisik. Kebaikan dan kebahagiaan sebuah subjek dari perjalanan hidup seorang manusia. Banyak orang menjelajahi riwayat kehidupan yang berhari-hari, berminggu, berbulan, bertahun, hingga berabad-abad. Hanya sedikit yang benar-benar merasakan kebaikan dan kebahagiaan sebagai suatu kegembiraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih kecil, setiap hari kita diliputi kegembiraan. Senang dan ceria. Tak ada kesedihan. Walau orangtua bersedih, gelisah, kita tetap saja gembira. Kebahagiaan selalu datang setiap saat. Tak mengherankan bila banyak orang ingin kembali kepada masa kecil. Sebab segalanya berubah ketika sudah beranjak remaja, bahkan dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat remaja, omelan kerap diterima. Hampir tak ada yang baik, yang kita lakukan. Semua ada kurangnya. Marah dan ketidaksenangan kerap datang. Kadang kita tak sanggup menerimanya. Kadang cuek saja, sebab ketidaksempurnaan memang milik kita sebagai manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah….&lt;br /&gt;Sudahlah tidak perlu berdebat. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8381939498140123537?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8381939498140123537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/berbagi-kegelisahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8381939498140123537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8381939498140123537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/berbagi-kegelisahan.html' title='Berbagi Kegelisahan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5307192909455527315</id><published>2012-01-05T20:20:00.001-08:00</published><updated>2012-01-05T20:22:00.536-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Lelaki Penyadap</title><content type='html'>Pagi masih dini. Seorang lelaki menuruni lima anak tangga rumahnya. Sebilah parang tersalib di pinggangnya. Dua palong dipanggul. Lelaki itu berangkat menuju pohon enau yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dua langkahnya. Menerobos dedaunan yang masih dibasahi embun pagi. Tetesan embun membasah kaki. Lelaki itu tetap melangkah. Ia bergegas. Mentari mulai menapaki tangga langit. “Sudah pagi. Jangan sampai siang,” batin lelaki itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kini sudah tiada. Ia sudah berangkat ke dimensi lain pada 6 Januari 1999, tiga belas tahun lalu. Namun roh lelaki itu tetap mengalir pada orang-orang yang ditinggalkannya. Walau tak ada kisah heroiknya seperti ode seorang pahlawan yang menerima anugerah dari negara. Bagi lelaki penyadap, anugerah itu bukan sesuatu banget. Baginya, kisah heroik terpenting adalah mendidik dan membesarkan anak-anaknya dalam buaian adat istiadat leluhurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir hayatnya, lelaki penyadap itu tetap setia pada kaulnya. Menyadap hingga lanjut usia. Tak ada purnabakti. Baginya sepanjang masih bisa memanjat pohon aren dan mayang, menyadap harus dilakoni. Sebab ada ritual cinta yang dirawatnya hingga mayang-mayang itu tetap mengurai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pagi yang tak ceria bagi lelaki itu. Pagi selalu memberinya semangat. Semangat untuk menyadap. Mengganti palong yang sudah semalaman bergantung di pelepah mayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nira dalam palong sudah berbisik, “segera jadikan aku gula merah yang menggoda rasa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap pohon, lelaki penyadap mengeluarkan nyanyian tanpa lirik. Pada setiap pelepah, lelaki penyadap bersenandung tanpa harmoni nada. Suara yang keluar dari kerongkongannya lebih mirip lolongan yang menyayat. “Ini bermakna memanggil air aren agar lebih banyak menetes hingga palong-palongnya penuh.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai bernyanyi, lelaki penyadap menuruni tapak-tapak tangga kayu yang terikat akar pada batang enau. Ia beralih pada sadapan lainnya. Kembali tapak-tapak tangga dinaiki. Kembali ia bersenandung bahasa-bahasa yang tak bisa dimengerti. Usai itu, kembali ia menuruni anak-anak tangga. Ia lakoni rutinitas itu dengan cinta hingga sepuluh bahkan duapuluh batang aren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, lelaki penyadap pulang ke rumah. Tujuh anak dan satu istri menunggu di muka lawang. Senyum merekah dan teriak kegirangan anak-anak menyambutnya. Palong-palong dilepas dari panggulannya. Dalam kawah, nira-nira itu dituangkan. Api menyala membakar kayu-kayu. Panas mengalir dalam setiap sudut kawah hingga nira mendidih dan berubah warna menjadi merah tak menyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak menyusun cetakan bundar yang terbuat dari pelepah kayu. Cetakan itu untuk ukuran satu kilogram. Mereka menanti tuangan nira yang berubah menjadi gula pada setiap cetakan. Ada rasa senang dalam penantian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bagian dari anak-anak itu. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5307192909455527315?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5307192909455527315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/lelaki-penyadap.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5307192909455527315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5307192909455527315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2012/01/lelaki-penyadap.html' title='Lelaki Penyadap'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7258261957619081820</id><published>2011-11-30T19:03:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T19:05:20.196-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Sebuah Negeri: Makassar</title><content type='html'>Akhir November, saya berkunjung ke Makasar. Sebuah kota yang dulunya bernama Ujung Pandang, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Saya menghadiri kongres Aliansi Jurnalis Independen yang berlangsung sejak 1-3 Desember 2011, sebagai delegasi Pontianak. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perjalanan yang cukup melelahkan. Berangkat dari Pontianak pukul 12.30 menggunakan Garuda, tiba di Jakarta setelah satu jam lima belas menit berada di udara. Tiket berikutnya menuju Makassar menggunakan Lion Air. Beda maskapai, beda juga terminalnya di Bandara Soekarno Hatta. Garuda di terminal dua, sementara Lion berada di terminal satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pindah terminal, saya harus naik angkutan khusus bandara yang disediakan gratis. Perlu waktu tempuh lima belas menit agar bisa berpindah terminal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya banyak waktu untuk rehat di bandara sekadar menunggu jam terbang berikutnya. Tiket tertulis jadwal terbang pukul setengah lima. Sementara saya tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar dua setengah jam sebelumnya. Saya bisa keliling-keliling bandara hanya sekadar menikmati ulah para penunggu jam terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tunggu orang-orang begitu ramai. Ada yang tidur, memainkan telepon genggamnya, sebagian lagi bercanda dengan anak-anaknya. Saya ikut larut menikmati aktivitas di luar rutinitas rumahan itu. Saya teringat Pedagi dan Vanessa, yang selalu ceria saat berkumpul setiap sabtu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arloji digital di ruang tunggu mendekati jam terbang. Operator bilang kalau pesawat yang menuju Makassar sudah mendarat. Hanya saja, perlu waktu sekitar setengah jam untuk urusan teknis. Jadi penumpang diminta bersabar untuk menunggu waktu berkemas pesawat tersebut. Rentang waktu urusan teknis selesai, operator mengumumkan, kalau penumpang tujuan Makassar harus pindah ruang tunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tempuh dari Jakarta ke Makassar sekitar dua jam. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Makassar satu jam. Saya berangkat dari Jakarta pukul enam sore, itu berarti di Makassar sudah pukul tujuh malam. Dengan begitu, saya tiba di Makassar sekitar pukul Sembilan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandara Hasanuddin terang benderang. Kesibukan masih terjadi. Sopir taksi sibuk menawarkan jasa angkutan. Saya menolak karena sudah ada jemputan dari panitia kongres. Berkumpul dengan beberapa teman dari daerah lain, saya menunggu jemputan di basement bandara internasional itu. Saling sapa. Saling kenal sebagai sesama jurnalis yang akan bertemu dalam arena kongres kedelapan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bandara Hasanuddin, bus penjemput membawa kami ke lokasi kongres di Hotel Aryaduta. Registrasi dan mendapatkan beberapa materi untuk kepentingan kongres pada esok harinya. Waktu di Makassar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah tengah malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah mendera. Tubuh mesti rehat agar raga bisa prima esok hari. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7258261957619081820?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7258261957619081820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/11/sebuah-negeri-makassar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7258261957619081820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7258261957619081820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/11/sebuah-negeri-makassar.html' title='Sebuah Negeri: Makassar'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6922881819954724376</id><published>2011-09-20T11:39:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T11:40:04.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kamu Bisa Saja</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; nak &lt;br /&gt;kamu bisa saja mengambil bulan&lt;br /&gt;dengan mata, hati, dan pikiranmu&lt;br /&gt;tetapi, jangan seperti pungguk&lt;br /&gt;yang tersedu kala malam tiba&lt;br /&gt;bila merindu pada bulan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nak&lt;br /&gt;kamu bisa saja seperti bintang &lt;br /&gt;yang tak jenuh berkedip&lt;br /&gt;menemani bulan mengarungi malam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nak&lt;br /&gt;kamu bisa saja seperti kunang-kunang &lt;br /&gt;yang bersinar kala malam tiba&lt;br /&gt;penunjuk jalan bagi yang tersesat&lt;br /&gt;karena &lt;br /&gt;hanya kunang-kunang bintang terdekat&lt;br /&gt;yang bisa kau raih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kau bisa saja meraih bulan&lt;br /&gt;dengan cita yang kau sandarkan pada bintang&lt;br /&gt;dengan kedip yang kau titipkan pada kunang-kunang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6922881819954724376?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6922881819954724376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/09/kamu-bisa-saja.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6922881819954724376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6922881819954724376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/09/kamu-bisa-saja.html' title='Kamu Bisa Saja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6275212210310457409</id><published>2011-09-20T11:23:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T11:26:20.006-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Malaikat Kecil dan Penjaga Istana Cinta</title><content type='html'>Sampai tengah malam, mataku belum bisa terlelap. Sambil mendengar satu lagu dari Wali Band, kurangkai barisan kata-kata ini. Aku teringat dua malaikat kecilku yang tak bisa kulihat kepulasan. Aku terbayang penjaga pintu istana cintaku yang lelah karena menjaga keriangan dan keceriaan dua malaikatnya. Aku rindu ketiganya. Aku ingin segera bertemu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku juga rindu Sabtu pagi. Hari yang kutunggu agar bisa bersua ketiganya. Pagi yang kunanti agar bisa kulihat ceria, juga keriangan dua malaikat kecilku. Senyum malu-malu Pedagi saat melihatku membuka pagar rumah yang tak begitu tinggi. Langkah terhuyungnya sambil menendang bola dengan kaki kirinya. Cekikikannya yang menggemaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi juga yang menjadi hari pengobat kerinduanku pada ketiganya. Teriakan Vanessa saat melihat aku duduk disadel sepeda motor kala menunggunya di halaman sekolah. Ocehannya yang tiada henti dalam perjalanan pulang ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab tanya yang tanpa henti dari bibir mungilnya. Cerita tentang sekolahnya. Cerita soal kesenangannya. Tentu tidak pernah melupakan keinginannya untuk melihat keriuhan pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sabtu pagi itu juga aku bersua penjaga kunci istana cinta. Perempuan yang tak lelah berjuang kebaikan. Perempuan tegar yang selalu direpotkan oleh keceriaan dan keriangan dua malaikat kecilnya. Perempuan yang selalu sabar menghadapi kenyataan hidup. Perempuan yang tetap senyum walau hidup yang dilakoni pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku banyak belajar hidup dari perempuan ini. Dan, sampai tengah malam ini, aku masih belajar darinya dalam menjalani hidup. Perempuan yang kukagumi setelah Emak, yang sudah berangkat ke dimensi lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam ini, aku malu pada diri. Lelaki yang tak bisa mengharubirukan ketiga kekasih zamanku: dua malaikat dan penjaga kunci istana cinta. Tak bisa mendekorasikan kebahagiaan pada wajah-wajah ketiganya. Lelaki yang tidak mampu melukiskan keindahan pada raut-raut yang terlelap dalam tidur malamnya. Lelaki yang tak bisa seperti kunang-kunang saat malam menjelang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setakat ini, aku menghatur maaf karena tak bisa menghadirkan bintang di langit-langit rumah cinta. Tetapi aku akan berusaha menjadi bintang sekaligus kunang-kunang yang tak berhenti berkedip. Sama seperti dua malaikat kecil penghias istana cinta yang juga tak menghentikan keceriaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga selesai satu lagi Wali Band yang bertajuk, baik-baik sayang, aku belum juga terlelap. Mungkin aku harus mendengarnya hingga tiga kali, barulah bisa terlelap. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6275212210310457409?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6275212210310457409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/09/malaikat-kecil-dan-penjaga-istana-cinta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6275212210310457409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6275212210310457409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/09/malaikat-kecil-dan-penjaga-istana-cinta.html' title='Malaikat Kecil dan Penjaga Istana Cinta'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5417150438658721210</id><published>2011-08-16T21:47:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T21:48:24.965-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Surat Hari Merdeka</title><content type='html'>aku ingin mengajakmu bersenda di taman dekat tepian kapuas&lt;br /&gt;menikmati seiris kemerdekaan ini &lt;br /&gt;yang hanya milik kaum borjuis dan kapitalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita proletar, istriku&lt;br /&gt;kaum sudra yang hanya merajut impian&lt;br /&gt;merdeka bukan milik kita&lt;br /&gt;merdeka hanya mitos yang kita dengar ketika sekolah dulu&lt;br /&gt;ketika kita mengejar angka-angka agar rapor tak merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita jongos, istriku&lt;br /&gt;orang kampung yang ngos-ngosan mengais rezeki&lt;br /&gt;merdeka hanya singgah sebentar&lt;br /&gt;itupun kala kita terlelap di alam mimpi&lt;br /&gt;kala semesta bernyanyi kidung malam kudus&lt;br /&gt;kala terjaga mitos itu pergi tanpa permisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena itu, sekali lagi aku ingin mengajakmu ke tepian kapuas&lt;br /&gt;menikmati seiris kemerdekaan yang kita raih&lt;br /&gt;bersama dua malaikat kecil yang tak jengah tersenyum &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5417150438658721210?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5417150438658721210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/08/surat-hari-merdeka.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5417150438658721210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5417150438658721210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/08/surat-hari-merdeka.html' title='Surat Hari Merdeka'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6550263786221918059</id><published>2011-08-12T06:39:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T06:41:06.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Senggang Enggang</title><content type='html'>enggang yang malang &lt;br /&gt;di rimbamu yang tak lagi hijau aku teringat&lt;br /&gt;pohon-pohon rebah memeluk bumi bukan karena lamur&lt;br /&gt;tanah-tanah merekah menjadi kawah bukan karena kemarau&lt;br /&gt;para pemuja uang berlomba menggendong gergaji besi&lt;br /&gt;menabur kebencian pada rimba yang perkasa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suaramu sudah serak hingga tak sanggup lagi berteriak&lt;br /&gt;bahkan kedip mata, kepak sayapmu pun tak lagi bersuara &lt;br /&gt;dalam senggangmu &lt;br /&gt;paruh yang kau banggakan tak mampu lagi mendongak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rimbamu yang perkasa sudah berlalu dengan lunglai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingatkah kau pada: &lt;br /&gt;derap langkah pemburu yang takut memasuki belantaramu&lt;br /&gt;sesak napas petani yang terengah-engah mendaki gunungmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan, kau yang pernah mengurai air mata &lt;br /&gt;karena takdirmu bermain mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepakmu tak lebar&lt;br /&gt;paruhmu pendek&lt;br /&gt;terbangmu merendah&lt;br /&gt;tapi matamu merupa kesedihan&lt;br /&gt;nyanyianmu bernada requiem&lt;br /&gt;tanpa sumpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rehatlah sejenak Enggangku&lt;br /&gt;nikmatilah rimbamu yang tak perkasa lagi&lt;br /&gt;tak ada yang bisa kau harap&lt;br /&gt;karena manusia terlalu serakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pohon tempatmu bertengger &lt;br /&gt;dibabat untuk memuja uang&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6550263786221918059?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6550263786221918059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/08/senggang-enggang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6550263786221918059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6550263786221918059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/08/senggang-enggang.html' title='Senggang Enggang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-403930741886744161</id><published>2011-07-26T08:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T08:24:13.923-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LieBoEr'/><title type='text'>Bertemu Pak Beje</title><content type='html'>Suryanto begitu semangat berbicara di depan audiensnya. Dibantu cahaya lampu pijar, ia menjelaskan peta kampung yang disusun bersama tim Kalimantan Forests and Climate Partnership. Suryanto sangat paham materi yang disampaikan malam itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryanto memegang jabatan Sekretaris Dusun Tumbang Mangkutub, Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Malam itu, ditemani kepala dusun, juga sejumlah aparatur desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, para juruwarta, juga peneliti kehutanan mengikuti alur penjelasan Suryanto. Lelaki berambut ikal ini sangat detil menjelaskan setiap titik peta dusun yang dibawanya. Suaranya menggelegak kala menyebut beberapa titik pada peta itu. Termasuk lokasi-lokasi yang jadi pilot projectnya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryanto juga menceritakan bagaimana masyarakat mengubah prilaku, yang dulunya kerap menjadi penebang kayu, sekarang lebih suka menanam karet. Sebab kayu sudah habis dan seringnya penangkapan oleh aparat berwenang. Hal ini membuat masyarakat jera dan memilih usaha lain, seperti karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, orang-orang Tumbang Mangkutub mulai membuat beje. Suryanto juga begitu. Ia membangun beje di beberapa lokasi. “Saya punya sepuluh beje. Jika panen bisa capai 120 ton,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beje dibangun berbentuk persegi panjang yang kedua ujungnya buntu. Beje dibangun di areal gambut sebagai cadangan air. Lebarnya hanya satu meter, sedangkan panjangnya bervariatif, semampu yang membuatnya. Beje akan terisi air jika pasang sungai tiba. Setelah surut, beje akan menyimpan air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air pasang yang masuk akan membawa bibit-bibit ikan, bahkan ikan-ikan yang sudah besar. Dalam jangka waktu tertentu, ikan-ikan itu bisa dipanen. “Kami tak perlu membeli bibit, juga tak perlu memberinya makan. Tiba waktunya panen, kami akan panen. Hasilnya cukup menjanjikan,” kata Suryanto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menjelaskan beragam perubahan di kampungnya, Suryanto memberikan ruang kepada audiens untuk bertanya. Para juruwarta pun langsung mengajukan beragam pertanyaan. Semua pertanyaan dijawab lugas oleh Suryanto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terbanyak terkait soal beje, tatas, juga penabatan. Tak mengherankan,  jika ada peserta yang kemudian menyebut Suryanto sebagai Pak Beje karena rasa keingintahuan soal beje yang begitu besar. Hasilnya sebutan itu mengundang tawa audiens yang mayoritas para pewarta tersebut. Bukan hanya pewarta, Suryanto juga senyum-senyum mendengar sebutan yang belum pernah didengar sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Pak Beje, kemudian mengalir bak air Sungai Kapuas di Dusun Tumbang Mangkutub. Nyaris setiap kesempatan, nama Pak Beje selalu disebut. Bahkan, hingga field trip berakhir. Ah, kami benar-benar sudah bertemu Pak Beje. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-403930741886744161?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/403930741886744161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/bertemu-pak-beje.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/403930741886744161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/403930741886744161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/bertemu-pak-beje.html' title='Bertemu Pak Beje'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5365594237076074577</id><published>2011-07-25T20:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T20:44:00.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Aku Enggang</title><content type='html'>aku enggang&lt;br /&gt;rindu sarang &lt;br /&gt;rindu pulang &lt;br /&gt;hutanku&lt;br /&gt;hanya kenangan &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;aku enggang&lt;br /&gt;ingin bernyanyi&lt;br /&gt;kidung alam &lt;br /&gt;sisa parau suara &lt;br /&gt;usai bertariu&lt;br /&gt;di rimba purna hijau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku enggang &lt;br /&gt;suaraku hanya dongeng&lt;br /&gt;pengantar tidur&lt;br /&gt;anak-anak zaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku enggang &lt;br /&gt;kepakku kosong &lt;br /&gt;di rimba tak bernyawa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku enggang &lt;br /&gt;merana di rimba manusia &lt;br /&gt;menangis tak berjeda&lt;br /&gt;meraung tak berehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku enggang&lt;br /&gt;ingin pulang &lt;br /&gt;ke rimba belantara&lt;br /&gt;tempat bersua&lt;br /&gt;sesama jiwa&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5365594237076074577?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5365594237076074577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/aku-enggang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5365594237076074577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5365594237076074577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/aku-enggang.html' title='Aku Enggang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3336068037069865858</id><published>2011-07-25T05:29:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T05:33:58.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='h'/><title type='text'>Buaian REDD di Tanah Tjilik Riwut</title><content type='html'>Australia menggelontorkan dana sekitar AUD30 juta dolar untuk membantu Indonesia dalam pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Kalimantan Tengah menjadi salah satu provinsi yang ditunjuk sebagai wilayah percontohan program REDD tersebut. Seperti apa proyek ujicoba itu sekarang setelah berjalan tiga tahun? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan menyambut kami saat tiba di Mandomai pada pukul tiga, Sabtu sore. Di bibir dermaga kayu, dua speedboat berkekuatan 200 tenaga kuda sudah menunggu. Dua kendaraan sungai itulah yang akan membawa kami ke Dusun Mangkutub di Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas. Perjalanan akan ditempuh sekitar tiga sampai empat jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami rehat sejenak sekadar meluruskan pinggang setelah dua jam duduk di mobil dalam perjalanan dari Palangka Raya. Waktu rehat kami manfaatkan untuk menjepret Gereja Immanuel yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya, juga jembatan kayu yang memotong anak sungai Kapuas, yang panjangnya diperkirakan 20 meter. Jembatan kayu yang baru selesai dibangun itu karya swadaya masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan jeda saat kami mulai menaiki speedboat. Matahari sudah tak sanggup lagi menerangi sungai yang airnya berwarna kuning kecoklatan. Jurumudi memacu speedboat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Bersengkulas (ikat kepala) dari syal, Robby sesekali memencet telepon genggamnya. Berbahasa Dayak Ngaju, dia menanyakan jurumudi lainnya. “Speedboat yang satu agak bermasalah,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua speedboat itu membawa juruwarta yang mengikuti program pelatihan jurnalistik lingkungan yang difasilitasi Center for International Forestry Research. Selama tiga hari, para juruwarta itu akan melihat langsung pelaksanaan program ujicoba REDD di Dusun Tumbang Mangkutub dan Desa Petak Puti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul lima sore, kami tiba di Desa Sei Ahas, masih dalam wilayah Kecamatan Mantangai. Sekali lagi, kami disambut hujan. Tak ada penerangan yang memadai karena desa itu belum teraliri listrik negara. Rumah-rumah hanya menggunakan generator set saja. Di rumah kepala desa sudah berkumpul beberapa warga. Sesungging senyum saat mereka berjabat tangan. Walau hujan, mereka semangat menyambut temuai yang datang dari jauh. Bagi orang desa, temuai datang itu satu kehormatan. Kami dipersilakan masuk ke rumah kepala desa yang sebagian ruangannya disulap menjadi warung kebutuhan bahan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah itu, kami berdialog bersama perangkat desa terkait program REDD. Suka dibantu perangkat desa lainnya memaparkan pelaksanaan program ujicoba itu yang mulai masuk pada 2009. Sosialisasi dilaksanakan oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalimantan Forests and Climate Partnership&lt;/span&gt; dengan membuat perjanjian desa hingga menyusun rencana pembangunan jangka menengah desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami menyambut baik program ini. Jika untuk kesejahteraan masyarakat, kenapa harus ditolak,” kata Suka, kepala Desa Sei Ahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husaini dari Care International, yang ditemui di rumah Kepala Desa Sei Ahas, menilai kegiatan yang mengarah pada REDD itu belum dimulai. Namun upaya melibatkan masyarakat dalam program ini sudah berjalan. “Hanya belum bisa seratus persen,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi bersama masyarakat Desa Sei Ahas harus berakhir. Kami mesti melanjutkan perjalanan mengarungi sungai Kapuas menuju Dusun Mangkutub. Menurut Robby, jurumudi speedboat, waktu tempuh normal diperkirakan memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan belum juga jeda saat kami berangkat. Deru speedboat, angin, dan hujan berpadu. Dingin dan kebisingan menyeruak. Sebagian melipat tangan di dada menahan dingin. Sebagian lagi menyelimuti tubuh dengan handuk atau jaket menghalau angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tujuh malam, kami tiba di Mangkutub. Seorang perempuan menyambut kami di lanting kayu. Hujan tetap setia menyambut kehadiran orang-orang yang diselimuti kelelahan. Kami dipersilakan masuk ke rumah tetua dusun. Adat tampung tawar digelar sebagai tanda selamat datang dan perlindungan bagi temuai yang hadir di dusun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adat orang sini (Dayak Ngaju). Setiap tamu yang datang harus diberi tampung tawar, agar ada keselamatan baginya juga bagi kampung ini,” kata Suryanto, sekretaris Dusun Mangkutub, malam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mangkutub, proses pelibatan masyarakat dalam pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan didampingi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalimantan Forests and Climate Partnership&lt;/span&gt; atau Kemitraan Hutan dan Iklim Kalimantan. Program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Australia ini dimulai tahun 2009. Mangkutub termasuk wilayah kerja KFCP yang ditetapkan seluas 120 ribu hektar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryanto, sekretaris Dusun Mangkutub juga mengakui jika proses sosialisasi terhadap program ini telah berjalan. Beberapa masyarakat yang dijumpai menaruh harapan besar terhadap program ini. Mereka terbuai dan percaya KFCP tidak akan menghianatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami percaya saja. Tapi kami tidak ingin tanah kami kemudian beralih kepemilikan. Apalagi ada perjanjian desa. Kami berharap tidak ada yang melanggar perjanjian itu. Salah satunya tidak mengambil lahan kami,” kata Suryanto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mangkutub, kami melihat aktivitas masyarakat memanfaatkan areal gambut. Masyarakat membuat kolam berbentuk persegi panjang selebar satu meter yang kedua ujungnya buntu. Kolam ini kemudian disebut beje. Jika musim pasang tiba, kolam ini akan menampung air dan tergenang hingga surut datang. Beje ini kemudian akan menjadi tempat hidupnya ikan-ikan, seperti gabus dan sepat. Pemilik beje kemudian membuat alat tangkap berbentuk segiempat yang terbuat dari bambu. Alat tangkap itu ditenggelamkan dalam beje. Saat panen, alat tangkap diangkat, ikan-ikan akan terperangkap di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu fungsi beje yang dibuat warga. Ada fungsi lainnya, yakni sebagai cadangan air jika terjadi kekeringan pada areal gambut tersebut. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan air untuk memadamkannya. “Dulu kami tidak peduli soal ini. Sekarang, beje ini mengubah cara berpikir kami, tidak semata untuk mencari ikan. Lebih dari itu, beje berfungsi sebagai cadangan air jika lahan gambut terbakar,” kata Suryanto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beje, kami juga diberi kesempatan melihat blocking kanal, yang dibuat untuk mencegah drainase berlebihan dari lahan gambut. Blocking kanal ini dibuat memotong jalur air (tatas). Kayu-kayu berdiameter 30 cm ditancapkan berbaris sepanjang lebar jalur air tersebut. Lebar blocking kanal ini bervariasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lokasi yang kami kunjungi lebarnya sekitar 70 centimeter dengan panjang sekitar 1,70 meter. Air kemudian tertahan akan mengalir melalui atas blok kanal dengan volume yang lebih kecil. Hal ini untuk memperlambat kekeringan di wilayah gambut yang rentan terbakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Mangkutub, lain pula Petak Puti. Desa di Kecamatan Timpah ini masih memerlukan pemahaman mendalam terkait program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan tersebut. Dari dialog singkat tergambar bahwa masyarakat belum paham REDD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“REDD itu supaya kita mengurangi racun,” kata Yanto, salah seorang warga yang hadir dalam dialog singkat malam itu. Namun Yanto memiliki harapan dari program ini. “Saya berharap bisa mengecap hasil kerja yang dilakukan dan dibangun lembaga permanen untuk menjaga hutan tetap lestari,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu REDD+?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REDD itu singkatan dari reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries atau pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dan penambahan cadangan karbon hutan di negara berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai catatan menyebutkan, laju deforestasi hutan di Indonesia sekitar 13 juta hektar setiap tahunnya. Angka ini menyumbang sekitar 18 persen terhadap emisi gas rumah kaca. Sebagian besar dihasilkan oleh negara berkembang. Ini mekanisme yang diajukan bertujuan memperlambat perubahan iklim dengan membayar sejumlah negara berkembang agar menghentikan aktivitas penebangan hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia termasuk negara berkembang yang berkomitmen menurunkan emisi sebesar 26-41 persen yang didaftarkan secara resmi di the United Nations Framework Convention on Climate Change  (UNFCCC) sebagai Voluntary Emission Reduction pada 31 Jan 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 13 Juni 2008, pemerintah Indonesia dan Australia sepakat menandatangani kerjasama membuat proyek percontohan pengurangan emisi tersebut. Pemerintah Australia memberikan bantuan dana sebesar AUD 30 juta. Sebuah kesepakatan yang dibentuk pasca COP 13 UNFCCC (United nations Framework Convention on Climate Change) di Bali pada tahun 2007 yaitu untuk melakukan REDD demonstration activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kemudian menetapkan 120 ribu hektar areal eks PLG di Kalimantan Tengah sebagai wilayah kerja proyek REDD tersebut. Kalimantan Forests and Climate Partnership ditunjuk untuk melaksanakan program ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, KFCP sudah melakukan sosialisasi di beberapa tempat yang menjadi wilayah kerjanya, seperti Dusun Tumbang Mangkutub dan Desa Petak Puti. Mereka telah mendampingi masyarakat termasuk dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah desa. “Ini bentuk pelibatan nyata kepada masyarakat,” kata Kanisius, kepala Urusan Pemerintahan Desa Katujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, program-program yang disampaikan KFCP terkait proyek REDD ini cukup menyenangkan. Sebab masyarakat diajak terlibat langsung, seperti adanya sekolah lapang, penabatan, pembangunan beje. Apalagi sedang digodok perjanjian desa yang akan dipegang teguh antara masyarakat dengan KFCP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada beberapa hal yang cukup mengganggu masyarakat, di antaranya, kepemilikan lahan yang belum terjamin. Apalagi areal 120 ribu hektar itu bekas megaproyek Pembangkit Listrik Gambut yang gagal era Soeharto berkuasa. Status lahan seluas 1,4 juta hektar itu belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan wilayah provinsi Kalteng. Belum lagi, batas antarkabupaten yang juga belum terselesaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi kegiatan KFCP terletak di Kabupaten Kapuas pada dua kecamatan yakni Mantangai dan Timpah, yang meliputi tujuh desa yakni Mantangai Hulu, Kalumpang, Katimbun, Sungai Ahas, Katunjung, Tumbang Muroi, dan Petak Puti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan penanaman sudah dilakukan sejak Desember 2010 di Desa Mantangai Hulu seluas 25 hektar dan Desa Katunjung seluas 25 hektar, dengan jumlah bibit sebanyak 1.112 pohon per hektar, atau total bibit 55.600 batang yang melibatkan 100 orang. Tahun 2011 direncanakan akan melakukan penanaman seribu hektar dengan total kebutuhan bibit 1.223.200 pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah masyarakat pada wilayah kerja KFCP yang kami kunjungi menyambut baik program ini. Mereka berharap program ini benar-benar tidak meninabobokan, hanya manis di awal, tapi pahit pada babak akhir. Masyarakat juga berharap ada dukungan agar areal yang menjadi wilayah kerja KFCP bisa diterbitkan sertifikasi oleh lembaga berwenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, REDD telah membuai orang-orang di tanah Tjilik Riwut. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3336068037069865858?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3336068037069865858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/buaian-redd-di-tanah-tjilik-riwut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3336068037069865858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3336068037069865858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/buaian-redd-di-tanah-tjilik-riwut.html' title='Buaian REDD di Tanah Tjilik Riwut'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2420858829958601489</id><published>2011-07-15T08:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T08:09:02.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Telat Terbang</title><content type='html'>Satu siang di Bandara Soekarno Hatta. Waktu berjalan sesuai jalurnya. Orang-orang hilir mudik mengikuti irama kakinya. Penumpang, petugas hingga penyedia jasa tiket, juga porter memainkan perannya masing-masing. Suhu udara mungkin berada di atas 30 derajat celcius. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gate 7, orang-orang menunggu jadwal keberangkatan. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kursi ruang tunggu terisi. Saling bicara satu sama lain. Sebagian lagi berdiam diri. Lainnya ngedumel karena jadwal pesawat tak ditepati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket yang kugenggam tertulis keberangkatan akan dilakukan pada pukul 12.10. Masih ada waktu sedikit untuk berleha-leha. Di ruang tunggu, tak ada lagi kursi kosong. Ramai sekali orang bepergian hari ini. Kupilih menunggu di luar ruang tunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hiburan di selasar. Hanya hilir mudik orang-orang yang menunggu jam berangkat. Anak-anak yang berlarian, yang merepotkan ibu atau inangnya juga jadi hiburan menunggu jam terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam sebelum jadwal berangkat, operator gate bilang pesawat yang saya tumpangi akan mengalami penundaan. Dipekirakan pesawat tiba di Soekarno - Hatta pada pukul tiga sore. Sebab harus menunggu pesawat dari Pekanbaru. Orang-orang tak bisa melawan kekuasaan pesawat. Semuanya hanya bisa menunggu. Paling-paling hanya bilang, "selalu saja delay." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih keluar gate dulu untuk sekadar menikmati suasana lain, juga memerangi jenuh karena menunggu cukup lama. Sekalian juga menikmati santap siang. Biar kremi dalam perut bisa tenang. Sebab sejak tadi sudah berontak minta kiriman makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, kembali lagi di ruang tunggu. Belum ada tanda-tanda pesawat akan tiba dari Pekanbaru. Waktu sudah pukul dua siang. Satu jam lagi, mungkin pesawatnya tiba. Sebagian dari penunggu pesawat sudah hilang. Mereka sudah berangkat. Ada yang ke Medan, Tanjung Pandan, juga tempat-tempat lainnya. Tetapi ada juga orang-orang yang sama, yang kulihat tiga jam lalu. "Mungkin mereka juga akan ke Palangkaraya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tiga, operator bilang pesawat baru saja mendarat. Wajah-wajah penumpang mulai berbinar. Sebentar lagi akan say goodbye pada gate tujuh yang sudah lama jadi tempat menunggu. Namun, lima belas menit berikutnya, operator kembali bilang pesawat akan delay lagi. Mereka menerima informasi dari teknisi kalau pesawat sedang dalam persiapan. Penumpang harus menunggu paling tidak 30 - 45 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasar gate tujuh mendadak bak pasar tumpah. Orang-orang mengaso di lantai sambil meluruskan kaki dan badan. Sebagian menambah charge telepon genggamnya. Bagian lain mengobrol dengan teman sepenumpang. Ada juga penumpang yang memilih tidur. Ngantuk memang kerap menyerang orang-orang yang menunggu terlalu lama. Tak ada lagi tempat bersandar yang kosong. Semua sudah berisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungkusan putih teronggok di samping para penumpang. Mereka mendapat ransum dari maskapai sebagai konsekwensi keterlambatan terbang. Ada juga kantong roti dan botol mineral. Itu semua disediakan maskapai sebagai tanggungjawab. Kendati sudah tertunda hampir lima jam, penumpang tetap sabar menunggu jam terbang. Sebab tak ada jalan lain yang bisa mempercepat datang di Palangkaraya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah menunggu akhirnya jeda. Operator umumkan penumpang dengan tujuan Palangkaraya dipersilakan masuk ke pesawat. Waktu sudah pukul 16.30. Wajah-wajah penumpang yang tadi kusut, kini bisa bergembira. Akhirnya waktu terbang tiba. Tapi tidak masuk lewat gate tujuh. Gate dipindahkan ke gate lima. Meski telat, terbang tetap saja menyenangkan. Akhirnya, penumpang tujuan Palangkaraya ucapkan say good bye pada ruang sekaligus kursi tunggu, juga selasar yang menghubungkan gate tujuh dan gate lima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tujuh malam, pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Tjilik Riwut. Lampu-lampu bandara menjadi oase yang menyambut. Mereka bak parade gadis-gadis dengan kalung bunga hati menanti tetamu yang berkunjung ke ibu kota Kalimantan Tengah itu. “Selamat datang di Palangkaraya, kota pasir,”kata seorang kawan. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2420858829958601489?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2420858829958601489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/telat-terbang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2420858829958601489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2420858829958601489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/telat-terbang.html' title='Telat Terbang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7538895097096099135</id><published>2011-07-04T08:51:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T08:52:44.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Surat Buat Pedagi</title><content type='html'>pada sebuah kamar berselaput tulus aku mendengar tangisanmu merupa harmoni nada di antara jelaga cinta dua anak manusia. langit dipenuhi gemintang dengan kedipan sempurna. bulan juga menampilkan nur yang kumohon agar tangisan pertamamu kian paripurna. aku ingin segera bertemu kamu, Pedagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dekat taman tak jauh dari tepian kapuas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin memandikanmu, pedagi. agar aku bisa mencium harummu yang menyeruak di antara apek dan amis perilaku anak negeri. seperti kapuas yang coklat dan susut karena pohon dijarah perompak negeri sendiri. aku ingin memandikanmu, Pedagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dekat taman tak jauh dari tepian kapuas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu, apa artinya hidup menurutmu? bukankah ia sudah hilang keindahan karena polah para pembual yang mengaku suci di hadapan pemilik hidup itu sendiri. bayangkan, ruang menyendiri lantaran anak manusia tak sudi lagi menemaninya karena gerah oleh bualan para durjana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manakala gemintang juni menghiasi langit, ia tak hanya menjadikan hidupmu paripurna, ia juga mengingatkanmu agar menjalani hidup tanpa lelah, seperti ia sendiri yang tak lelah berkedip. dan sekali lagi, aku ingin menemuimu, Pedagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dekat taman tak jauh dari tepian kapuas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(by: budi miank)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7538895097096099135?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7538895097096099135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/surat-buat-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7538895097096099135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7538895097096099135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/07/surat-buat-pedagi.html' title='Surat Buat Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2435393252575398948</id><published>2011-06-10T08:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-10T08:55:35.899-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Anakku</title><content type='html'>Anakku….&lt;br /&gt;Berlarilah bak anak kijang &lt;br /&gt;Jangan berhenti sebelum kakimu lelah &lt;br /&gt;Hingga kau terkulai lemah tak berdaya  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku….&lt;br /&gt;Bernyanyilah dengan harmoni yang indah &lt;br /&gt;Jangan berhenti sebelum lidahmu kelu&lt;br /&gt;Hingga kau tak bisa lagi mengetuk nurani &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku….&lt;br /&gt;Tersenyumlah kepada matahari pagi&lt;br /&gt;Karena pagi memberimu semangat&lt;br /&gt;Hingga suatu hari pagi tak sanggup lagi menyapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;Percayalah kepada senja&lt;br /&gt;Yang akan menghadirkan semburat  jingga&lt;br /&gt;Karena ada cinta yang tergurat di sana&lt;br /&gt;Bersama satu goresan di ufuk yang memerah &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 10 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2435393252575398948?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2435393252575398948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/anakku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2435393252575398948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2435393252575398948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/anakku.html' title='Anakku'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2596586275872398825</id><published>2011-06-09T08:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-09T08:27:39.831-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Langkah Pedagi</title><content type='html'>Senja baru saja datang. Tak ada semburat jingga di ufuk barat. Gerimis  melarang senja mengeluarkan semburatnya. Di bawah kaki Poteng, hujan yang datang bersama angin melahirkan dingin. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekikikan Pedagi bersaing bersama derasnya hujan. Teriakan Vanessa ikut menambah keriuhan di rumah berdinding papan beratap rumbia itu. Dengkuran si bleki ikut nimbrung, hingga gaduh ruang cerita kami. Ah, semua itu melahirkan keceriaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan ini Aku bertemu Pedagi dan Vanessa. Tak ada yang berubah. Mereka masih seperti yang dulu. Masih tetap ceria. Tetap tersenyum kepada pagi dan hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagi mulai melangkah satu dua, lalu jatuh, dan bangun lagi, kemudian berjalan lagi. Begitu terus hingga ia merasa letih. Vanessa tak henti memberi semangat sambil berteriak-teriak hingga urat lehernya timbul. Ah, hidup dua malaikat kecilku sungguh menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah berjalan Pedagiku. Nikmatilah setiap gerak kakimu. Jelajahi indahnya kehidupan ini. Gapailah apa yang seharusnya kau gapai. Raihlah apa yang layak kau raih. Jangan kau lepas jika sudah dapat. Pegangalah sampai hari tak lagi mengizinmu menggenggamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah berteriak Vanessaku. Semangatilah adikmu, Pedagi agar kau ada teman merayakan kemenangannya. Bertepuklah Vanessa agar riuh ruang berdinding papan itu. Melompatlah dengan girang hingga tak ada ruang kosong yang terdiam. Aku dan ibumu tetap tersenyum. Aku dan ibumu tetap tertawa menikmati kegirangan kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah bosan melangkahkan kaki-kaki mungilmu Pedagiku. Jangan pernah bosan meneriakkan suara-suaramu dengan harmoni tanpa nada itu Vanessaku. Teruslah berjuang malaikat kecilku. Lihatlah cahaya kecil di ujung jalan itu. Jaga cahaya itu jangan sampai padam. Cahaya itulah yang akan menuntunmu hingga akhir usiamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja terus merapat. Hujan juga belum berhenti. Angin bertiup perlahan menggoyangkan ujung daun. Satu titik air jatuh membasahi rerumputan. Rumput mendongak, "terima kasih hujan. Tetesanmu menyegarkan. Kami akan terus menunggumu hingga kau bisa lagi menetes."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2596586275872398825?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2596586275872398825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/langkah-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2596586275872398825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2596586275872398825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/langkah-pedagi.html' title='Langkah Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8763328644431248160</id><published>2011-06-07T05:20:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T05:22:21.469-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>In Memoriam Emak (2)</title><content type='html'>CATATAN yang menggetarkan! Banyak orang menceritakan, kesadaran akan keberadaan sang Emak, sang Ibu, sang Bunda, kerap terlambat. Kerap baru disadari betapa mereka sungguh tak tergantikan, justru saat mereka telah berangkat ke alam sana. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya selang dua hari sebelum kepergian sang Emak dari rekan Budi Miank, kita juga sempat jumpa dengan Budi dan rekan lain, di sebuah warung kopi di sudut Kota Pontianak. Kita bicara soal blog dan website personal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi-lagi, bung Budi Miank berujar: saat ini, hanya ada dua tema yang sangat mendominasi tulisan pribadi di blog, yaitu si bungsu dan si Emak. Tentu saja saat bincang dan canda yang meriah itu, sama sekali tidak terlintas bahwa sang Emak akan segera berangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Budi Miank, sekali dan sekali lagi, doa kami yang tulus, untuk ketabahanmu dan keluarga. Sang Emak telah menuntaskan pengembaraannya di dunia fana. Dan aku sangat yakin, dia "berangkat" dengan banyak kebanggaan dan kebahagiaan. Satu putranya telah menjadi "orang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi di bidang jurnalistik memang masih aneh dan langka di "negeri" kami, Borneo Barat. Bung Miank menjadi satu dari sedikit orang yang masih setia dengan kaul ini. Saya amat yakin, susah payah sang Emak yang bagai "alarm" membangunkan si Budi kecil saat subuh harus berangkat menyadap karet, telah ikut menempa ketegaran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Emak mengajarkan Budi kecil menorehkan tajamnya pisau penyadap di batang-batang pohon karet, kini keterampilan itu telah merupa menjadi torehan berbagai catatan kehidupan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* Ditulis Severianus Endi, mantan wartawan dan blogger yang ditulisnya di sebuah milis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8763328644431248160?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8763328644431248160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/in-memoriam-emak-2.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8763328644431248160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8763328644431248160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/in-memoriam-emak-2.html' title='In Memoriam Emak (2)'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3944046937436442014</id><published>2011-06-07T01:28:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T01:29:36.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Bakti Terakhir</title><content type='html'>Tak ada bakti istimewa yang bisa kusajisembahkan kepada Emak, bahkan saat ia berangkat ke dimensi lain sekalipun. Memanggul peti yang di dalamnya Emak terbujur kaku hanya satu bakti sederhana. Memikul peti itu jadi bakti terakhirku.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tidak pernah menghitung berapa banyak baktinya kepada anak-anaknya. Emak juga tidak pernah meminta bakti balik. Emak hanya ingin anak-anaknya tidak seperti dia. Emak ingin anak-anaknya bersekolah supaya tidak bodoh. Sungguh bakti yang mulia dari seorang emak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengaku berbakti kepada Emak. Banyak yang bilang, "kalau bukan saya, Emak tidak seperti ini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bilang, "saya yang menjaga Emak. Saya yang mengurus emak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bakti itulah yang selalu kudengar usai melepas keberangkatan emak ke dimensi lain. Cerita bakti dari orang-orang yang menganggap dirinya paling berbakti kepada emak. Sementara mereka yang mendengar kisah bakti itu, adalah orang-orang yang dianggap paling tidak berbakti. Orang-orang yang yang dianggap telah kehilangan rasa bakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, banyak yang menganggap aku kehilangan bakti terhadap emak. Itu karena aku tak mengurus emak saat usianya sudah memasuki tangga senja. Sebagai si bungsu, yang selalu ditimang dan didongengi jika hendak tidur, orang-orang menganggap aku anak yang tidak bisa membalas bakti. Bahkan, lebih ekstrem, ada yang menganggap ketidakbaktian itu sebagai hal yang durhaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mendehem kala mereka berkisah soal bakti kepada emak. Aku tak akan bercerita apa-apa kepada mereka soal baktiku. Biarlah sejarah yang mencatatnya sendiri. Sebab bakti bukan untuk diumbar. Bakti itu datang dari hati. Bakti tidak dibuat untuk sebuah materi. Jika bakti untuk materi, celakalah mereka yang memberi bakti. Sebab bakti diberikan dalam diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu bakti sederhana yang patut kucatat. Bakti terakhir saat melepas keberangkatan emak. Aku hanya memanggul kerandanya. Hanya itu yang bisa aku berikan. Itulah bakti terakhir kepada emak. Semoga bakti itu menghapus anggapan kalau aku sudah hilang rasa bakti. Sehingga menghapus juga tudingan anak durhaka kepada emak. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3944046937436442014?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3944046937436442014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/bakti-terakhir.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3944046937436442014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3944046937436442014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/bakti-terakhir.html' title='Bakti Terakhir'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7086398587930590617</id><published>2011-06-07T01:12:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T01:15:38.165-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Menjaga Abu Emak</title><content type='html'>Saat nas ini ditulis, orang-orang di kampung sedang menjaga abu emak. Mereka berjaga-jaga di rumah, terutama malam hari. Itu dilakukan selama tujuh hari tujuh malam sejak peristiwa kematian. Nas ini ditulis ketika abu emak sudah memasuki hari keempat. Emak meninggal pada Kamis, 27 Mei 2011 sekitar pukul 19.30. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga abu adalah sebuah tradisi. Sebuah ritual adat berjaga-jaga di rumah keluarga orang yang meninggal. Bagi orang Angan, menjaga abu sangat penting agar arwah seseorang yang meninggal tidak merasa sendiri. Ia perlu ditemani dengan cara berjaga selama tujuh hari tujuh malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu orang yang meninggal, jasadnya tidak dikuburkan. Seseorang yang sudah meninggalkan ditempatkan pada sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantonkg&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pantonkg&lt;/span&gt; ini dibuat dari kulit kayu yang kemudian dikeringkan. Kulit kayu ini dibentuk semacam tabung memanjang dengan ketinggian antara tiga hingga empat meter. Jenazah orang yang sudah meninggalkan ditempatkan di dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantonkg&lt;/span&gt;, kemudian ditempatkan pada sebuah pohon kayu besar dengan ukuran sepelukan lima orang dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantonkg&lt;/span&gt; ini tidak bertahan lama karena adanya pembukaan ladang, sehingga kayu-kayu besar juga ikut ditebang. Selain itu, semakin sulitnya mencari kulit kayu yang pas untuk prosesi pemakaman tersebut. Tak hanya itu, adanya cerita orang, mungkin saja sebuah dongeng, yang dikejar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantonkg&lt;/span&gt;.  Cerita ini kemudian menjadi alasan orang Angan meninggalkan tradisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantonkg&lt;/span&gt;, dalam menguburkan jasad seseorang yang sudah meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Angan kemudian beralih dengan cara membakar. Mereka mengikuti ajaran Agama Hindu yang melaksanakan ngaben pada seseorang yang meninggal. Ada beberapa penduduk yang mengikuti ajaran itu. Ritual pembakaran mayat dilakukan pada sebuah perbukitan, yang letaknya sekitar lima ratus meter dari pusat kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara ngaben versi orang Angan itu dilakukan, sebagian abunya dibawa pulang menggunakan satu wadah. Nah, abu inilah yang kemudian dijaga selama tujuh hari tujuh malam, sebelum ditempatkan di wuwungan rumah.  Dalam menjaga itu, orang-orang kampung memainkan beragam permainan tradisional, di antaranya, kuda parang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi melakukan ritual ngaben ala Dayak Angan diberi nama Pulo Petinu, sebuah tempat melakukan pembakaran terhadap orang meninggal. Lokasi ini kemudian ditetapkan sebagai lokasi perkuburan massal orang-orang Katolik di Angan Tembawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modernisasi, ritual ngaben ala orang Angan ditinggalkan. Pemakaman terhadap orang meninggal berubah menjadi pola tanam. Pulo Petinu menjadi lokasi yang tepat untuk melakukan penanaman terhadap orang meninggal. Hingga kini, lokasi itu terus diisi. Termasuk Emak yang baru saja meninggal. Emak menjadi penghuni baru lokasi itu. Hari ini, sudah lima hari emak menghuni rumah barunya, sebuah rumah di kehidupan kekal. Emak sedang berjalan menuju rumah abadi. Tempat semua orang akan berkumpul bersama sanak keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola berjaga-jaga juga berubah. Orang-orang tidak sekadar berjaga-jaga menemani arwah yang baru saja meninggalkan rumah dalam dunia nyata. Orang-orang mengisi malam dengan beragam kegiatan, di antaranya, bermain domino, dadu, kolok, hingga kartu remi. Lebih banyak menggunakan uang. Arena jaga malam arwah berubah menjadi lokasi perjudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara esensi, ritual jaga abu itu berubah. Dulu, ketika zaman masih serbatradisional, orang-orang hanya berjaga-jaga tanpa disertai perjudian. Sekarang, orang-orang mengisi malam hingga tujuh hari melakukan beragam permainan judi. Dan, menjaga abu emak juga demikian adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada nas lain yang perlu dicatat dalam perjalanan pulang emak. Akan kutulis dan kurangkai menjadi satu kalimat, yang mudah-mudahan, indah sehingga bisa melahirkan inspirasi bagi semua orang. Semoga jemari ini masih sanggup merilis dan mengumpulkan kata-kata dan menjadikannya kalimat. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7086398587930590617?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7086398587930590617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/menjaga-abu-emak.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7086398587930590617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7086398587930590617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/menjaga-abu-emak.html' title='Menjaga Abu Emak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5395282105342941821</id><published>2011-06-06T03:28:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T03:30:17.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>In Memoriam Emak</title><content type='html'>Pagi ini bukan pagi yang bahagia untuk Penoreh Karet, juga untuk saya. Kabar itu juga itu meretas melalui email ke pada saya di Pontianak. Kabar Emak yang telah berpulang. Saya telpon Budi Miank, HP-nya tak aktif lagi. Dia pastis udah melesat ke kampungnya, Angan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tergamam di depan laptop, membaca berita duka yang dipublish Endy Jengot, salah seorang anggota 'sekte' kami. Aku jadi tak ingin bergurau saat ini. Aku teringat kemarin saya baru saja bercanda-canda dengan budi, di ruang belakang kantor salah seorang rekan pengacara, dimana sebagian besar lelaki disana berbuka baju, karena gerah setelah dihajar udara kathulistiwa yang panas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga teringat guyonan kami, tentang bagaimana Emak, memaknai Gawai Dayak hanya dengan memotong ayam dan mengucap syukur atas panennya,  yang diberikan Penguasa Jagat Raya ini, tanpa tahu betapa orang di Kota Berpesta Gawai dengan menghabiskan uang Ratusan Juta Rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang belum pernah bertemu Emak Budi Miank. Tapi sosok Emak belakangan ini juga sering hidup dalam ingatanku, setiap kali Budi menceritakan kesederhanaan beliau. Aku tahu budi sangat mencintai Emak. Tak cuma itu, dia juga kagum pada wanita yang tak pernah menggugat apa pun yang Tuhan beri dan tidak berikan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat tulisan Budi Miank yang bertajuk PAGI PENOREH KARET. Aku tahu betapa Budi rindu pada hari-hari bersama Emak, di tengah-tengah pertarungananya di sebuah kota yang dinamai Pontianak. Apa yang sudah dia dapat saat ini, (sebagai Editor dan Redaktur Pelaksana Harian Pontianak Post), sama sekali tak mampu mengantikan hari-harinya bersama Emak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita sederhana yang tak saja memberi hidup dan cinta, tetapi juga kenangan sebagai anak seorang penyadap karet yang memilih menjadi wartawan dan penoreh modern.  Sejumlah tulisan Budi di blognya, http://www.pedagi.com,  tentang Kampung halamannya di Angan, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, dan terutama ingatannya tentang Emak, membuat aku sering mengingat emak dan kampungku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebenarnya aku rindu suasana rumah saat pagi emak membangunkan tidurku. Saat dingin merasuk. Saat dengkur terdengar keras. Saat mimpi sedang membuai. “Sudah pagi. Bangun. Menoreh,” begitu cara Emak membangunkanku setiap pagi. Kadang hujan pun emak tetap membangunkan. Ia adalah alarm hidup yang tahu kapan harus membangunkan anaknya. Ia bagaikan kokok ayam yang menjadi petanda hari telah berganti. (http://www.pedagi.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menitikan air mata, tak tahu harus mengatakan apa untuk setiap ibu yang meninggalkan anaknya. Juga emak Budi Miank. Bagiku, orang-orang yang ditinggalkanlah  yang berduka. Tapi mereka yang meninggal dunia adalah mereka-mereka yang berbahagia, karena telah menemukan jalan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Sahabatku Budi Miank, biarkanlah Emak bahagia, karena ia menemukan jalan pulang. Kini emak menyongosng gawainya sendiri, tanpa harus ikut ngumpul di Rumah Betang, Jalan Sutoyo Pontianak. Dan jika ajaran-ajaran agama itu benar, maka Emak pasti akan bertemu Bapak di sana, mendengarkan lagu Teluk Bayur bersama, lagu kegemaran bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bud, walau tak ada yang membangunkanmu setiap pagi lagi setelah ibu berpulang, tetapi ia akan terus hidup dalam ingatan dan mengingatkanmu dan juga orang-orang seperti kita untuk tetap terjaga saat bertarung melawan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Emak menyerahkan baju dinas yang biasa dipakai untuk menoreh. Warnanya sudah campur aduk. Lubang-lubang kecil membuat angin pagi leluasa merasuki pori-pori tubuh. Bau keringat juga menjadi aroma khas, yang mengalahkan segarnya udara pagi pedesaan. Sebuah topi biru juga menunggu digantungannya. Celana panjang yang tak lagi utuh kakinya kuraih. (www.pedagi.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai teman, sahbat dan juga anak pulau Borneo ini, saya mengucapkan takziah, sedalam-dalamnya. Karena bagi saya Emak bukan emak yang telah melahirkan Budi Miank secara biologis, tetapi juga ibu yang membekali kita sebuah energy cinta, wanita Borneo yang walau tak tercatat dalam buku sejarah negeri ini, tapi  telah memberi inspirasi kepada saya, dan mungkin juga kepada orang-orang yang hidup sederhana tanpa menghina akal sehat. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ditulis Alex Mering, wartawan Borneo Tribune dan blogger. Cukilan ini ditulisnya untuk sebuah milis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5395282105342941821?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5395282105342941821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/in-memoriam-emak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5395282105342941821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5395282105342941821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/in-memoriam-emak.html' title='In Memoriam Emak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8640824640579190333</id><published>2011-06-03T04:59:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T05:08:36.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Emak Sudah Berangkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nbuzVgxEOMM/TejOO3XyYCI/AAAAAAAAAZk/cm9vJLqAw1A/s1600/miank%2B%2528230a%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nbuzVgxEOMM/TejOO3XyYCI/AAAAAAAAAZk/cm9vJLqAw1A/s320/miank%2B%2528230a%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613963690294534178" /&gt;&lt;/a&gt;Emak meninggal. Kabar itu kuterima kala bergulat bersama huruf, kata, dan rangkaian kalimat di layar flat digital. Malam Jumat pada Kamis, 27 Mei 2011 itu, Emak mengakhiri perziarahannya di dimensi nyata setelah usianya mencatat angka 85 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu bilang, “Emak sudah tiada pukul setengah tujuh malam tadi.” Kini, Emak meneruskan perziarahannya di dimensi lain. Dan, aku sekarang menjadi seorang yatim piatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam itu pukul sebelas, kupulang kampung untuk menemui Emak. Sudah pasti, aku tak bisa lagi mendengar sapaannya, yang biasa kudengar, kala pulang kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti, aku tak bisa lagi mendengar hembusan nafas emak yang kadang tersekat, jika aku datang mengunjunginya, karena menahan rindu bertemu si bungsu ini. Sudah tentu, aku tak bisa lagi melihat Emak berjalan terhuyung yang ditopang tongkat bambu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan pulang, aku mengingat kala indah bersama emak. Ketika dulu, emak yang rajin membangunkan tidur agar pergi menoreh. Ketika emak menjadi alarm hidup yang rajin mengganggu tidur ketika mata malas untuk melihat keindahan pagi. Saat emak berkata, “Kamu harus sekolah. Jangan seperti emak. Jangan malu karena bajunya lusuh. Jangan malu karena bajumu koyak. Yang penting hatimu baik. Yang penting kamu bisa tetap sekolah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melawan kantuk sepanjang perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang itu juga berupaya mengingat petuah-petuah bijak emak yang lainnya. Setakat itu, keindahan-keindahan masa lalu dan kepedihan-kepedihan kabar kematian emak berkecambuk dalam ragaku. Ia bermain-main dalam benakku. Menerobos pintu-pintu ingatan ketika kecil bersama Emak. Pergi menoreh dalam gendongannya. Menikmati senandung emak ketika berangkat tidur. Mendengar dongeng Si Bungsu yang selalu diceritakannya menjelang tidur sambil bergelayut manja dalam dekapannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ingat bagaimana emak menumpaskan kemarahannya ketika kijang-kijang kecilnya berbuat ulah. Ketika kijang-kijangnya malas pergi menoreh. Ketika kijang-kijangnya tidak mendengar petuah bijaknya. Saat kijang-kijangnya mengabaikan perintahnya. Emak mencubit. Kadang menjewer. Lebih banyak emak mengoceh saja ketika ia diliputi amarah karena kijang-kijangnya enggan bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bawa perempuan kecilku agar ia tahu emak sudah berangkat. Vanessa, malaikat kecilku, belum mengerti kenapa pulang kampung malam hari. Ia hanya manut saja kala diajak pulang kampung. Tak ada gurat kesedihan. Vanessa hanya tersenyum saja. Pulang kampung menjadi bagian turne terindah baginya. Karena ia merindukan suasana kampung yang asri, damai, dan menyejukan. Vanessaku baru lima tahun, kala nenek berangkat ke dimensi lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tiba di pesemayaman emak pukul delapan pagi hari Jumat, 28 Mei 2011. Sembilan perjalanan pulang kulalui tanpa tidur. Kulawan letih untuk bertemu Emak yang terakhir kalinya. Kucatat perjalanan pulang kali ini yang terbaik dalam sepanjang sejarah pulang kampungku. Kutulis dalam catatan hidup, kali terakhir pertemuan dengan emak menjadi satu realita hidup. Kendati tidak menggembirakan, tapi pertemuan terakhir itu harus tercatat. Bukan untuk sebuah kejemawaan, tetapi untuk kenangan hidup. Itu menunjukkan aku memiliki emak yang luar biasa. Ia menjalani hidupnya hingga 85 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemui emak sudah terbujur kaku dengan balutan kain putih. Saudaraku yang lain juga sudah berdatangan. Kuambil kafan empat meter untuk menyelimuti emak. Kupandangi wajahnya. Teduh dibaluti senyum. Ah, emak belum meninggal. Ia hanya tidur panjang. Kurangkai sebait doa untuk mengingatkan bahwa apa yang Tuhan sediakan, akan Ia ambil kembali. Karena hidup hanya diamanahkan, setelah itu akan dikembalikan kepada yang berhak: Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulampiaskan kerinduanku dengan memandangi wajah emak. Aku tak menemukan penyesalan dalam guratan wajahnya. Aku tak menemukan kesedihan di  setiap sisi lekuk wajahnya. Aku menemukan kedamaian, kesejukan, dan keteduhan. Aku menemukan keikhlasan dalam tidur panjang itu. Aku sedih sekaligus gembira. Sedih karena harus berpisah dengan emak untuk selama-lamanya. Gembira karena emak berangkat dengan keikhlasannya dan ketulusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penduka berdatangan. Tidak ada karangan bunga, juga tidak ada tembakan salvo. Para penduka itu datang dengan keikhlasan. Mereka datang tidak sekadar menyampaikan belasungkawa. Mereka datang untuk membantu. Ada yang memasak, mencari kayu bakar, membuat peti mati, hingga hal terkecil sekalipun. Emak di mata para penduka adalah seorang perempuan tua yang dihormati. Walau ia tidak punya sejarah sebagai seorang punggawa desa. Sebagai orangtua, ia banyak diminta petuah bijak oleh orang muda. Apalagi emak setia sampai akhir hayat dengan mencintai sakralitas perkawinannya, yang tidak tercatat dalam administrasi kependudukan republik ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terlalu banyak catatan hidup emak yang perlu ditulis. Tapi aku hanya menulis sedikit saja. Nanti akan kusambung lagi kisah emak lainnya. Yang pasti, emak sudah berangkat menjalani hidup ke dimensi lainnya. Semoga emak tenang. Selamat jalan emak. Inilah hidup. Selalu ada akhir ceritanya. Dan, emak sudah mengakhiri cerita itu. Suatu hari ini, anakmu juga akan mengakhiri cerita hidup. (*)  &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8640824640579190333?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8640824640579190333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/emak-sudah-berangkat.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8640824640579190333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8640824640579190333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/06/emak-sudah-berangkat.html' title='Emak Sudah Berangkat'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nbuzVgxEOMM/TejOO3XyYCI/AAAAAAAAAZk/cm9vJLqAw1A/s72-c/miank%2B%2528230a%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3948071185727632745</id><published>2011-05-25T08:31:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T08:33:13.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Aku Mencintai</title><content type='html'>Aku mencintai malam &lt;br /&gt;karena ada cahaya &lt;br /&gt;yang menaburinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai keramaian &lt;br /&gt;karena dalam kegaduhan &lt;br /&gt;ada gelak tawa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai kesunyian &lt;br /&gt;karena dalam senyap &lt;br /&gt;ada kekudusan &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3948071185727632745?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3948071185727632745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/aku-mencintai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3948071185727632745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3948071185727632745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/aku-mencintai.html' title='Aku Mencintai'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6937646444363206434</id><published>2011-05-19T07:45:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T07:47:11.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Bocah Kecilku</title><content type='html'>Dari kejauhan &lt;br /&gt;Kupandangi gubuk&lt;br /&gt;Gubuk beratap daun&lt;br /&gt;Berdinding papan yang rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan &lt;br /&gt;Kulihat dua bocah bercanda &lt;br /&gt;Mereka bermain&lt;br /&gt;Larut dalam kegembiraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai aku bisa &lt;br /&gt;Bermain bersama mereka&lt;br /&gt;Bahagia akan menghampiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar&lt;br /&gt;Kalau dua bocah itu &lt;br /&gt;Tinggal di rumah yang sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku pilu saat memandang sekeliling&lt;br /&gt;Hujan menghujam atap daun yang rapuh &lt;br /&gt;Membuat hatiku tak karuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurrrrrr...&lt;br /&gt;Guntur menggelegar &lt;br /&gt;Bocah kecil lari ketakutan&lt;br /&gt;Bocah kecil itu menghampiriku&lt;br /&gt;Berguling-guling di pundak&lt;br /&gt;Gadis kecil menonton kartun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(ditulis Titi di Nyarumkop)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6937646444363206434?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6937646444363206434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/bocah-kecilku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6937646444363206434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6937646444363206434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/bocah-kecilku.html' title='Bocah Kecilku'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8222951696090266564</id><published>2011-05-12T07:55:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T18:55:12.469-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Bulan di Atas Soja</title><content type='html'>Bulan di atas Soja berbentuk tudung saji. Awan putih menari-nari menggoda tiap sudut tudungnya. Bintang memainkan kedipnya melirik awan yang menari tanpa harmoni. Bulan bergeming. Ia tak tergoda liukan awan. Tidak juga tersenyum atas kedipan bintang yang mengintipnya dari kejauhan. Bulan tetap tegar mengarungi malam. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan mengajarkan sebuah kesetiaan. Ia tidak menghianati langit. Kendati awan setiap hari menggodanya, kadang putih, kadang lain hitam. Bulan tetap pada kesetiaannya. Bahkan, ketika matahari menutupi cahayanya, bulan tidak meninggalkan langit. Bulan sepertinya mengajarkan manusia, bahwa apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Bulan mencintai langit dengan kesederhanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bumi, suara serangga malam dan jangkrik berebut. Bernyanyi semerdu mungkin agar bulan mendengar. Walau tanpa harmoni, nada-nada itu tidak berhenti. Serangga malam dan jangkrik tetap bernyanyi. Jauh di pucuk kelapa, suara pungguk menimpali. Sendu menatap langit. Pungguk merindukan bulan. Entah sampai kapan, pungguk bernyanyi. Bulan bergeming. Ia tidak peduli, entah berapa banyak airmata pungguk yang menetes. Ia tak hirau, betapa sendunya suara pungguk ketika bulan mulai menapaki tangga langit setiap malamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah beratap daun, seorang lelaki menatap malam. Dalam kesendiriannya, ia berusaha menikmati nyanyian serangga malam. Mencoba mengikuti irama dari nada tanpa harmoni seekor jangkrik. Menyelami setiap sesunggukan pungguk yang merindukan bulan. Membayangkan airmata pungguk yang tiada habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu juga menertawai kegenitan awan saat menggoda bulan.  Ia juga tersenyum melihat bintang yang tak berhenti berkedip. Namun lelaki itu kagum atas kesetiaan bulan terhadap langit. Begitu juga langit yang tidak pernah meninggalkannya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8222951696090266564?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8222951696090266564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/bulan-di-atas-soja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8222951696090266564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8222951696090266564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/bulan-di-atas-soja.html' title='Bulan di Atas Soja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3140515575109564820</id><published>2011-05-11T07:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-11T07:43:00.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Rindu Cinta</title><content type='html'>Wahai, malam yang sunyi &lt;br /&gt;kesunyianmu diselimuti &lt;br /&gt;suara-suara kendaraan yang tak karuan&lt;br /&gt;membuat keindahan malam &lt;br /&gt;rembulan yang terang menjadi rusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Vanessaku, wahai Pedagiku&lt;br /&gt;kalian adalah rahmat maha karya yang ternilai&lt;br /&gt;kalian adalah jantung hati dari maha karya itu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai buah hatiku&lt;br /&gt;tidurlah&lt;br /&gt;esok hari akan tiba menanti keceriaan kalian &lt;br /&gt;menikmati udara pagi nan sejuk&lt;br /&gt;berbahagialah&lt;br /&gt;milikilah dunia ini menjadi bagian dari hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kekasih hati&lt;br /&gt;kamu di mana? &lt;br /&gt;kamu lagi ngapain? &lt;br /&gt;Pernahkah kamu bertanya dalam hati? &lt;br /&gt;bahwa kesendirian itu berkah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai cinta&lt;br /&gt;datanglah aku ingin memelukmu&lt;br /&gt;ingin bercanda gurau bersama&lt;br /&gt;menikmati hari-hari indah kita &lt;br /&gt;yang terlupakan karena keadaan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3140515575109564820?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3140515575109564820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/rindu-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3140515575109564820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3140515575109564820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/rindu-cinta.html' title='Rindu Cinta'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6609190151192712852</id><published>2011-05-02T00:13:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T00:15:59.787-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Pagi Penoreh Karet</title><content type='html'>Pagi pukul empat. Dapur yang tadinya gelap sudah benderang. Bunyi periuk beradu dengan kuali. Ceret memerah menahan panas. Air bergolak di dalamnya. Emak sedang menjerang air. Hari sudah dimulai. Rasa kantuk harus dilawan. Saatnya pergi menoreh. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak menyerahkan baju dinas yang biasa dipakai untuk menoreh. Warnanya sudah campur aduk. Lubang-lubang kecil membuat angin pagi leluasa merasuki pori-pori tubuh. Bau keringat juga menjadi aroma khas, yang mengalahkan segarnya udara pagi pedesaan. Sebuah topi biru juga menunggu digantungannya. Celana panjang yang tak lagi utuh kakinya kuraih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt;, sejenis pisau sadap karet, dengan mata mengkilat menunggu di tiang gantungan. Setiap hari ia tergantung, usai diasah senja hari. Ayah yang bertugas mengasahnya. Setiap senja, ada empat sampai lima &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt; yang diasah. Ini rutinitas senja yang tak lagi kulihat. Ayah sudah pergi ke Rumah Bapa. Emak sudah pensiun menoreh. Dan, Aku, memilih jalan lain yang menoreh dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt; pena. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku rindu suasana rumah saat pagi emak membangunkan tidurku. Saat dingin merasuk. Saat dengkur terdengar keras. Saat mimpi sedang membuai. “Sudah pagi. Bangun. Menoreh,” begitu cara Emak membangunkanku setiap pagi. Kadang hujan pun emak tetap membangunkan. Ia adalah alarm hidup yang tahu kapan harus membangunkan anaknya. Ia bagaikan kokok ayam yang menjadi petanda hari telah berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus melawan rasa kantuk. Aku harus menyusuri pagi yang dingin. Menyibak lalang yang ujungnya dipenuhi embun. Meretas semak yang masih malu-malu untuk mendongak. Meniti tanggul yang dihiasi bilur-bilur padi menjuntai. Menapaki jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering. Singgah di setiap batang karet. Menoreh dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt; yang melahirkan air sadapan. Membuat satu goresan di batang karet yang membentuk anak sungai melengkung. Meletakan satu tadah di bawah pancuran daun. Tetesan getah karet menjadi ritme baru pagi yang sunyi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor bengkarung merayap di antara daun-daun kering. Suaranya melahirkan gemerisik. Burung-burung hutan mulai berkicau. Bernyanyi menyambut pagi. Mereka bersyukur diberi pagi yang cerah. Kilatan matahari menyeruak di antara lambaian daun-daun karet. Angin bermain di antara belahan-belahan pohon karet. Aku terus berjalan dan singgah pada batang-batang karet. Aku tetap menoreh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak lagi, batang terakhir akan tiba. Peluh mulai membasahi tubuh. Rasa lelah menghampiri. Tapi kantuk tak lagi menyerah. Dingin yang masuk lewat lubang baju kemudian menusuk pori-pori berganti keluarnya bulir-bulir kecil keringat. Siulan anak-anak berangkat sekolah menjadi petanda pagi sudah berakhir. Kegirangan anak-anak yang bajunya tak seragam, tanpa alas kaki, itu menjadi nyanyian lain dalam rutinitas sang penoreh. Ingatanku melambung ke masa-masa kanak-kanak dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah sampai di batang terakhir. Sayup-sayup kudengar lagu dari radio transistor milik ayah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sintua&lt;/span&gt; itu sedang menikmati Teluk Bayur. Aku hanya senyum mendengar lagu favorit ayah. Sesekali terdengar siulannya mengikuti irama lagu. Kadang bersenandung. Kadang juga menyanyikan lirik pada lagu itu. Walau hanya bagian terakhir saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rehat sejenak usai menyadap batang terakhir. Aku berbaring beralaskan daun-daun kering. Sebentar lagi, aku akan memungut hasil sadapan. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6609190151192712852?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6609190151192712852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/pagi-penoreh-karet.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6609190151192712852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6609190151192712852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/pagi-penoreh-karet.html' title='Pagi Penoreh Karet'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3677778351409160492</id><published>2011-05-01T08:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-01T08:04:45.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>Kususuri jalan menuju pulang. Lampu termaram jalan raya berkabut. Rinai hujan berlomba menyentuh bumi. Jalan-jalan menggenang. Roda-roda berdesir menggilas jalan basah dengan air yang memercik. Sekali waktu pengendara bergerak perlahan. Kali lain tancap gas. Traffic light tak peduli. Lampu merah main terobos. Seseorang menggeleng kepala. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada di antara para pengendara itu. Bergerak perlahan meniti jalan pulang. Menuju rumah yang setia menanti. Entah berapa lama ia menanti. Tetapi rumah tidak pernah bertanya, “Kenapa pulang malam?” Rumah juga tidak abai. Ia selalu rela membuka pintu agar aku bisa masuk. Rumah juga setia menghidupkan lilin kala listrik padam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini awal Mei. Dalam almanak Katolik, bulan khusus untuk mendevosikan doa kepada Bunda Maria. Maka, Mei dikenal sebagai bulan Maria. Bulan bagi keagungan seorang perempuan. Seorang ibu yang melahirkan Mesias, Sang Juru Selamat. Bagiku Mei, bukan hanya hari keagungan seorang Maria. Lebih dari itu. Mei memberikan keseimbangan hidup. Ini bulan menjelang pertengahan tahun. Ini bulan yang menjadi awal aku berkarir sebagai juru warta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tak ingat lagi, entah berapa warta yang telah kutulis. Aku juga tak mampu mengingat, entah berapa banyak huruf yang berhasil kurangkai menjadi satu kalimat. Aku menikmati kehidupan yang telah kupilih. Aku berkarya bukan untuk diriku, tetapi untuk semua orang yang menerima apa yang kuwartakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jalan pulang malam itu, aku menemukan segaris cerita. Tetapi aku tidak menemukan tautan-tautan yang bisa kujadikan satu kisah baru. Garis-garis itu tidak saling bersambungan. Ia putus-putus bak neseseres yang ditaburi di atas sebuah penganan. Kendati enak dipandang mata, namun garis-garis itu tak memiliki simpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah, kutemui lampu-lampu riang. Ia tersenyum menyambut deru sepeda motor yang mengerjakan lampu seinnya. Rumah membukakan pintu agar aku bisa masuk. Garasi membukakan pintu agar kuda besi yang kutunggang bisa beristirahat. Dapur riang menyambut karena aku harus menghabiskan sisa makanan tadi sore. Ah, rumah yang selalu merindukan tuannya. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3677778351409160492?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3677778351409160492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/rumah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3677778351409160492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3677778351409160492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/05/rumah.html' title='Rumah'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-9039351395507280608</id><published>2011-04-26T10:51:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T10:52:38.406-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LieBoEr'/><title type='text'>Kerinduan Lelaki Senja</title><content type='html'>Lelaki senja datang. Tanpa semburat jingga. Semilir angin pun tak menemaninya. Ia datang dengan kerinduan pada lelaki kecilnya, juga gadis mungil yang menyambutnya dengan senyum. “Ah, anakku, kalian menggemaskan,” bisik lelaki senja pada dirinya sendiri. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa, gadis mungil itu, merentangkan kedua tangannya. Ia ingin memeluk lelaki senja yang membawa kerinduan. Teriakan kecilnya membuncah di sela-sela deru roda menggilas kerikil-kerikil jalanan. Senyum Vanessa melahirkan kegembiraan. Sungguh, ia tumbuh menjadi seorang gadis yang ceria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di muka pintu, Pedagi dalam gendongan penjaga kunci istana cinta bertepuk tanpa suara. Lelaki penghujung Juni itu menebarkan senyum. Satu kalimat tanpa arti mengalir dari bibirnya. “Ah, kalian membuat rinduku hilang,” lelaki senja berkata pada dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bulan kedua, lelaki senja tak bersama Vanessa dan Pedagi setiap harinya. Mereka berpisah untuk melakoni suratan kehidupan yang dibuatnya sendiri. Mereka harus menyimpan sekaligus menjaga kerinduan bersama, yang akan ditumpahkan kala ritus perjumpaan tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki senja hidup dalam kesendiriannya. Menikmati ruang-ruang tanpa gerak. Hanya coretan-coretan dinding hasil goresan tangan Vanessa. Hanya suara monolog dari tabung berkaca. Kadang huruf-huruf yang tak beraturan mengganggunya agar segera merangkainya menjadi sebuah kata. Walau tanpa makna, lelaki senja berusaha memungut huruf-huruf itu. Letih tergurat di raut wajah. Lelah menyerang jemari yang menari tanpa harmoni di tuts-tuts. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, ketika hidup terlelap. Jemari lelaki senja masih menari. Ia mencoba mencurahkan kerinduan pada Vanessa dan Pedagi dalam ruang kata. Membangun satu kalimat yang tergiang dalam kerinduan. Tak ada yang bisa dibuat. “Ah, kalian selalu melahirkan sebuah kerinduan,” kata lelaki senja dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara kodok berlomba meramaikan malam. Jangkrik sesekali ikut bernyanyi. Lain detik, cicak dan nyamuk beradu keras. Dentangan tiang listrik yang dipukul peronda menambah keramaian malam. Lelaki senja tenggelam dalam ruang kata. Ketukan jemarinya pada tuts-tuts menjadikan malam kian ramai. Namun lelaki senja hanya bisa berbicara pada dirinya sendiri. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-9039351395507280608?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/9039351395507280608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/04/kerinduan-lelaki-senja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/9039351395507280608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/9039351395507280608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/04/kerinduan-lelaki-senja.html' title='Kerinduan Lelaki Senja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5861530761908600357</id><published>2011-03-16T20:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T20:23:53.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Tak Perlu Sedih karena Hujan</title><content type='html'>Senja ini, tak ada semburat yang biasa kupandang. Sinar kuning keemasan tertelan kabut hitam. Apakah hujan akan turun? Lalu kemanakah pelangi yang kerap melukis langit dengan warna-warni apiknya? Lantas apa yang harus aku nikmati dari senja tanpa semburat jingga itu? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh.....kegaduhan dan keriuhan di halaman rumahku hilang. Anak-anak yang sejak pukul tiga bermain berpulangan. Senja sudah datang. Namun cahayanya tidak membuat orang-orang bertahan lama di luar. Mereka memilih masuk ke rumah. Bukan untuk berkemas, tetapi menikmati rinai hujan dari balik jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini senja gelap yang kembali kunikmati. Alam seolah mensyaratkan bahwa hujan akan segera turun. Rinainya sudah mulai berjatuhan. Menghapus debu yang sejak sepekan memenuhi ruang jalan. Debu-debu yang kerap melahirkan batuk-batuk kecil pengguna jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulir-bulir air mulai jatuh. Awalnya satu satu. Kini iramanya sudah tidak beraturan. Gemuruh suara di atap melahirkan disharmoni yang tak seimbang. Orang-orang berlomba menadahnya. Ember, baskom, hingga tong air dibiarkan menganga. Berharap air singgah dan tertampung. Air untuk sebuah kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pergi sebelum hujan reda. Temani aku menikmati tariannya. Biarkan rintiknya membasahi tulang belulang yang berserakan. Hingga suatu hari, tulang-tulang itu bersatu. Memulai kehidupan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menangis karena hujan. Tak usah bersedih karenanya. Bercerialah karena hujan itu anugerah. Hujan membawa kita menuju sebuah peradaban baru. Ia menghapus semua luka dan sedih. Jangan bertengkar karena hujan. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5861530761908600357?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5861530761908600357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/tak-perlu-sedih-karena-hujan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5861530761908600357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5861530761908600357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/tak-perlu-sedih-karena-hujan.html' title='Tak Perlu Sedih karena Hujan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8152621527556048225</id><published>2011-03-11T20:47:00.000-08:00</published><updated>2011-03-11T20:49:26.125-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Ruang Dialog Tanpa Skenario</title><content type='html'>Malam ini, aku kehilangan keriuhan dan kegaduhan. Ruang yang ada tak sanggup melahirkan dialog. Mereka hanya menyajikan sebuah monolog tanpa skenario. Suara gemericik air yang menyapa setiap ruang berakhir dengan kekosongan. Televisi hanya sibuk berbicara sendiri. Tarian jarum jam di dinding bergerak seirama tetapi tidak melahirkan liukan yang harmoni. Tarian dan gemericik itulah yang menemani sang juru warta. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna biru langit yang menghiasi dinding hanya menemani sesaat. Ketika lampu 15 watt tak lagi menyala, biru langit itu tenggelam dalam kegelapan. Ia menjadi duka lain dalam ruang-ruang tanpa kegaduhan. Warna itu tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia yang ia sendiri tidak mengerti. Dunia yang tanpa kata, tanpa suara, bahkan tanpa gerak. Semua bergeming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada di antara warna-warna itu. Aku hadir di antara tarian dan gemericik tersebut. Aku nyata bersama ruang monolog tanpa skenario itu. Aku menikmati ruang yang tidak melahirkan keriuhan dan kegaduhan. Aku bermenung untuk merasakan semua cinta yang hadir dalam semua elemen, yang tenggelam dalam kegelapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sepekan ini aku menikmati semua itu. Baru sepekan itu juga aku merasakan apa yang semestinya tidak aku rasakan. Aku sedang melari mengejar mimpi. Aku ingin ketika usia sudah menapaki senja, tak ada lagi penyesalan. Aku mau ketika tubuh sudah ringkih, tidak mengeluh karena kepapaan. Aku berkehendak, ketika kulit sudah keriput, tak ada noda yang menempel. Aku berharap, hidup berjalan dalam putaran roda yang normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, langit malam juga tanpa bintang. Bulan juga malas untuk keluar, walau hanya sabit. Kunang-kunang juga enggan hinggap di pohon perdu. Jamur juga enggan mengeluarkan senyawa fospor dari tubuhnya. Mereka ingin bersamaku menikmati indahnya sebuah kesunyian. Mereka ingin merasakan betapa nikmatnya kesendirian. Ah, jangan sentimentil seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goresan dinding tanpa makna milik Vanessa tetap menyapa. Karikatur cintanya yang menempel di ruang hati terus tersenyum. Jejak-jejak kakinya mengajak berlari. Keceriaannya menggoda untuk menari. Inilah dunia Vanessa. Dunia yang dijalani untuk bertumbuh. Kehidupan yang dilakoni agar menjadi orang-orang yang bisa mencetak sejarah. Paling tidak untuk dirinya sendiri. Semoga kamu meraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas tapak Pedagi mengingatkan pada kesempurnaan hidup. Ia menjadi hadiah istimewa pada tahun yang membahagiakan. Pedagi melengkapi lanskap hidup yang belum paripurna. Pedagi benar-benar menjadi hidup yang sakral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan mulai bermain. Bulir-bulir airnya memecah kesunyian malam. Ia memberikan kesejukan bagi hati yang gundah. Air-air yang menjawab kegelisahan. Air menjadi sakral kala kemarau melanda. Air menjadi sumber penghidupan bagi jiwa-jiwa yang kosong. Karena itu, hidup mestinya mengalir bagai air, bukan sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga malam tiba pada puncaknya, mata belum mau masuk peraduannya. Bantal-bantal sudah menanti sejak matahari memasuki senja. Sejak semburatnya menggambar langit agar hari semakin sempurna. Selimut juga terbentang menanti tuannya menutup tubuh. Ia siap menghangatkan tubuh yang ringkih. Ah, aku mau tidur. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8152621527556048225?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8152621527556048225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/ruang-dialog-tanpa-skenario.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8152621527556048225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8152621527556048225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/ruang-dialog-tanpa-skenario.html' title='Ruang Dialog Tanpa Skenario'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7088662575210847062</id><published>2011-03-10T19:30:00.000-08:00</published><updated>2011-03-10T19:32:05.279-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Rindu Vanessa, Teringat Pedagi</title><content type='html'>Pagi ini, halaman rumah berdebu. Sampah plastik bermain di sudut batas tanah dengan tetangga. Rumput-rumput yang tumbuh di antara batu mengering. Kembang-kembang meranggas. Tanah-tanah merekah. Gersang. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu menunggu sapuan. Sampah menanti pungutan. Rumput, kembang, dan tanah menunggu tetesan air yang menyegarkan. Rumah seperti tidak ada kehidupan. Suara cicak pun tak mampu memecah kesunyian. Lengkingan nyamuk juga kian menggemingkan. Jarum jam seperti berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerisik air yang jatuh dari selang akuarium tidak lagi menjadi nada-nada yang penuh harmoni. Malah terdengar sumbang di telinga. Tarian ikan di dalam juga tidak lagi indah. Warna-warni ikan itu tak sanggup menjadi pelangi yang menyempurnakan semburat senja. Semua tidak memiliki kegembiraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku sudah kehilangan keceriaan. Senda tawa yang lahir dari bibir mungil menghilang. Kaki-kaki kecil yang berlarian bak anak kijang mengitari padang rumput tak lagi seirama. Teriakan-teriakan yang mendebarkan jantung tak lagi membahana. Dengkuran lembut petanda lelah bermain tidak lagi menghiasi ruang tidur. Sepi. Sunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu keriuhan. Aku teringat kegaduhan. Keriuhan yang mewarnai setiap sudut rumah. Kegaduhan yang menyelinap di antara ruang-ruang jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu Vanessa. Aku teringat Pedagi. Dua malaikat kecil yang menjadikan kehidupanku lebih sempurna. Keriuhan dan kegaduhan yang mereka ciptakan memberi keceriaan. Mereka tidak pernah getir. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka selalu tersenyum. Ikhlas dan tulus. Mereka selalu tertawa. Lepas dan bebas. Merdeka mengarungi kehidupannya. Tanpa beban menapaki setiap anak tangga jiwa-jiwanya. Berlari mengejar mimpi yang belum tergapai. Terlelap dengan senyum kala malam mewarnai semesta. Ah, Vanessa. Oh, Pedagi. Kalian permata yang sungguh mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Februari lalu, perempuan pertengahan Juni dan lelaki penghujung Juni pergi mengikuti penjaga pintu istana cintaku. Tugas sebagai abdi negara membuat mereka tak bisa bersamaku. Bukan untuk selamanya, tetapi sejenak melaksanakan tugas yang diemban ibunya. Sungguh itu memberi kami tantangan dalam memaknai hidup yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga rindu perempuan awal September. Perempuan yang memilihku sebagai pangerannya. Perempuan yang membuat hidupnya semakin beranugerah. Ia telah melengkapi tulang rusuk yang hilang. Kehidupan sedang berjalan menuju keparipurnaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesendirian, kuberharap hidup tetap berjalan sesuai rodanya. Dalam kesepian, kuingin mimpi dan cita-cita bisa mendekat. Keriuhan dan kegaduhan Vanessa, juga Pedagi bisa hadir lagi dalam ruang-ruang cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessaku sayang. Kata-kata yang kurangkai ini semua untukmu. Kalimat-kalimat yang kususun ini kupersembahkan kepadamu. Alinea-alinea yang tercatat menjadi satu kisah, yang perlu kau pahami. Setiap kata bermakna. Setiap kalimat memberi arti. Dan, setiap alinea menjawab satu pertanyaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagiku tercinta. Semua ruang menunggumu berkarya. Setiap lorong menanti jejak telapakmu. Langit-langit mencatat semua langkahmu. Teruslah berjalan karena engkau lelaki yang kuat. Teruslah berkarya karena engkau insan yang kreatif. Tetaplah tersenyum walau hidupmu pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessaku, aku rindu padamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagiku, aku teringat padamu. (*) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7088662575210847062?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7088662575210847062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/rindu-vanessa-teringat-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7088662575210847062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7088662575210847062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/03/rindu-vanessa-teringat-pedagi.html' title='Rindu Vanessa, Teringat Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3121396390063228008</id><published>2011-02-08T21:07:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T21:08:56.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Kabar Bahagia Emak</title><content type='html'>Istriku bilang, Emakku sehat. Ini berita bahagia. Tentu senang mendengar kabar ini. Saat usianya sudah berkepala delapan, emak masih sehat. Ketika cucunya sudah memiliki anak, emak masih mendengar dengan baik. Walau matanya sudah diganti tongkat. Kabar ini membuatku semakin rindu emak. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir bertemu Emak pada November 2010. Saat pulang kampung untuk menziarahi makam ayah. Itu pun hanya tiga jam. Sebab harus mengejar kembali ke kota untuk menggenapi rutinitas setiap hari. Waktu itu, Emak mengeluh sakit. Ia bilang tidak bisa bangun. Tetapi hari itu, Emak bangun. Mungkin kerinduannya bertemu si bungsu memberinya semangat untuk bangun. Ahhh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu Emak sungguh mengharukan. Walau tidak banyak cerita. Melihat wajah Emak seperti memandang surga. Mendengar ocehan Emak, seperti mendengar senandung lagu yang tersusun penuh harmoni. Melihat Emak bangun dari tidurnya, ingatan berpulang ketika masih kecil. Saat Emak menggendong sambil meniti jalan setapak kebun karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar tarikan nafasnya, bagai menikmati air yang jatuh dari pancuran. Mendengar batuk kecil emak, seperti mendengar jeritan jangkrik penghantar tidur. Raut wajah Emak tidak berubah. Hanya guratan keriput saja yang membedakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak ingin bertemu cucunya yang paling bungsu dari putra bungsunya. Cita-cita Emak tercapai. Akhir Januari 2011, istri dan dua anakku pulang. Vanessa dan Pedagi bertemu neneknya. Nek Ombon yang selalu kuceritakan kepada mereka. Semangat Nek Ombon yang membara agar anak-anaknya tidak sekolot dia. Mimpi Nek Ombon supaya kebersihan itu ada di hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku bilang, Emak gembira bertemu Pedagi. Lelaki kecilku yang lahir pada akhir Juni 2010. Pedagi bertemu Emak saat usinya baru tujuh bulan. Agak terlambat dari kakaknya, Vanessa yang pertama kali bertemu Emak saat berusia enam bulan. Itu bukan soal. Yang penting, cita-cita Emak bertemu dua anakku tercapai. Janji dan harapanku agar Emak bisa mendengar suara dari mulut cucunya bisa terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gembira mendengar kabar Emak dari istriku. Aku juga gembira karena Pedagi, putra bungsuku, sudah bertemu neneknya. Aku juga gembira, Emak sehat. Sekali lagi, aku gembira Emak masih hidup. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3121396390063228008?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3121396390063228008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/02/kabar-bahagia-emak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3121396390063228008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3121396390063228008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/02/kabar-bahagia-emak.html' title='Kabar Bahagia Emak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4620449464175785013</id><published>2011-02-02T21:52:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T21:54:07.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Kata yang Hilang</title><content type='html'>Entah mengapa, sebulan terakhir ini saya malah untuk merangkai kata. Bukan karena kehabisan kata. Tetapi lebih pada tidak ada niat untuk menulis. Hari ini, saya mencoba mengumpulkan serakan kata-kata di keramaian pusat perbelanjaan. Tetapi hanya sedikit yang bisa dikumpulkan. Tumpukannya begitu banyak. Sulit memilih mana kata yang bisa untuk dirangkaikan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya hanya butuh satu kata. Tetapi satu kata itu berada pada tumpukan terbawah. Tangan ini tak sanggup untuk mengaisnya. Daya nalar pun tak mampu untuk meraihnya. Sudah satu jam ini, satu kata itu belum juga ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata itu hilang. Saya tidak tahu harus mencarinya di mana. Sudut-sudut pusat perbelanjaan sudah kucari. Langit-langit gedung megah itu sudah dijelajahi. Tirai-tirai pemisah sudah terkuak. Sekat-sekat keindahan sudah tercekat. Tetapi kata yang hilang itu belum juga muncul. Polisi kata juga tidak sanggup mencarinya. Padahal merekalah yang berwenang mencari kata yang hilang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegamangan, saya terjerembab dalam sebuah ruang tanpa sekat. Ada ribuan kata tertumpuk. Kuarungi lautan kata itu. Kutapaki tangga-tangga kata itu. Kugali dengan kecerdasan hati tiap kata yang berserakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan satu kata yang hilang. Tetapi ia tidak sanggup mewakili kegalauan dan kegelisahan hati ini. Hanya satu jam saja, kata yang hilang itu kugenggam. Setelahnya kulepas lagi. Sebab ia tidak sanggup menjawab apa yang kuinginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku temukan lagi satu kata yang hilang. Kembali ia tidak sanggup membawakan ku sebuah kegembiraan. Kembali kata itu aku lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrchhhhhh…….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4620449464175785013?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4620449464175785013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/02/kata-yang-hilang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4620449464175785013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4620449464175785013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/02/kata-yang-hilang.html' title='Kata yang Hilang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6418615425670016731</id><published>2011-01-04T06:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T06:29:46.440-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Ruang Bermain Pedagi</title><content type='html'>Langit di atas Soja cerah. Riuh anak-anak bermain di jalan. Halaman rumah tak lagi cukup untuk bermain. Selain ukurannya yang kecil, halaman juga sudah dipenuhi tumbuhan lain. Ruang bermain di perkotaan semakin sempit. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa dan Pedagi juga bermain. Di halaman rumah ayahnya yang seukuran meja pingpong, cukuplah sekadar berjingkrak, berlarian kecil, kemudian duduk-duduk di atas semen dipenuhi pasir. Vanessa yang sudah lima tahun mengayuh sepeda kecilnya. Pedagi yang baru lima bulan hanya senyum-senyum di atas rodanya. Sesekali ia tertawa menampakan deretan gusinya yang belum ditumbuhi gigi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main di halaman kecil itu sudah rutinitas dua malaikat kecilku. Mereka memberi warna dalam bahtera cinta kami. Kadang membuat kesal, lain waktu mengajak tertawa. Ada suka, juga sedih. Ada keceriaan, ada kegelisahan. Dari semua itu, Vanessa dan Pedagi memberi keindahan dalam rumah kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di Soja sedang tak bersahabat. Semburat jingga kalah oleh pekatnya awan hitam yang berarak. Butiran air mulai menetes pertanda hujan segera datang. Layang-layang yang menari di angkasa merayakan senja sudah turun. Keceriaan Vanessa dan Pedagi bermain di halaman berubah kekecewaan. Hasrat ingin menghabiskan senja pupus mana kala hujan mulai membasahi bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburat senja benar-benar sirna. Ia terhapus oleh hujan yang mengucur deras. Halaman harus rela menikmati tubuhnya ditimpa butiran hujan. Jalan-jalan berlobang mulai tergenang. Anak-anak ayam yang harus pulang kandang ceriwitan mencari induknya. Hujan memaksa mereka harus berpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara azan magrib menggema menembus hujan. Panggilan Ilahi itu mengajak manusia untuk bersyukur atas anugerah hujan. Orang-orang Soja bergegas menyucikan diri dengan berwudhu, agar lebih pantas memuja yang Esa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan belum juga reda ketika senja benar-benar tertelan malam. Vanessa dan Pedagi hanya berdiam diri di rumah. Menatap hujan dari balik jendela. Menghitung derap kaki orang-orang Soja yang lewat. Mendekap manja bahu sang ibu. Bergelayut manja di lengan kekar sang ayah. Sebuah harmonisasi kehidupan yang penuh kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut mulai menyapa hari. Tak ada lagi suara hujan. Vanessa dan Pedagi sudah berlayar dalam alam tidurnya. Entah ia bermimpi atau tidak. Keduanya terlelap dalam keletihan bermain sepanjang hari. Sesekali dengkur Pedagi menghadirkan senyum. Sesekali lenguhan Vanessa mengeluarkan kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa dan Pedagi benar-benar inspirasi kehidupan. Keduanya lahir dari rahim kebahagiaan. Mereka datang untuk melengkapi kekurangan hidup bagi kedua orangtuanya. Vanessa dan Pedagi menjadi ruang kehidupan yang tanpa batas. Mereka lahir atas nama cinta. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6418615425670016731?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6418615425670016731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/01/ruang-bermain-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6418615425670016731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6418615425670016731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2011/01/ruang-bermain-pedagi.html' title='Ruang Bermain Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1230650670294008429</id><published>2010-12-31T22:50:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T22:52:04.932-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LieBoEr'/><title type='text'>Libur Vanessa</title><content type='html'>Anak-anak berlarian. Saling kejar. Teriak ceria menggema. Ruang berukuran besar riuh, seolah tak sanggup menampung riuh anak-anak itu. Orangtua waspada. Pandangan tak boleh lepas dari gerak gerik anaknya. Para ibu ikut berlari. Para ayah turut bersuka. Menikmati aneka mainan yang tersedia. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu sore itu, Vanessa dan Pedagi bergabung bersama anak-anak lainnya. Vanessa yang sudah lima tahun berjingkrak. Berlarian. Berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Kadang ia hanya memandang saja. Kadang lain, ia mencobanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada mainan yang menjadi favoritnya. Semua ingin dicoba. Walau sekadar memegangnya.  Vanessa sungguh ceria. Sudah tiga pekan tak pergi ke istana mainan. Kerinduannya bermain terobati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagi yang baru lima bulan hanya digendongan. Sesekali ia menggeliat. Bahasa tubuhnya ingin turut bermain. Tetapi usianya yang belia itu tak sanggup bersaing dengan teman-teman lainnya. Pedagi baru pandai tengkurap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas Vanessa memburu. Letih tergurat di wajahnya. Titik keringat membaur bersama bedak tipis yang dikenakan usai mandi sore. Pedagi hanya menatapnya dengan mimik menggemaskan. Senyum kecil menghiasi pipinya. Ia ingin berkata, tapi tak terucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah bermain Vanessa mengajak pulang. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1230650670294008429?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1230650670294008429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/libur-vanessa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1230650670294008429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1230650670294008429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/libur-vanessa.html' title='Libur Vanessa'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6371710603874603211</id><published>2010-12-31T22:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T22:43:19.272-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Hidupku Kehidupan</title><content type='html'>Semburat senja melukiskan keindahan di ujung kaki langit sebelah barat. Sekawanan burung menari menggoda awan hitam yang merusak semburat jingga. Mereka menukik dan mengangkasa mengikuti irama jangkrik yang mulai menyapa malam. Lukisan senja mengiringi derap kaki petani pulang ke rumah. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak desa bertelanjang dada mengitari pematang sawah. Berlarian menyusuri petak-petak padi yang menjuntai. Bulir-bulir kuning keemasan merunduk menyentuh tanah. Sebuah keikhlasan dengan ketulusan hati memuji Sang Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap mengepul dari sela-sela atap daun. Menerobos pori-pori dinding kayu yang mulai termakan rayap. Seorang perempuan terus meniup api di tungku. “Agar asap segera berlalu,” batinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung malam mulai bersenandung. Detik-detik jam dinding seirama. Jangkrik pun riuh memperdengarkan kemerduan yang berpadu dengan hembusan angin. Anak-anak ayam resah menunggu induknya yang belum pulang. Mereka rindu dekapan sang ibu yang penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan semut memanjang bak antrean kendaraan di jalan tol yang macet. Mereka beranjak pulang ke sarang sambil membawa sesajen untuk sang Ratu. Semut mengajarkan kesetiaan pada keluarga besarnya. Semut mengajarkan pada manusia arti sebuah demokrasi tanpa harus bersengketa karena bekerja tanpa henti. Semut sungguh mahluk mulia yang patut mendapat standing applause. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah berdinding bambu, lelaki tua sedang mengurung diri. Merenungi perjalanan hidupnya setelah menziarahi 365 hari. Ia menunggu detik-detik perjalanan hidup 365 hari berikutnya. Hari ini, ia akan mulai menziarahi semua hari yang sama. “Aku ingin berubah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dengan kesendirian membuat lelaki itu kehilangan laku. Ia berkelana dalam keniscayaan hidup. Tanpa tujuan ia arungi semua hari. Kehidupannya terombang di tengah lautan masalah. Keputusasaan menghampiri hingga nyaris membuatnya mengakhiri perziarahannya di dunia. Hari baginya sudah tidak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ia mulai menggali makna dari sisa hidupnya. Keberaniannya untuk menjalani sisa hidup adalah sebuah pilihan yang benar. Ia menemukan semangat yang tercecer di persimpangan. Ia mengembalikan rasa percaya dengan tekad mengubah hidupnya. Lelaki itu mengumpulkan semua lelaku yang selama ini tercerai. “Hidup harus aku arungi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadari, ia menemukan dirinya di sudut pagi. Di ujung kaki langit sebelah timur, semburat fajar sudah menyala. Malam akan segera berganti. Bulan sudah hendak pulang. Saatnya matahari bertugas. Memaparkan sisa embun yang masih tersisa di dedanunan. Menghangatkan tubuh-tubuh mungil yang memerlukan vitamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menguap. “Ah, hari baru sudah mulai.” Selamat tahun baru. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6371710603874603211?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6371710603874603211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/hidupku-kehidupan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6371710603874603211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6371710603874603211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/hidupku-kehidupan.html' title='Hidupku Kehidupan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2356104079543273130</id><published>2010-12-21T04:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:59:57.650-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Natal Pedagi</title><content type='html'>Hujan turun sejak pukul tiga. Sudah empat jam, belum juga reda. Desember memang kerap diguyur hujan. Kadang turun dini hari, lain waktu turun siang hari. Kadang lain, hujan turun senja bahkan malam hari. Sebagian bilang itu anugerah. Tapi tidak sedikit yang menggerutu karena aktivitas terhambat. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi pukul tujuh. Hujan belum berhenti. Genangan air di jalan berlubang terpercik kala roda kendaraan menggilasnya. Anak-anak berjingkrak menghindari lubang berair itu. Sebagian menaikkan celana panjangnya agar ujungnya tidak basah. Seorang perempuan berbaju hitam memakai payung menuju warung kelontong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah nomor tujuh ada aktivitas lain. Empat penghuni rumah sibuk. Ibu membawa koran-koran bekas di ruang tamu. Ayah menurunkan dua kotak dari plafon rumah. Isinya dua pohon cemara plasti. Dari gudang, diambil kotak berisi lampu kerlap kerlip, dan beberapa aksesori lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sulung, Vanessa sibuk mencoret buku-buku tulisnya. Membuat kalimat-kalimat yang kemudian dibacanya sendiri. Bocah lima tahun yang baru menginjak prasekolah di Taman Kanak-kanak Pasifikus itu membuat gambar spongebob dan patrick. Dua tokoh yang dalam kartun Spongebob squarepants. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, sambil sarapan, ia selalu menonton kartun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan menggambar, ia berlari ke kamar. Berteriak dengan nada memelas, “Hidupkan tape.” Lagu anak-anak dari kaset yang kubeli seharga Rp23.000 berulangkali diputarnya. Begitu seringnya, Vanessa hafal lagu-lagu itu. Walaupun beberapa kata tidak sempurna diucapkannya. Ia punya bakat menyanyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bungsu, Pedagi hanya senyum melihat laku kakaknya. Bocah lima bulan itu baru bisa tengkurap dan merayap. Sesekali ayah ibunya direpotkan karena ia merayap daerah-daerah yang membahayakannya. Kadang ia mengeluarkan teriakan. Sesekali menangis. Merengek minta digendong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mulai memasang koran-koran bekas di bawah akuarium. Ia membentuknya seperti sebuah gua bersegi empat. Sebuah papan triplek dipasang sebagai lantainya. “Ini untuk menaruh domba-dombanya,” kata si Ibu. Di samping gua, ditempatkan sebuah meja berukuran kecil. Ia membungkusnya dengan koran bekas. Di atasnya terpasang sebuah pohon cemara plastik. Kemudian di atas akuarium, juga dipasang pohon cemara plastik lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sulung yang sudah bosan bernyanyi mengambil aksesori di kotak kecil dari gudang. Ia mulai memasangnya di dahan-dahan cemara. Kadang melompat ia menggapai dahan tertinggi. Ia juga meminta bantuan ayahnya untuk memasang pada ujung pohon plastik itu. Vanessa bersiap menyambut natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, kami kembali tidak pulang kampung. Walau ada waktu untuk libur, tapi kami sepakat merayakan kesederhanaan natal di Soja yang permai itu. Kami juga sepakat membuat gua natal yang sederhana. “Biar kelihatan kalau merayakan natal.” SELAMAT NATAL....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2356104079543273130?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2356104079543273130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/natal-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2356104079543273130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2356104079543273130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/natal-pedagi.html' title='Natal Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-581342609386315592</id><published>2010-12-20T05:40:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T05:42:01.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LieBoEr'/><title type='text'>Malam Minggu Vanessa</title><content type='html'>Anak-anak berlarian. Saling kejar. Teriak ceria menggema. Ruang berukuran besar riuh, seolah tak sanggup menampung riuh anak-anak itu. Orangtua waspada. Pandangan tak boleh lepas dari gerak gerik anaknya. Para ibu ikut berlari. Para ayah turut bersuka. Menikmati aneka mainan yang tersedia. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu sore itu, Vanessa dan Pedagi bergabung bersama anak-anak lainnya. Vanessa yang sudah lima tahun berjingkrak. Berlarian. Berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Kadang ia hanya memandang saja. Kadang lain, ia mencobanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada mainan yang menjadi favoritnya. Semua ingin dicoba. Walau sekadar memegangnya.  Vanessa sungguh ceria. Sudah tiga pekan tak pergi ke istana mainan. Kerinduannya bermain terobati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagi yang baru lima bulan hanya digendongan. Sesekali ia menggeliat. Bahasa tubuhnya ingin turut bermain. Tetapi usianya yang belia itu tak sanggup bersaing dengan teman-teman lainnya. Pedagi baru pandai tengkurap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas Vanessa memburu. Letih tergurat di wajahnya. Titik keringat membaur bersama bedak tipis yang dikenakan usai mandi sore. Pedagi hanya menatapnya dengan mimik menggemaskan. Senyum kecil menghiasi pipinya. Ia ingin berkata, tapi tak terucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah bermain Vanessa mengajak pulang. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-581342609386315592?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/581342609386315592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/malam-minggu-vanessa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/581342609386315592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/581342609386315592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/12/malam-minggu-vanessa.html' title='Malam Minggu Vanessa'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1241808238647314953</id><published>2010-11-15T21:32:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T21:33:59.939-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Kok, Matahari Belum Muncul</title><content type='html'>Matahari belum muncul. Harusnya pagi ini ia menggantikan bulan, yang mulai letih menerangi malam. Wajah bulan sudah pucat. Ia tak sanggup menahan kantuknya. Sesekali menguap. Mengejutkan awan yang berjalan menuju barat. Setengah berbisik bulan menggerutu, “Ah, ke mana dikau matahari.” &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung malam yang setia menemani bulan sudah pulang ke sarang. Mereka ingin menghilangkan penat setelah lelah menjaga malam dengan kicauannya hingga lelap mata penghuni alam. Memberi makan anak-anaknya yang menunggu sepanjang malam. Menyapa saudara-saudaranya yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Memberi isyarat pada manusia bahwa pagi telah tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang juga sudah pulang. Ia mengajarkan sebuah kedisiplinan. Jika tiba waktunya, ia harus undur diri. Pun begitu, ketika tiba waktunya bekerja, ia harus muncul. Bintang memberi keindahan pada malam. Bulan kadang tak sanggup sendiri. Bintang menemaninya. Decak kagum hadir kala kolaborasi bulan dan bintang berpadu dengan apik. Bak ciamiknya gocekan seorang selebritas lapangan hijau, standing applaus diberikan kepada bulan dan bintang. Keduanya menyajikan keindahan tak terkira di langit luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah bercat biru, Vanessa menanti matahari. Ia ingin tubuh mungilnya disinari. Vanessa ingin menikmati hangatnya sentuhan mentari. Ia bertanya, “Kok, matahari belum muncul? Kenapa ia lama sekali? Kapan matahari akan muncul?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, matahari belum muncul. Ia tertutup awan. Coba lihat ke langit, awan hitam menghalanginya. Bukan ia tidak mau menemanimu bermain pagi ini. Ia tak sanggup menembus awan itu. Besok ia akan datang lebih pagi. Kamu, anakku, bangunlah lebih pagi, supaya kau bisa menemuinya dengan semburat keemasan di ufuk timur.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, Vanessa menunggu fajar. Ia selalu ingin menikmati semburatnya. Dengan ceria, ia berlari menggapai fajar. Semakin jauh ia berlari, semakin semangat ia menggapainya. Kaki mungil itu menyibak ilalang kecil di jalanan. Sisa embun malam jatuh membasahi tanah. Vanessa terus berlari. Di kejauhan, ia berhenti sejenak. Tangannya melambai meminta fajar menunggunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, tak perlu kau kejar matahari. Ia akan datang bila tiba waktunya. Kita tidak bisa menggapai hal-hal yang mustahil. Ia tidak akan meninggalkan kita. Ia selalu menyapa. Tak perlu takut kehilangan matahari. Ia sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Dengar Nak, berhentilah berlari. Kembalilah agar tubuhmu tidak lunglai. Biarkan matahari yang masih tertutup pekat itu. Esok hari ia akan menyapamu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari belum juga muncul. Hanya cahayanya yang berpendar. Keperkasaannya runtuh oleh nakalnya awan yang menolak pergi. Ia tak sanggup menghalau pekatnya awan itu sekadar untuk menepi sejenak. Awan menggodanya. Matahari bergeming. Sedikit terpaksa, ia mencoba untuk tersenyum. “Awan juga sahabatku,” bisiknya. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1241808238647314953?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1241808238647314953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/kok-matahari-belum-muncul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1241808238647314953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1241808238647314953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/kok-matahari-belum-muncul.html' title='Kok, Matahari Belum Muncul'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6416508474826916080</id><published>2010-11-14T21:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T21:27:11.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Surat Senja</title><content type='html'>Buat semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf. Aku tak bisa menyapamu senja ini. Tidak bisa memberimu warna jingga keemasan di ujung langit. Tidak menemanimu menghabiskan hari sebelum matahari ditelan ufuk barat. Memandangmu berlari membuat jejak di atas pasir. Menikmati senyummu kalau menghindari deburan ombak. Sungguh, aku tak bisa datang senja ini. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku sedang terluka. Kabut pekat memerahkan mata. Orang-orang senang bermain api. Membakar tanpa bisa memadamkannya. Mataku berair. Perih. Obat tetes mata pun tak sanggup menetralkannya. Hujan juga tak mampu menghapus luka ini. Sungguh, aku terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat merindukanmu. Rindu bermain pasir sambil menikmati gulungan ombak. Menghempas bangunan-bangunan dari pasir yang kita buat. Berlari menyusur pantai sambil memungut kerang-kerang. Rindu melihat senyumnya, tawa sumringah yang kau pancarkan setiap waktu. Sungguh, aku merindukanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah di ujung pasir itu, anak-anak nelayan menjaring ikan. Kulit gelap mereka memancarkan keindahan. Perahu yang membawanya oleng namun tidak karam. Ikan-ikan melompat dari jaring. Mengelak kala tangan-tangan mungil itu menyentuhnya. Tawa mereka riuh. Canda mereka menyejukan. Senyum mereka sumringah. Ujung rambutnya melambai-lambai diterpa semilir angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kota datang hendak bertemu. Mereka datang berpuluh bahkan beratus hanya ingin menikmati keindahan semburat senja di ujung langit. Mereka berlarian bersama laju ombak membelah pantai. Deburannya seolah redup ditelan riuh anak-anak kota itu. Sungguh, Aku tak bisa menemani riuh anak-anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku bertemu senja. Ia memancarkan semburat jingga keemasannya. Gadis-gadis pantai menari mengikuti irama reagge ala Bob Marley. Liukan pinggul dan senyum mereka menambah keemasan semburat senja. Kulit mereka yang kemerahan padu dengan warna busana pantainya. Gadis-gadis itu bernyanyi dengan suara yang tak berirama. Cekikikan kadang menyela di antara dentingan gitar dan lagu-lagu yang didendangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak pantai membawa papan selancar. Menyambut ombak menantang gelombang. Terhempas dan terjerembab. Terdorong gelombang menuju pantai. Tawa mereka pecah. Kegembiraan menyapa. Puas setelah menaklukan ombak. Mereka bermain dengan keceriaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, maafkan aku tak bisa menyapamu senja ini. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6416508474826916080?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6416508474826916080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/surat-senja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6416508474826916080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6416508474826916080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/surat-senja.html' title='Surat Senja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3928088446372317972</id><published>2010-11-09T21:41:00.000-08:00</published><updated>2010-11-09T21:42:24.603-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Perempuan Senja</title><content type='html'>Perempuan itu menatap langit. Guratan senja bermain di antara awan-awan yang mulai gelap. Lukisan alam berpadu dengan pancaran matahari yang hampir hilang di ufuk barat. Perempuan itu melipat tangan pada dadanya yang mulai rapuh. “Senja mulai menapaki jalan hidupku,” batinnya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit terus memerah. Senja semakin tua. Burung malam mulai mengeluarkan nyanyiannya. Lampu-lampu rumah jalan sudah menyala. Mengganti matahari yang meninggalkan bumi. Malam segera menjelang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritan jangkrik menemani perempuan itu duduk di balai bambu yang juga mulai rapuh. Debu-debu kecil berterbangan menghindari tepukan tangan keriput itu. Bambu berteriak kalau tubuh ringkih mendudukinya. Bambu sudah tak sanggup menahan beban. “Saya mau istirahat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menikmati masa senjanya. Mereka hidup dalam kesendirian. Tanpa kasih sayang orang-orang yang dulu disayanginya. Hanya sesama manusia senja saja untuk menikmati sisa akhir hidup. Hidup bagi mereka hanya menjalani rutinitas sebelum dijemput. Entah bagaimana proses penjemputan, mereka tidak tahu. Hanya pasrah dalam penantian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berbaring. Menghela nafas panjang seusai merenungi hidupnya yang sudah tidak memberi arti. Sejenak ia tertidur. Terbuai mimpi. Masa muda menyergapnya. “Indahnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada senja perempuan itu berkata, “Jangan tinggalkan aku. Aku ingin berlama-lama menikmati keindahanmu. Temani aku melewati masa-masa senja ini. Mereka meninggalkan aku. Mereka memilih kembali kepada kehidupannya. Aku di sini sendiri. Hidupku sunyi. Sepi. Sekali lagi, aku minta, jangan tinggalkan aku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerit burung yang pulang ke kandang mengejutkan perempuan itu. Senja semakin tua. Guratan langit yang memerah semakin gelap. Pekat mewarnai setiap sudut yang nyaris tanpa tepi. Burung-burung yang terbang pun hilang dalam kegelapan senja. Pulang ke kandang seusai mencari nafkah. Berpuluh, bahkan beratus mil jauhnya dari kandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu ingin terus menatap senja. Ia tidak rela senja meninggalkannya. Sebutir air mengalir dari sudut matanya yang mulai kabur akibat katarak akut. Hidupnya semakin senja. Hingga senja menghilang, ia mematung di beranda rumah kayu yang sederhana itu. &lt;br /&gt;“Ah, pagi belum tiba.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3928088446372317972?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3928088446372317972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/perempuan-senja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3928088446372317972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3928088446372317972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/perempuan-senja.html' title='Perempuan Senja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4860078468814415494</id><published>2010-11-09T20:09:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T20:09:51.110-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Warung Kopi Pagi Hari</title><content type='html'>Pagi ini, warung kopi ramai. Semua meja terisi. Pelayan bolak balik melayani pelanggan. Ada yang pesan kopi, teh panas, hingga kopi susu. Ada juga yang pesan kopi pancong, kopi porsi tiga perempat gelas. Orang-orang itu lantas tenggelam dalam aktivitasnya. Berselancar di dunia maya. Up date status fesbuk. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih meja nomor tujuh. Bukan disengaja, tapi kebetulan, meja itulah yang masih kosong. Kupesan kopi saring. Bukan porsi pancong. Kuaduk dan kuteguk. Hangat menerobos ruang kerongkongan yang sejak tadi menunggu. Ada kelegaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua gadis berseragam putih merah masuk. Ia menawarkan rokok. Aku menggeleng. “Tidak merokok.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja lain, gadis itu menawarkan produk yang sama. Ia mencoba merayu calon pelanggannya agar mau membeli rokok yang ditawarkan. “Belilah bang. Murah kok. Bonus korek api lagi,” tawarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung yang ditawari senyum. Ada dialog-dialog singkat. Gadis itu berupaya menyakinkan calon pembelinya. Calon pembeli berupaya agar gadis itu betah. Walau akhirnya, ia tidak juga membeli rokok yang ditawarkan gadis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu pergi dengan kekecewaan. Meski ada senyum tipis di bibirnya. Mungkin besok, ia datang lagi. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4860078468814415494?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4860078468814415494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/warung-kopi-pagi-hari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4860078468814415494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4860078468814415494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/warung-kopi-pagi-hari.html' title='Warung Kopi Pagi Hari'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8032990720350388051</id><published>2010-11-08T19:53:00.000-08:00</published><updated>2010-11-08T19:54:46.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Aku, Huruf, dan Kata</title><content type='html'>Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Aku juga bingung harus mulai dari mana. Semua kata yang kurangkai seolah tak memberi makna. Setiap kata yang coba kutulis terasa hambar. Jika pun kalimat yang terangkai itu bermakna, ia tidak memiliki keterkaitan. Mereka lepas bak anak-anak gabus yang dimuntahkan induknya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian kata-kata, yang sebenarnya memiliki jutaan makna, menjadi tak berarti kala kurangkai jadi satu kalimat cinta. Ia sudah kehilangan keindahan. Kehilangan identitas. Ia hanya pasrah pada titik yang membuat berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, bahkan, tak sanggup lagi menyatukan huruf yang berserakan. Bergelimpangan bak sampah busuk yang baunya menyengat. Sungguh, huruf-huruf itu berteriak di antara deru angin yang menerbangkannya bersama debu jalanan. Aku bahkan tak sanggup menyelamatkan satu huruf pun untuk ditata menambah kekurangan pada sebuah kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf-huruf terus menyisakan kegalauan. Rangkaian kata-kata masih mengumbar kegamangan. Kaitan kalimat-kalimat belum memberi jawab. Berhenti sejenak pada koma, tanpa menyisakan tanda tanya di belakangnya. Dan, ketika titik menjelang, tanda seru pun terabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan mengikuti arah angin yang menerbangkan huruf. Aku berlari bersama laju angin mengejar kata. Aku terjerembab pada kalimat yang tersandunh kerakal tajam dan terhempas di ujung jemari. Debu-debu dan daun kenanga tersenyum mengejek. Aku tak sanggup untuk memarahinya, atau sekadar menggerutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku kehilangan identitas saat mulai menemukan sekumpulan huruf di bawah kenanga. Aroma bunga yang menyentak hidung membuatku mabuk. Mataku berkaca, jiwaku melayang. Huruf-huruf itu menari salsa seraya mengajaku untuk mendekapnya. Aku semakin kehilangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan kata di balik banir kenanga. Ia tak sanggup berdiri. Bicara pun tak sanggup. Hanya lenguhan panjang yang terungkap. Itu pun samar-samar. Aku memungut kata, lalu menyimpannya dalam sebuah catatan. Ia tersenyum. Sedikit getir. "Sudah lama aku menunggu orang baik yang mau menggunakan jasaku sebagai pelengkap rangakaian huruf-huruf." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak melihat ada kalimat yang begitu indah. Aku sudah mencari dalam bab-bab kehidupan. Semakin kutelisik setiap ayat pada bab itu, semakin jauh keindahannya. Hingga akhir bab, aku hanya menemukan satu titik. Tetapi ia tidak memberikan keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memungut satu huruf. Aku mengambil satu kata. Aku menata satu kalimat. Kupastikan titik tak terangkai. Huruf, kata, dan kalimat pun terangkai. Dan, aku tak bisa menutup rangkaiannya. (*)&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8032990720350388051?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8032990720350388051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/aku-huruf-dan-kata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8032990720350388051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8032990720350388051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/aku-huruf-dan-kata.html' title='Aku, Huruf, dan Kata'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-476273258729240231</id><published>2010-11-07T22:14:00.000-08:00</published><updated>2010-11-07T22:15:02.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Nak</title><content type='html'>Nak,&lt;br /&gt;Tidurlah dalam lelapmu&lt;br /&gt;Jangan terjaga sebelum waktunya tiba&lt;br /&gt;Biarkan mimpi membuaimu&lt;br /&gt;Menjelajahi malam yang penuh warna&lt;br /&gt;Menembus ruang tanpa sekat, tanpa harmoni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak,&lt;br /&gt;Nikmatilah indahnya pagi&lt;br /&gt;Hiruplah segar udara untuk kehidupan&lt;br /&gt;Guyurlah tubuhmu dengan kejernihan embun pagi&lt;br /&gt;Sabuni seluruh hidupmu agar tak sesat di jalan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, &lt;br /&gt;Biarkan debu-debu meninggalkanmu&lt;br /&gt;Jangan halangi jalannya&lt;br /&gt;Biarkan dia mengambang bersama angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak,&lt;br /&gt;Tegarlah………&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-476273258729240231?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/476273258729240231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/nak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/476273258729240231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/476273258729240231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/nak.html' title='Nak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3725258626909100220</id><published>2010-11-07T21:49:00.000-08:00</published><updated>2010-11-07T21:50:29.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Gegurat Tidur Pedagi</title><content type='html'>Kutemui dua malaikat kecilku sudah terlelap. Gegurat letih usai bermain. Sebuah senyum mengembang dalam aura tidurnya. Mungkin sedang bermimpi. Mungkin juga tahu kalau ayahnya datang. Selalu begitu setiap malam berlalu. Pedagi melenguh. Suara meluncur deras dari bibir mungilnya. Memberikan warna kamar berdinding putih yang dipenuhi jelaga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagi menguap. Di sela uapannya, ada keletihan. Matanya terbuka, sejenak mengumbar senyum. Tanpa ekspresi, ia terlelap lagi. Lelaki kecil itu lahir ketika Juni hendak berakhir. Ia menggenapi rencana kehidupanku, tentu juga menggenap rencana Tuhan atas hidup yang sudah jalani lebih dari seperempat abad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagi menemani Vanessa dalam lelapnya. Ada segaris letih mewarnai wajahnya. Usai menikmati senja yang tak begitu indah di halaman rumah. Menaiki sepeda bermain pasir. Berlari mengejar kupu-kupu yang tersesat di pohon nangka. Usai mengunyah kedondong yang buahnya tak sempat ranum karena terus dipetik. Mengitari mawar dan bunga kertas yang terus mekar. Membaui anggrek bulan yang tak pernah layu. Hanya itu keindahan di halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping dua malaikat kecilku, penjaga kunci istana cinta ikut terlelap. Lelah menjaga dua malaikat yang ceria menikmati indahnya dunia. Guratan itu kian nyata saat ia menggeliat. Membalikkan tubuh lelahnya yang mulai rapuh. Hidup baginya sebuah pengabdian. Melayani anak-anak bak kijang yang berlarian menemui rumput-rumput liar yang tumbuh mengisi hidupnya. Sibuk mengejar Pedagi dan Vanessa yang berlarian mengitari rumah mungil dalam kesederhanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam selalu begitu. Vanessa kadang protes. Pedagi hanya tersenyum. Penjaga kunci istana cinta hanya tertawa kecil mendengar protes Vanessa. Ia sudah tak sanggup lagi merangkai kata sekadar mengajukan protes kepada orang yang menikahinya pada tsunami Aceh terjadi. Ia sudah memahami kerja yang unik ini. Ia kadung mencintai orang aneh dengan pekerjaan yang aneh juga. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3725258626909100220?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3725258626909100220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/gegurat-tidur-pedagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3725258626909100220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3725258626909100220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/gegurat-tidur-pedagi.html' title='Gegurat Tidur Pedagi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4930013957088398858</id><published>2010-11-04T23:42:00.001-07:00</published><updated>2010-11-04T23:43:26.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Apa Obrolan Anda di Warung Kopi?</title><content type='html'>Apa yang Anda obrolkan jika duduk di warung kopi? Jawabnya tentu sangat variatif. Ada orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk membuka jejaring sosial semacam fesbuk. Ada juga ngobrol hal-hal yang menurut orang lain tidak penting. Setidaknya itulah yang saya amati dari banyak warung kopi di kota ini. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas berapa lama Anda mampu nongkrong di warung kopi? Jawabnya juga beragam. Ada yang tahan dari pagi hingga sore, walau hanya memesan kopi pancung, porsi seleher gelas saja. Tapi pemesan sanggup untuk berlama-lama untuk menghabiskannya. Kadang kopi sudah teramat dingin, tapi tetap saja pemesan tak beranjak dari duduknya. Inilah fenomena yang terjadi pada warung kopi di Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang betah duduk di warung kopi untuk hal-hal yang tak produktif. Tapi kita tidak menutup mata terhadap orang-orang yang melakukan aktivitasnya di warung kopi. Sebagian menganggap warung kopi itu kantornya. Kopi yang porsi pancung dan sebatang sigaret cukup untuk menuntaskan aktivitasnya. Mereka mengaku produktif, tapi tidak bisa menunjukkan seberapa besar produktivitasnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan warung kopi dengan pancungnya memang sudah menjadi fenomena bagi sebagian masyarakat di Pontianak. Entah dari mana asalnya hingga muncul istilah kopi pancung. Entah siapa yang mulai menyebutnya sebagai kopi pancung. Saya belum menemukan catatan sejarahnya. Tapi hanya keluar dari mulut ke mulut saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mahfum juga dengan kebiasaan orang yang memesan kopi pancung. Mungkin mereka kurang suka kopi, atau kantong mereka sedang kering. Atau mereka tidak enak dengan orang yang mengajaknya nongkrong, sehingga tidak terlalu membebankannya dalam membayar. Hehehehee…… Koreksi saya kalau salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan politik juga kadang menghiasi meja-meja warung kopi. Kadang berapi-api, kadang juga lemah lembut. Ada juga nada amarah dalam setiap kata yang keluar. Mungkin si pengucap sedang kesal. Berita-berita di koran juga jadi santapan dalam obrolan kaum penikmati warung kopi dengan porsi pancung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Anda memilih obrolan apa dengan porsi kopi yang mana? (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4930013957088398858?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4930013957088398858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/apa-obrolan-anda-di-warung-kopi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4930013957088398858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4930013957088398858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/apa-obrolan-anda-di-warung-kopi.html' title='Apa Obrolan Anda di Warung Kopi?'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3076326811487297780</id><published>2010-11-04T23:10:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T23:14:01.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Rindukah Kita pada Emak?</title><content type='html'>Siapa yang tidak rindu emak? Bohong kalau ada orang yang bilang tidak lagi merindukan perempuan yang melahirkannya. Bisa-bisa dianggap malin kundang. Wah, sangat tidak enak kalau sampai dapat sebutan malin kundang. Pernah kan membaca, mendengar, bahkan menonton cerita malin kundang ini? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu saya pulang kampung. Saya ingin memenuhi kerinduan selama satu tahun terakhir tidak bertemu emak. Pulang juga ingin menziarahi makam ayah yang sudah sebelas tahun mendahului kami, anak-anaknya. Kebetulan bertepatan dengan peringatan hari arwah semua orang beriman, 2 November. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak sudah tua sekali. Keriputnya jelas menghiasi kulit tuanya. Kurus. Tulang pipinya makin menonjol. Rambutnya makin memutih, walau masih sedikit hitamnya. Ia tidak bisa lagi melihat wajah saya yang senang plus bangga bertemunya. Emak sudah buta. Sejak setahun terakhir ia hanya mengenali kami dari suara saja. Usianya yang semakin senja juga membuat matanya tak kuat lagi untuk melihat. Emak betul-betul sudah tidak sanggup melihat lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tongkat yang memandunya berjalan. Itulah pengganti dua matanya yang sudah katarak akut. Walau begitu, emak masih tersenyum. Emak gembira mendengar suara khas kami, anak-anaknya. Ditingkahi ceria cucunya, kegembiraan emak makin bertambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu emak hanya empat jam. Tugas di Pontianak tak bisa kutinggalkan. Berangkat pukul empat pagi dari Pontianak. Tiba di kampung pukul delapan. Pukul sembilan menemui ayah di makamnya. Satu jam kemudian berkumpul dengan emak dan keluarga lainnya. Tengah hari, berangkat lagi ke Pontianak. Lewat transkalimantan, terasa penat di sadel sepeda motor. Pukul empat sore, tiba lagi di rumah di Pontianak. Sungguh melelahkan, tapi kerinduan kepada emak dan menziarahi makam ayah membuat kelelahan itu sirna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak memang sudah tua. Hingga putri sulungnya, Kinta mendahuluinya, emak masih bugar. Walau berjalan tertatih, semangat emak masih menyala. Ia begitu tegar menghadapi fisiknya yang sudah renta. Usia emak sudah 85 tahun. Sebuah perjalanan hidup yang tidak sebentar. Salut buat emak. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3076326811487297780?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3076326811487297780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/rindukah-kita-pada-emak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3076326811487297780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3076326811487297780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/11/rindukah-kita-pada-emak.html' title='Rindukah Kita pada Emak?'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1868892527722878686</id><published>2010-10-12T02:11:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T02:24:30.523-07:00</updated><title type='text'>Pangdam Soal Perbatasan</title><content type='html'>Panglima Kodam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Moeldoko cukup prihatin dengan pembangunan kawasan perbatasan darat antarnegara Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika berkunjung ke perbatasan, saya mendengar dari masyarakat, keinginan untuk membangun jalan paralel sudah cukup lama. Tapi kok begitu susah, ya. Coba percayakan ke tentara, pasti sudah terbangun," katanya saat bertandang ke Pontianak Post, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan program Tentara Manunggal Masuk Desa skala besar hal itu bisa dikerjakan. Hal ini yang menurut Pangdam belum diberdayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moeldoko mengungkapkan, perbatasan sangat rawan aktivitas ilegal, semacam trafficking, penyelundupan, narkotika. "Malaysia itu ketat soal narkotika, tapi kok di perbatasan itu ada aksi jual beli barang haram itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajarannya pernah menangkap aktivitas ilegal terkait narkotika tersebut.   (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1868892527722878686?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1868892527722878686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/10/pangdam-soal-perbatasan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1868892527722878686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1868892527722878686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/10/pangdam-soal-perbatasan.html' title='Pangdam Soal Perbatasan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5170106552945654780</id><published>2010-09-14T05:57:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T05:59:06.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Tambah Satu</title><content type='html'>Berapa kali sudah Anda merayakan hari kelahiran? Apakah hari ulangtahun itu dirayakan setiap tahun? Beruntunglah anda kalau sejak kecil sudah dirayakan ulangtahun. Sementara ada orang yang hingga usai perziarahannya di dunia tidak pernah sekalipun merayakan hari ulangtahunnya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya cerita lain soal merayakan ulangtahun itu. Sebagai orang yang lahir di kampung-jauh dari kebisingan kota-saya baru merayakan ulangtahun ketika memasuki bangku kuliah. Ketika usia sudah 19 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang sudah terbiasa merayakan ulangtahun, peringatan itu jadi spesial. Saya justru tidak ingat kalau saat itu sedang berulangtahun. Kepala masih plontos, teman-teman juga baru dikenal. Adalah senior-senior di Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura yang jadi inisiator peringatan sederhana itu. Tak ada kue, tak ada lilin, tak ada balon-balon yang didalamnya ada secarik kertas, yang berisi sebait doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada hanya tepukan tangan. Lantunan lagu, "happy birthday." yang dinyanyikan tanpa musik pengiring. Suara yang keluar dari teman-teman juga tidak melahirkan nada-nada yang harmoni. Tetapi itulah keistimewaannya. Kesederhanaan yang melahirkan keharuan sekaligus kesedihan. Haru karena dirayakan teman-teman baru dan lingkungan yang baru juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih karena bukan keluarga, ibu, bapak, juga orang-orang yang selama ini sangat dekat. Namun tak membuat hidup tanpa arti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saat usia sudah semakin tua. Hari bersejarah itu tetap lengang. Bukan tidak mau merayakannya. Hanya tidak ingin orang tahu, kalau kebahagiaan sebenarnya datang pada diri ini. Cukuplah dua malaikat kecil yang tetap ceria, walau mereka juga tidak tahu kalau ayahnya sedang berulangtahun. Cukuplah pemegang kunci istana cintaku yang memberikan ucapan selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, ada juga orang-orang tahu hari kebahagiaan itu. Lewat pesan singkat seluler, mereka ucapkan selamat. Lewat jejaring sosial, mereka kirim bunga, kue tart, juga ucapan di hari kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulangtahun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 14 September 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5170106552945654780?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5170106552945654780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/09/tambah-satu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5170106552945654780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5170106552945654780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/09/tambah-satu.html' title='Tambah Satu'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4179270650297479459</id><published>2010-09-02T21:02:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T21:03:56.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Bukan Lupa Pulang</title><content type='html'>Lebaran tahun ini, Wak Blogger memilih tak pulang kampung. Bukan karena lupa kampungnya yang tak masuk globe itu. Bukan juga ia lupa jalan pulang, atau tidak menghormati leluhurnya. Wak Blogger juga sebenarnya ingat di mana tembuniknya ditanam. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger tak pulang karena ia memang tak ingin pulang. Anak gaul bilang, "tak mood." Ia lebih senang beridulfitri di rumahnya sekarang. Orang-orang di kampung bilang, itu kota, walau sebenarnya rumah Wak Blogger jauh dari keramaian pasar. Banyak orang mengeluh kalau pertama kali nyari rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1991, Wak Blogger meninggalkan kampungnya. Artinya sudah hampir dua dasawarsa. Tapi Wak Blogger tak seperti Bang Toyib, yang sudah tiga kali puasa dan tiga lebaran tak pulang-pulang. Baru tahun ini saja Wak Blogger tak pulang lebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun terakhir, malahan Wak Blogger tak lagi punya acara silaturahmi ramadan, yang biasa disebut safari ramadan. Dulu, pada ramadan 2007, selama sebulan full, Wak Blogger tak pulang ke rumah. Ia berkeliling empatbelas kabupaten/kota, mengunjungi orang-orang kampung untuk berbagi keindahan ramadan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran kalau selama sebulan itu, Wak Blogger memasuki lebih dari enampuluh masjid dan surau, mulai dari yang terbuat dari papan yang kayunya sudah lapuk hingga yang termewah, bahkan masjid belum jadi benar sudah menghabiskan dana hingga satu miliar rupiah. Woww.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tahun ini, Wak Blogger benar-benar tidak punya acara safari itu. Ia hanya sibuk dengan pekerjaannya. Wajar saja, Wak Blogger tak lagi di lapangan. Kata orang sekantornya, Wak Blogger sudah jadi orang kantoran. Apapun itu, Wak Blogger tetap menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat beridulfitri. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4179270650297479459?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4179270650297479459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/09/bukan-lupa-pulang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4179270650297479459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4179270650297479459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/09/bukan-lupa-pulang.html' title='Bukan Lupa Pulang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1038955572299903469</id><published>2010-08-15T21:27:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T21:32:27.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Jalan yang Memerdekakan</title><content type='html'>Republik ini sudah merdeka selama 65 tahun. Tetapi masih banyak yang belum merasa merdeka. Bukan dari Kompeni atau Dai Nippon, tapi sesama bangsa ini. Penindasan atas nama dimarjinalkan mencuat. Konflik yang membawa simbol agama terus terjadi. Inikah yang disebut merdeka itu? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berteriak agar kemerdekaan sesungguhnya diciptakan. Pemerintah pun dianggap pihak yang belum mampu mewujudkan kemerdekaan itu. Tak ayal, gelombang protes atas nama rakyat memenuhi jalan-jalan, tugu-tugu, dan bundaran-bundaran. Gedung-gedung simbol pemerintah pun jadi sasaran kekecewaan sekaligus kemarahan rakyat dengan alasan menuntut sebuah kemerdekaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, ulangtahun kemerdekaan itu selalu dirayakan. Rangkaian seremoni bernama upacara pengibaran bendera seperti lagu lama yang dirilis ulang. Tetap sama. Yang berbeda hanya pasukan pengibar bendera. Para inspektur upacara juga sama selama lima tahun, bahkan sepuluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pedalaman sebenarnya juga merdeka dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompeni &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dai Nippon. &lt;/span&gt;Tapi, mereka sama seperti orang-orang di kota lainnya, belum merasa benar-benar merdeka. Mereka belum bisa menikmati jalan yang bagus. Jangankan mulus, menggunakan sepeda saja mereka sulit, berjalan kaki saja harus berjingkrak-jingkrak menghindari lubang-lubang yang menganga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bicara soal menonton piala dunia yang jam tayangnya dini hari. Jangan pula tanya apa mereka punya kulkas atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;air conditioning. &lt;/span&gt;Jangan harap mereka akan menyuguhkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;orange juice &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ice cream &lt;/span&gt;saat kita bertamu. Orang-orang itu pasti tidak akan menyuguhkannya. Mereka akab bilang, "Hingga 65 tahun usia republik ini, desa kami belum dialiri listrik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang-orang itu diberi ruang melihat kota, mereka kaget dan terkagum-kagum. Kesan mereka seolah-olah tak ada malam di kota. Semua sama: terang benderang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dibawa keliling kota, mereka terheran-heran. Ada keanehan yang menyeruak dibenaknya. Mau bertanya, mereka tak tahu cara bertanya. Sampai pulang pun mereka tak kuasa bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pedalaman itu sudah merdeka, tetapi belum merdeka sebagai seorang manusia yang melek informasi teknologi. Mereka tak punya ruang untuk mengenyam bangku sekolah. Jangan guru, ruang kelas tiga lokal pun sulit dibangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah kemerdekaan yang sudah 65 tahun itu bermakna? Tentu saja iya bagi sebagian orang. Merdeka berarti merdeka untuk korupsi. Merdeka berarti merdeka untuk menindas kaum marjinal, merdeka membawa simbol-simbol kemuliaan Tuhan untuk hal-hal yang anarkistis. Merdeka untuk menginjak martabat sesama untuk sebuah kepentingan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang lagi, 65 tahun ini sebenarnya belum merdeka. Mereka belum menikmati mulusnya jalan. Mereka belum bisa menonton siaran langsung piala dunia karena desanya gelap gulita. Mereka belum bisa sekolah karena guru dan ruang kelas tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah negeri ini layak merayakan sebuah peringatan ulangtahun kemerdekaan? (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1038955572299903469?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1038955572299903469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/08/jalan-yang-memerdekakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1038955572299903469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1038955572299903469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/08/jalan-yang-memerdekakan.html' title='Jalan yang Memerdekakan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-387648975972185299</id><published>2010-07-19T20:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T20:26:16.047-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Dua Pagi Vanessa</title><content type='html'>Dua pagi ini, Vanessa bangun pukul 05.00. Gadis kecilku itu bersemangat pergi ke sekolah. Maklum ini hari kedua, Vanessa masuk taman kanak-kanak di Persekolahan Pasifikus. Dua pagi itu juga ia selalu membangunkan saya dengan ucapan, “Udah pagi. Nanti Bu gurunya marah.”&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Vanessa sudah lima tahun. Secara umur, sudah layak masuk taman kanak-kanak. Setahun sebelumnya, Vanessa sudah belajar di Taman Bermain Kartini milik Suster SMFA di Jalan Danau Sentarum. Proses pengenalan dan bermain itu membuka matanya. Ia pun mulai mengenal kehidupan anak-anak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa bukanlah anak yang luar biasa. Tetapi ia begitu istimewa di mata kami. Ia memiliki semangat untuk mengetahui sesuatu semakin jelas. Ia juga bersemangat kalau belajar. Setiap hari, ia selalu belajar mengeja walau patah-patah. Bagi saya, Vanessa betul-betul anugerah yang indah dari Jubata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa sudah tidak sendiri lagi. Ia telah punya Ceska. Lelaki kecil yang lahir di penghujung Juni 2010. Vanessa pun senang. Ia bahkan tidak mau tidur hanya untuk melihat lelaki kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecilku itu bukanlah anak yang cerdas. Tapi aku mengagumi ingatannya. Aku menyukai caranya yang selalu ingin tahu. Mungkin itu bawaan karena ayahnya yang seorang jurnalis. Sehingga naluri bertanya tersurat pada dirinya. Setiap sesuatu yang baru ditanyakan. Hingga akhirnya kita bosan untuk memberi jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa bukanlah gadis yang cantik. Tapi senyumnya membuat senang berada di rumah. Tertawa renyahnya membuatku selalu ingin bercanda bersamanya. Lesung pipinya yang tidak begitu dalam membuatku selalu ingin melihatnya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa betul-betul telah membuat keluarga kami ceria. Kehadiran Ceska menggenapkan keceriaan itu. Bukan hanya saya dan seorang perempuan yang sudah setia enam tahun ini, tapi juga Vanessa yang dilahirkan pada medio Juni 2005. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-387648975972185299?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/387648975972185299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/07/dua-pagi-vanessa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/387648975972185299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/387648975972185299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/07/dua-pagi-vanessa.html' title='Dua Pagi Vanessa'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1443754928072067945</id><published>2010-07-04T07:02:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T07:07:14.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Lelaki di Ujung Juni</title><content type='html'>Pukul 16.00 pada 30 Juni 2010. Shogun biru memasuki halaman sebuah klinik di Kota Baru Ujung. Seorang perempuan meringis kesakitan turun dari sadel shogun. ''Sakit.''&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu petang itu cerah. Walau awan menodai kecerahannya, tetap saja matahari mampu menembusnya. Angin bertiup pelan seolah-olah ingin menghibur kegalauanku. Aku sedang menunggu seorang bayi dari rahim istriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidan Rahayu Budi Utami menyambut dengan senyum. Seorang stafnya kemudian memeriksa istriku di kamar KIA. Kemudian masuk ke kamar partus. Bidan Yayuk, begitu bidan itu biasa dipanggil, memeriksa dengan intensif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sebentar lagi lahir,'' kata Bidan Yayuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan anak pertama kami, Vanessa menunggu di luar ruangan. Vanessa yang biasanya ceria kini jarang ngomong. Ia sedang terserang sariawan. Sudah tiga hari ini, ia malas buka mulutnya. Caca, begitu kami memanggilnya, suka merengek menahan perih di mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidan Yayuk keluar masuk ruangan. Selain menangani istriku, ia juga memeriksa pasien lainnya. Setiap keluar ruangan partus, dia selalu tersenyum. Ia juga bilang, ''Sebentar lagi.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar kamar, kudengar jerit kesakitan istriku. ''Sakit Bu.'' Bidan mencoba menenangkannya. ''Tari nafas panjang.'' Aku di luar ruangan juga gundah. Hanya sebait doa yang kusampaikan. Agar proses persalinan istriku bisa berjalan lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 18.30, anakku yang kedua pun menatap indahnya dunia. Tangisan pertamanya mengisi ruangan kecil persalinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mungil itu laki-laki. Rambutnya lebat. Kulitnya putih. Beratnya 3,5 kilogram, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 33 cm, dan panjangnya 48 cm. Dia belum kuberi nama. Dan, akan kuberi nama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang, anakku. Nikmatilah keindahan dunia ini. Tersenyumlah karena dunia ini akan menjadi milikmu. Menangislah sekuat-kuatnya karena hidup ini untuk dirayakan. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1443754928072067945?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1443754928072067945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/07/lelaki-di-ujung-juni.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1443754928072067945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1443754928072067945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/07/lelaki-di-ujung-juni.html' title='Lelaki di Ujung Juni'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6827760852110738600</id><published>2010-05-14T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T21:24:20.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Setahun tak Jumpa Emak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/S-4hsSdq4II/AAAAAAAAAY8/qc7j3zD7yMo/s1600/EMAK.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 231px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/S-4hsSdq4II/AAAAAAAAAY8/qc7j3zD7yMo/s320/EMAK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471347642055975042" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah setahun lebih, aku tak jumpa emak. Apa ya kabarnya emak? Mudah-mudahan emak sehat. Walau aku tahu secara fisik, emak sudah sangat tua. Usianya hampir delapan puluh tahun. Aku tahu itu dari guratan-guratan wajah emak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada surat yang bilang emak sudah berumur delapan puluh tahun. Tapi pengalaman hidup yang emak ceritakan cukup bagiku untuk menerka. Emak lahir saat kompeni, Belanda dan Jepang masih menjajah. Emak merasakan pahitnya hidup di zaman itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ya kabarnya emak? Orang-orang kampungku yang kujumpai di Pontianak bilang, “emakmu masih sehat. Hanya kemarin, ia mengeluh kaki sakit. Tapi masih bisa jalan.” Syukurlah, emak sehat. Tuhan masih sayang emak. Ia masih diberi kesempatan untuk mendengar celoteh cucu dari anak bungsunya. Emak sudah tidak bisa melihat. Kataraknya sudah parah. Tongkat jadi pengganti matanya kala berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, emak juga rindu anak bungsunya ini. Apalagi aku, satu-satunya, anak emak yang disekolahkannya cukup tinggi. Aku juga anak emak yang jarang bertemu. Sejak SMP sudah merantau. Tak heran, jika kalau pulang ke rumah, aku dan emak saling berbagi rindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ya kabarnya emak? Kemarin, keponakanku yang kuliah di Widya Dharma bilang, “Nenek tetap sehat. Hanya sesekali ia mengeluh sakit. Mungkin karena usianya sudah tua.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tak muda lagi, emak masih punya semangat. Semangat untuk tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Meski buta, emak tetap ingin melaksanakan aktivitasnya. Ia keras hati untuk melakukan sendiri. Semangat inilah yang emak tanamkan pada anak-anaknya. Emak sungguh perkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang emak tinggal di kampung. Kampung yang membawanya menikmati sebuah kemerdekaan. Walau belum sepenuhnya merdeka. Paling tidak, emak tak lagi kerja rodi dan romusha. Katarak merenggut satu kemerdekaan emak. Kemerdekaan melihat indahnya dunia. Kemerdekaan menikmati teriknya sinar matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun ini, aku tak jumpa emak. Ada kerinduan menggejala. Ingin ketemu emak, tapi aku tak punya banyak waktu untuk pulang kampung. Maafkan aku, emak. Aku rindu bertemu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6827760852110738600?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6827760852110738600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/05/setahun-tak-jumpa-emak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6827760852110738600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6827760852110738600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/05/setahun-tak-jumpa-emak.html' title='Setahun tak Jumpa Emak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/S-4hsSdq4II/AAAAAAAAAY8/qc7j3zD7yMo/s72-c/EMAK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8863390414070709404</id><published>2010-04-21T06:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T06:29:54.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Empat Tahun, 2.545 Lalat</title><content type='html'>Lelaki itu bergerak perlahan. Tangan kanannya memegang rotan yang ujungnya dianyam pipih. Rotan itu diangkat. Sekali tepuk. Prokkk...seekor lalat terkapar. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah empat tahun, lelaki itu membunuh lalat. Setiap lalat yang mati ia catat pada selembar kertas bekas penanggalan. Selama empat tahun itu, lelaki yang sudah meninggal sejak 1999 itu berhasil membunuh 2.545 ekor lalat. Angka itu tertulis pada kertas yang masih tersimpan di rumahnya di Angan Tembawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu bernama Jaban. Orang Angan biasa memanggilnya Gayon. Sampai sekarang tidak ada yang tahu, bagaimana ceritanya orang-orang kampung memanggilnya begitu, bahkan isterinya, Latji juga tidak tahu. Sungguh nama alias yang misterius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat meninggal lelaki penepuk lalat itu berusia 75 tahun. Itu pun setelah berjuang melawan penyakit kelumpuhan yang dideritanya sejak lima tahun sebelum meninggal. Sungguh lelaki yang kuat dan perkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepuk lalat menjadi hiburan bagi Jaban. Sebagai putra bungsunya, saya tahu itu dilakukannya untuk menghibur diri. Ia ingin membuang kejenuhan karena penyakitnya yang tidak mungkin sembuh. Menepuk lalat menjadi memori yang paling kuingat dari seorang ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaban memiliki postur tubuh yang terbilang tinggi untuk ukuran orang Dayak, bahkan Indonesia. Tingginya sekitar 175 sentimeter. Hidungnya mancung agak membengkok. Rambutnya ikal. Rajin dan ulet. Berprinsip tegas dalam mendidik anak-anaknya. Punya semangat yang tinggi untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Padahal ia hanya seorang petani biasa yang hanya mengandalkan kebun karet saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaban tidak sekolah tinggi. Ia hanya sekolah rakyat. Baginya cukuplah bisa baca tulis. Sedangkan istrinya buta huruf. Namun bisa menghitung uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Jaban alias Gayon sudah tidak ada. Ia mengarungi perziarahan di kehidupan lain. Selamat jalan, Ayah. Aku rindu padamu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8863390414070709404?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8863390414070709404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/04/empat-tahun-2545-lalat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8863390414070709404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8863390414070709404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/04/empat-tahun-2545-lalat.html' title='Empat Tahun, 2.545 Lalat'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6205044502857335365</id><published>2010-02-09T06:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T06:45:24.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Mimpi Merengkuh Piala Dunia</title><content type='html'>Saya sungguh beruntung. Melihat dari dekat trofi asli piala dunia. Bukan hanya melihat, saya juga bisa berada di sampingnya untuk sekadar berfoto. Sungguh kesempatan yang langka. Dan, tidak semua orang bisa seberuntung itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika dikaitkan dengan seseorang yang tidak tinggal di ibukota negara. Tentu ia tidak memiliki kesempatan dan keberuntungan orang-orang yang tinggal diibukota. Saya bangga karena, bisa jadi, orang dari Angan Tembawang, yang pertama berfoto dekat trofi asli piala dunia. Bahkan, sangat mungkin, juga orang pertama dari Kalimantan Barat yang memiliki kesempatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak orang yang seberuntung saya. Bahkan orang-orang yang tinggal di Jakarta sekalipun. Walaupun mereka tahu, trofi asli piala dunia itu singgah, tapi tak punya banyak waktu untuk melihat langsung, bahkan berfoto di dekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya patut berterima kasih kepada Coca Cola. Sponsor piala dunia itu mengundang untuk meliput kedatangan sekaligus pameran trofi asli di Jakarta pada 24 -26 Januari 2010. Tentu saya tidak sendiri. Ada belasan jurnalis dari berbagai kota di Indonesia, yang tidak berasal dari Jakarta, turut menikmati keberuntungan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya tidak percaya kalau akan melihat langsung piala yang dibuat Silvio Canizzaga, pematung asal Italia. Sebuah mahakarya yang sangat indah. Patung yang kemudian menjadi impian semua orang. Terutama pemain sepakbola. Apalah artinya, menjadi pemain paling top di dunia, jika belum memegang langsung trofi asli itu. Benar-benar sebuah mimpi yang indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang belum bisa memegang langsung trofi itu. Selain ditempatkan di dalam kaca, pengamanannya sangat ketat. Di Jakarta Convention Centre, tempat trofi itu dipamerkan, petugas keamanan di ruang penyimpanan menjaganya. Mengecewakan, tapi cukup memuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung JCC disulap penyelenggara bak museum piala dunia. Mereka membaginya menjadi lima ruangan. Ruangan pertama, beragam permainan hingga pertunjukkan musik. Ada miniatur sepakbola, poster trofi piala dunia, foto-foto legenda sepakbola, hingga game-game kecil. Dan, tentu saja, aksesoris yang dominan warna merah khas Coca Cola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan kedua, pengunjung harus masuk menggunakan tiket. Setiap tiket dijual seharga lima belas ribu rupiah. Jubelan orang antre masuk. Kami cukup beruntung karena tidak perlu membeli tiket. Coca Cola menggaransi masuk tanpa membayar sepeserpun. Ruangan pertama ini juga dipenuhi kenangan-kenangan mengenai piala dunia. Setiap pengunjung diberi waktu lima belas menit untuk menikmati keindahan foto-foto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengunjung yang tidak sabar untuk pindah ke ruangan ketiga. Ruangan ini menyimpan bola-bola yang pernah dipakai dalam pertandingan piala dunia. Ada juga satu gawang. Di depan ada panggung kecil, untuk dancer unjuk kebolehan. Pengunjung boleh berfoto bersama dancer cantik nan seksi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit di ruangan kedua, pengunjung masuk ke ruangan audio. Di ruangan ini, kita diajak untuk menonton film dokumenter tentang sepakbola dalam bentuk tiga dimensi. Pengunjung diberi kacamata plastik. Aneh juga sih, tapi asik untuk menonton film dengan model seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini ruangan yang paling dinanti pengunjung. Panitia membuat aluran untuk antrean panjang yang melingkar. “Untuk foto aja harus melingkar seperti ini,” celetuk seorang teman. “Yah, itulah. Tapi ini momen penting yang nantinya tidak terlupakan,” celetuk yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia mewanti-wanti agar pengunjung tidak membawa tas, kamera saat mendekat trofi. “Tidak boleh dipegang kacanya,” kata petugas setengah berbisik. Kilatan blitz yang tak jelas, menandakan prosesi foto usai. Petugas lantas menunjuk jalan keluar agar bisa langsung mengambil fotonya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6205044502857335365?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6205044502857335365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/02/mimpi-merengkuh-piala-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6205044502857335365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6205044502857335365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/02/mimpi-merengkuh-piala-dunia.html' title='Mimpi Merengkuh Piala Dunia'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3523884323796183293</id><published>2010-01-04T06:03:00.000-08:00</published><updated>2010-01-04T06:07:17.382-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>26 Desember</title><content type='html'>Ada dua peristiwa bersejarah pada 26 Desember. Setidaknya dalam hidup saya. Dua sejarah yang tercipta empat hari sebelum 2004 berakhir. Satu sejarah kebahagiaan, satu lagi sejarah duka. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2004, setiap harinya selalu diwarnai hujan. Jalan-jalan yang menghubungkan perkampungan becek. Lubang-lubang bekas gilasan ban sepeda motor menggenang. Tak ada lagi jalur bagus yang bisa dipilih. Semuanya rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu di Angan Tembawang. Hujan terus mengguyur. Pesta sakral yang mempertemukan dua manusia lain kelamin segera dimulai. Umat sudah memasuki ruang besar Gereja Santa Maria. Hujan tetap saja tak mengalah. Ia mengalahkan kegembiraan banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua manusia berjalan mendaki. Dua puluh anak tangga dari tanah menuju bangunan dengan salib di atasnya. Saat jarum waktu baru pada angka delapan. Dua kursi plastik merah menghadap altar. Keduanya akan bersumpah janji di hadapan Tuhan untuk saling cinta sehidup semati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pesta sakral pun dimulai. Dua jam kemudian berakhir. Orang-orang mengucap salam. ''Selamat, selamat.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari gereja, orang-orang bersiap. Menyajikan sesajen untuk ritual adat. Ritual yang memperkuat janji kehidupan dua anak manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Temuai&lt;/span&gt; berdatangan. Memberi salam. Ucap selamat. Menyerahkan cinderamata. Menyantap menu tradisional yang disuguhkan: kopi, arak, dan daging babi. Usai makan, temuai saling obrol. Buka cerita soal sawah, ladang, dan karet yang mereka sadap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tetap mengguyur. Kadang deras, kali lain gerimis. Begitu terus hingga malam menjelang. Tapi orang-orang kampung tetap datang. Mereka mengajarkan sebuah solidaritas dan toleransi. Menghargai undangan yang tersebar. Ada yang pakai payung, caping yang biasa dipakai ke sawah. Ada juga yang memakai mantel walau tak bawa sepeda motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam menjelang. Hujan belum juga reda. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Temuai&lt;/span&gt; juga masih berdatangan. Di dapur, jonggos bersiap. Mengantar mempelai lelaki ke rumah perempuannya. Melakoni ritual adat untuk memperteguh ikatan perkawinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obor disiapkan. Petromak dinyalakan. Senter diganti baterainya. Suar diisi minyak tanahnya. Lemang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tumpi&lt;/span&gt; (kue kering seperti cucur), daun-daun simpur, dan beragam lainnya yang jadi kewajiban dalam melaksanakan ritual adat. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jarai-jarai&lt;/span&gt; dari rotan siap digendong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kampung itu berjalan empat kilometer. Melewati jalan-jalan rusak, licin dan berlubang. Bulan letih menerobos hujan. Gelap. Hanya samar-samar kilatan cahaya obor, petromak, dan suar. Tapi orang-orang kampung itu tetap bersemangat demi seorang laki-laki yang ingin menikahi gadisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ritual adat pun dimulai. Mempelai disandingkan. Tanpa pelaminan. Duduk lesehan beralasan tikar daun pandan dan bersandar pada dinding papan yang sudah aus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetua adat baca mantra. Mulut komat kamit mengeluarkan suara yang tak bisa kumengerti. Mereka berbahasa roh, bahasa yang hanya dimengerti dirinya sendiri. Bahasa yang juga doa untuk pengantin. Bahasa yang membawa pesan. Bahasa yang mengingatkan pengantin akan janji pernikahan. Bahasa cinta.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual berakhir pukul dua belas malam. Gadis sudah tidur. Pemuda yang datang tidak ikut. Ia disandera teman-temannya. ''Ini malam penghabis. Ini malam terakhir membujang. Jadi tidak boleh tidur. Besok sudah tidak lagi bujang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tujuh pagi pada 27 Desember, radio transistor keluaran 90-an dinyalakan. Satu berita duka tersiar: tsunami menyapu Aceh. Peristiwanya terjadi pada 26 Desember. Sama dengan hari dan tanggal perkawinan. Inilah dua peristiwa besar yang selalu diingat olehku. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3523884323796183293?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3523884323796183293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/01/26-desember.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3523884323796183293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3523884323796183293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/01/26-desember.html' title='26 Desember'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7837660568265270084</id><published>2010-01-03T21:00:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T21:01:55.918-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Gitu Aja Kok Repot Mangkat</title><content type='html'>Saya memasang bendera setengah tiang di depan rumah. Bukan sekedar ikut imbauan SBY terkait mangkatnya Gus Dur, yang pernah memimpin bangsa ini selama dua tahun. Lebih dari itu: saya mengagumi Gus Dur karena sikapnya yang mencintai pluralisme. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Indonesia berubah saat Gus Dur jadi presiden. Orang Tionghoa sangat merasakannya. Pencabutan Tap MPR tentang SBKRI, pengakuan Imlek dan Cap Goh Meh, menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui, tentu beragam kebijakan lain yang mengedepankan pluralisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang jurnalis, saya belum pernah sekalipun bertemu Gus Dur. Ketika datang ke Pontianak, saya tak punya kesempatan untuk bertemu langsung. Saya tidak mendapat tugas meliputnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, saya mengikuti pemikiran-pemikiran Gus Dur dalam statemennya di media massa.  Ia menjadi sosok yang kontroversi, fenomenal, dan berbudaya. Gus Dur begitu memesona. Intelektualitasnya sungguh teruji. Keimanannya teguh di tengah sifat pluralis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika orang menyebutnya guru bangsa. Waras juga bila orang-orang mengusulkan Gus Dur sebagai pahlawan. Tak aneh, jika Gus Dur disebut pluralis sejati. Ia sungguh memiliki kompetensi untuk itu. Sikapnya yang menghargai perbedaan menjadi panutan banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Dani, pentolan grup band Dewa, bahkan menyebut Gus Dur sebagai presiden terbaik setelah Bung Karno. Sebagai presiden Gus Dur memang tak punya proyek fisik yang fenomenal. Tapi 'proyek' cinta keberagaman membuat reformasi di Indonesia benar-benar ada. Reformasi tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Reformasi dari diskriminasi terhadap kaum minoritas di republik ini. Sungguh Gus Dur telah membuka ruang dialog antaragama yang paripurna.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kita kehilangan tokoh besar dialog antaragama, toleransi, dan pluralisme yang memperjuangkan kedamaian atau kebersamaan pertama-tama sebagai bangsa Indonesia,'' kata Pastor Johannes Robini Marianto OP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robini pernah bertemu Gus Dur selama dua jam. Baginya pertemuan dua jam itu sangat berarti. Dialog yang membuka mata semua orang arti sebuah pluralisme. Gus Dur sudah membuktikannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Gus Dur sudah mangkat pada 30 Desember 2009 sekitar pukul 18.45 di Jakarta. Gus Dur memang tak sempat merayakan pergantian tahun. Ia pergi meninggalkan pluralisme di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur pergi tanpa membuat kita repot menerima perlakuan diskiriminasi oleh sesama manusia. Ia berangkat menuju istana abadinya meninggalkan anugerah bagi kaum minoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur telah mangkat. Gitu aja kok repot telah menjadi keabadian. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7837660568265270084?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7837660568265270084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/01/gitu-aja-kok-repot-mangkat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7837660568265270084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7837660568265270084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2010/01/gitu-aja-kok-repot-mangkat.html' title='Gitu Aja Kok Repot Mangkat'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2066633761509986397</id><published>2009-12-30T20:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T20:56:05.085-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LieBoEr'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Natal di Soja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SzwtF-Dra9I/AAAAAAAAAVc/DNpVdtXz1ds/s1600-h/bolg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SzwtF-Dra9I/AAAAAAAAAVc/DNpVdtXz1ds/s200/bolg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421257632028257234" /&gt;&lt;/a&gt;Mendung menghiasi langit. Matahari tak mampu menembus kekelabuan langit. Udara Desember selalu berubah. Pagi hujan, siang cerah, sorenya bisa hujan lagi. Ini Natal ketiga kami di Soja. Dua sebelumnya, kami pulang kampung. Maklum kami terlahir sebagai orang kampung. Kali ini, kami ingin menikmati Natal di kota yang juga masih di kampung. Di ruang tamu,  ada dua pohon Natal. Satu pohon, sudah empat kali menemani kami. Satu lagi, baru tahun ini merayakan Natal bersama kami. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Natal sebelumnya, kami membuat replika kandang Natal. Kandang adalah simbol kesederhanaan hidup karena Yesus lahir di kandang penuh dengan kesederhanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, kami tidak lagi membuat kandang Natal. Hanya dua pohon Natal saja. Itupun sudah sangat indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Natal kami hanya digelar secara sederhana. Malam Natal kami ikut misa pukul enam sore. Besoknya sembahyang lagi pukul enam pagi. Kami misa di Gereja Keluarga Kudus Kotabaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal di Soja penuh kekeluargaan. Komplek perumahan yang heterogen penghuninya memelihara silaturahmi. Anak-anak Tuhan saling mengunjungi. Saling salaman. Saling bercerita. Saling menikmati makanan dan minuman yang tersaji. Tak ada curiga. Semua mengalir penuh kedamaian. Suatu kehidupan yang Pancasilais. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal di Soja sangat menggembirakan. Senyum mengembang dari bibir-bibir yang dianugerahi keindahan. Kata-kata suci mengalir dari mulut-mulut yang dibumbui rasa suka cita. Sungguh perayaan kelahiran Yesus yang membahagiakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah sebuah keluarga Katolik yang lahir dan besar dalam perlindungan Yesus. Kami ingin menjadikan tiap tiang kehidupan adalah bait-bait indah sabda-Nya. Kami ingin ruang-ruang di rumah dipenuhi syair-syair merdu lantunan suara gerejawi. Kami mau desah nafas penghuninya adalah barisan nada-nada yang penuh harmoni pada buku nyanyian madah pujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena........ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah memberi kami kehidupan. Dia yang kuasa telah membawa kemenangan. Sang Raja telah menyelamatkan. Semua rezeki yang kami terima adalah anugerah dari-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kami sekeluarga akan menghadapi tahun yang baru. Tahun, yang kata orang, penuh tantangan. Karena krisis multidimensional sedang melanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya bisa berdoa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Semoga tahun depan, setiap harinya adalah rezeki yang membahagiakan.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2066633761509986397?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2066633761509986397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/natal-di-soja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2066633761509986397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2066633761509986397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/natal-di-soja.html' title='Natal di Soja'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SzwtF-Dra9I/AAAAAAAAAVc/DNpVdtXz1ds/s72-c/bolg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5801556758045458937</id><published>2009-12-21T04:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T04:10:13.407-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Vanessa di Ruang Maria</title><content type='html'>Cairan dari botol putih mengalir lewat pipa kecil menuju pembuluh darah. Tetesannya seirama dengan detak jarum panjang jam dinding. Vanessa menjerit saat jarum menusuk venanya. Air mata mengalir. Histeria memuncak. Sejenak saja. Vanessa terdiam. Matanya meringis menahan sakit. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa ada di ruang Lidwina. Belum masuk ruangan. Ia masih di selasar rumah sakit Antonius. Perawat bilang, ''kamarnya penuh.'' Mudah-mudahan hari ini ada yang pulang. Tapi ada kabar baik, Vanessa akan pindah ke ruang Maria 2 di lantai empat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa sudah empat hari demam tinggi. Perutnya mual. Kadang muntah. Lain waktu mengeluh perutnya sakit. Vanessa hanya dirawat di rumah. Hari ketiga, ia dibawa ke dokter anak, Dedet Hidayati. Ia juga periksa darah di Bio Medis. Hasilnya masih normal. Trombosit normal. Hemoglobin yang rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai dari dokter, panasnya belum juga reda. Vanessa kemudian dibawa ke rumah sakit Antonius. Masuk unit gawat darurat langsung ditangani. Ia menjerit kala selang infus dipasang. Ia menjerit lagi saat jarum suntik menusuk tangannya. Darah tersedot ke dalam tabung. ''Ini untuk diperiksa,'' kata perawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore pukul lima, Vanessa masuk ruang Maria 2. Ruang kelas satu itu hanya menampung dua pasien. Ada televisi, air conditioning, kamar kecil. Lumayan adem. Di dinding kamar ada lukisan bunga yang tersusun dalam pot keranjang berukuran 5R. Tempat tidur Vanessa dekat jendela menghadap kaca yang bisa melihat langsung ke luar gedung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa tidur usai menonton overa van java. Acara komedi di Trans 7 yang tayang hampir setiap malam. Vanessa suka acara itu. Kadang ia tertawa, sesekali tersenyum. Polah Azis gagap bikin dia tersenyum. Tingkah Sule buat Vanessa tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar 333 bed 2 tempat Vanessa dirawat. Sudah dua hari ia dirawat. Dokter yang menangani, Charles Hutasoit belum mengizinkan pulang. Ia harus menjalani tes lagi untuk melihat apakah ada virus dengue di tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil uji darah menyatakan Vanessa positif mengandung virus demam berdarah. Tapi trombositnya sudah naik, 187 ribu dibandingkan hari pertama hanya tercatat 132 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam keduanya di kamar Maria. Hingga pukul dua belas malam, bahkan dua pagi, Vanessa tak tenang tidur. Ia rewel. Merengek. Kakinya gatal. Minta digaruk. Mungkin kena miang. Kan dia putrinya Miank. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak bisa tidur nyenyak. Sekali terpejam, kali itu juga ia minta digaruk kakinya. Sepuluh garukan, Vanessa tidur lagi. Mataku pejam lagi, dia merengek lagi. ''Sakit peyut,'' rengeknya. Peyut adalah perut baginya. Ia belum fasih menyebut huruf R. Mungkin terinspirasi oleh novel tanpa huruf R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa baru nyenyak sekitar pukul empat pagi. Aku juga ikutan pulas. Tanpa mimpi. Hanya sedikit igauan karena tetangga sudah mulai terjaga. Ibu Vanessa sudah lelap sejak pukul sebelas malam tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Vanessa dan ibunya terjaga. Pintu kamar 333 menjerit karena waktunya zuster menyuntikan obat lewat selang infus. Vanessa menjerit menolak. Menangis. ''Ndak auu. Ndak auu,'' teriaknya menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Maria 2 khusus merawat Vanessa ditutup. Karena ruangan itu dipakai jika pasien membeludak. Vanessa harus pindah ke ruang Yohanes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter belum izinkan pulang. Jika bersikeras, dokter tidak bertanggungjawab jika ada masalah setelah pulang. Aku dan ibunya putuskan belum pulang. ''Mudah-mudahan besok sudah bisa pulang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu sore, Vanessa pindah ruangan. Menunggu dipindahkan, ia dan ibunya tidur. Istirahat. Tadi malam kurang tidur. Aku pun begitu. Tapi aku memilih tidak tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tiga sore, Vanessa pindah ke Yohanes kamar 245 bed 1. Ada satu teman di ruangan itu. Selang infus sudah dibuka karena pergelangannya bengkak. Mau dipasang lagi, tapi Vanessa menolak. Harus dipaksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus tujuh orang memegang Vanessa agar bisa memasang infus. Ia berteriak. &lt;br /&gt;"Cape... Cape," teriaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi, Dokter Charles Hutasoit yang merawat Vanessa mengizinkannya pulang. Terima kasih kepada semua orang yang telah membantu Vanessa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kepada dokter, perawat yang telah gelisah karena ulah Vanessa. Doa dan simpati kolega menjadi obat yang mujarab bagi kesembuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hole...pulang." Vanessa kegirangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcome home, Vanessa. We love you full. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5801556758045458937?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5801556758045458937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/vanessa-di-ruang-maria.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5801556758045458937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5801556758045458937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/vanessa-di-ruang-maria.html' title='Vanessa di Ruang Maria'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1372903352884981512</id><published>2009-12-02T05:08:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T05:09:41.211-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Rindu Emak</title><content type='html'>Tiba-tiba saya teringat emak. Perempuan sepuh yang menjadikan tongkat pengganti matanya. Perempuan yang dari rahimnya lahir satu lusin manusia baru. Sungguh perempuan perkasa. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tinggal di kampung. Angan Tembawang yang memberinya kehidupan. Angan Tembawang yang menjadikannya ada. Sebuah tanah yang melahirkan banyak inspirasi. Kampung yang dikenang oleh orang-orang, yang di tubuhnya mengalir darah Dayak. Sebuah tanah terjanji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tak tahu kapan pastinya ia lahir. Emak juga tak tahu tahun berapa ia menikah dengan ayah, seorang lelaki yang mencintainya hingga akhir hidupnya. Dua manusia yang berbeda kelamin saling setia hingga maut menjemput. Kini, emak sudah janda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak juga tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia tak bisa baca tulis. Emak hanya bisa menghitung. Itupun hanya duit dan harga karet yang dijualnya. Selebihnya emak buta huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Zaman kami sekolah tak ada. Anak perempuan hanya tinggal di rumah,'' kata Emak memberi alasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi emak sangat istimewa. Ia mencintai kampungnya. Setia kepada tanah kelahirannya. Rindu kepada anak-anak yang memberinya kemarahan karena kenakalan. Cinta kepada rumah betangnya yang digusur dengan alasan tidak higienis. Menangis karena kampungnya diabaikan pemangku kepentingan. Ah, emak!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita emak hanya sederhana. Ia ingin kami sekolah. ''Emak boleh kolot, kalian harus pintar,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu Emak bilang waktu saya masih kelas tiga sekolah dasar. Emak sungguh luar biasa. Orang Angan Tembawang yang cerdas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar rindu emak. Rindu ocehannya kalau lagi naik pitam. Rindu cerewetnya kalau ada yang tak cocok di telinganya. Rindu kemarahannya kalau dilarang pergi ke hutan, padahal tubuh rentanya sudah tak harus lagi ke hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak ke hutan bukan membenci keramaian. Itu karena emak cinta kerimbunan. Emak rindu kicauan enggang yang tak lagi didengarnya. Rindu melihat siamang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Emak sungguh mencintai hutan yang memberinya kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini emak sudah pensiun ke hutan. Emak juga sudah purna menoreh karet. Emak juga sudah tak lagi menanam, merumput, mencangkul, bahkan panen padi di sawah atau ladang. Emak benar-benar menikmati hari tuanya dengan kesederhanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terakhir bertemu emak enam bulan lalu. Membayar rindu enam bulan sebelumnya. Bercanda dengan emak walau ia tak lagi melihat. Menjadi mata emak walau hanya semalam. Melihat senyum emak di antara keriputnya. Menumbuk sirih emak karena giginya tak kuat lagi mengunyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin rindu emak bila ingat langkah-langkah tertatihnya. Aku semakin ingin bertemu emak untuk mendengar dongeng si bungsu pengantar tidur kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin rindu emak.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1372903352884981512?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1372903352884981512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/rindu-emak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1372903352884981512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1372903352884981512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/12/rindu-emak.html' title='Rindu Emak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-611449827653961417</id><published>2009-11-20T05:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T05:07:55.408-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Notongk di Taman Mini</title><content type='html'>Kabar baik bagi orang Angan. Karya fotografi tentang ritual adat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; dipamerkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Walau hanya dipamerkan, setidaknya Dayak Angan yang tidak tercantum dalam kamus bahasa Indonesia dilihat orang-orang yang mencintai seni dan budaya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu orang yang lahir dan besar dengan identitas Dayak Angan, saya bangga. Setidaknya karya fotografi tiga jurnalis: Budi Miank (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pontianak Post&lt;/span&gt;), Muhammad Syaifullah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;), dan Jo Seng Bie (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antara&lt;/span&gt;), telah  membawa ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; kepada ruang publik yang lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pantas berterima kasih kepada Syaifullah dan Jo Seng Bie. Keduanya telah rela menempuh perjalanan yang berat untuk mengabadikan, baik tulisan maupun karya fotografi, ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; itu. Mereka sudah melakukan tugas jurnalistik yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga harus berterima kasih kepada Museum Negeri Kalimantan Barat yang sudi menjadikan karya fotografi itu bagian dari koleksinya. Saya tak menyangka museum mau menerima karya fotografi yang sangat sederhana itu. Niat saya, Syaifullah, dan Jo Seng Bie hanya sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kami ingin karya fotografi ini bisa jadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi mereka yang mencintai kebudayaan.'' Itu saya ungkapkan ketika menyerahkan karya fotografi itu kepada Rihat Natsir Silalahi yang waktu itu menjaba Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisita Kalbar. Ada juga Anthoni Runtu, kepala UPT Museum Negeri Kalbar. Datang juga banyak kolega sesama pencinta seni fotografi. Sebuah gawai yang supersederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun dari penyerahan itu, saya mendapat kabar dari Daud Dogel. Ia menjabat Kepala UPT Museum Negeri Kalbar menggantikan Anthoni Runtu, yang mutasi jadi Kepala UPT Taman Budaya Kalbar. ''Karya fotografi ritual adat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; Dayak Angan akan diikutsertakan dalam pameran budaya di Jakarta,'' kata Daud memberitahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surprise! Saya gembira sekaligus bangga. Ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; yang sudah jarang terjadi akhirnya tiba juga di Jakarta, walau hanya karya foto. Saya senang setidaknya telah berhasil mengenalkan orang Angan ke dunia luar, dunia yang masih jadi impian bagi Dayak Angan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; di TMII Jakarta membuat saya bangga sebagai orang Angan. Bagaimana tidak, ketika banyak orang tidak tahu di mana orang Angan berdiam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; menguak tabirnya. Saya malah mengistilahkan kekunoan Angan dengan, ''Jangan kau cari Angan dalam peta. Dia tertutup daun pisang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memprihatinkan memang. Sejak republik ini merdeka, orang Angan belum menikmati listrik, jalan aspal yang mulus atau aliran air bersih yang terus menerus. Orang Angan masih tertinggal. Namun orang Angan sedang berjalan menuju surga impian perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo, Angan....&lt;br /&gt;Bravo, Notongk....&lt;br /&gt;Proficiat....(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-611449827653961417?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/611449827653961417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/11/notongk-di-taman-mini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/611449827653961417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/611449827653961417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/11/notongk-di-taman-mini.html' title='Notongk di Taman Mini'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2551452585282549303</id><published>2009-11-01T18:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T18:25:55.280-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Ayah, Maafkan si Bungsu</title><content type='html'>Pagi di Asrama Sepakat pada Januari 1999. Greg, seorang bruder dari Kongregasi Maria Tak Bernoda bergegas menuju unit Thomas. Almanak baru berada pada angka sembilan. Berselimut awan, matahari tetap setia menerangi alam.  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru bangun pagi itu. Teh manis yang kubikin sebagai penghangat belum habis. Mandi juga belum. Masih bertelanjang dada karena aku masuk kuliah pukul tiga sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Greg bergegas. Pria tambun itu terhuyung. Kakinya seolah tak sanggup menahan bobot tubuh yang lebih dari seratus kilogram. Greg semakin dekat. Wajahnya seolah ingin memberikan satu kabar penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Greg mencari saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada kabar dari kampung." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ia meneruskan kabarnya, saya memotong, "Ayah saya meninggal, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greg mengangguk. Saya berterima kasih karena Greg telah memberitahu saya soal kabar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman memberi simpati. Tapi saya tidak menangis. Bagi saya, ayah sudah meninggal sejak empat tahun sebelumnya, sejak ia terserang lumpuh dan stroke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya langsung pulang kampung. Jadwal mid semester mata kuliah statistik dan probabilitas saya tinggalkan. Saya hanya berharap dosen mengerti dan bisa memberi mid susulan. Kalaupun tidak, toh saya sudah mengulang. Sebelumnya saya hanya diberi nilai C, standar untuk tidak wajib mengulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang disaku hanya 15 ribu rupiah. Itu cukup untuk ongkos. Kalau sekarang harus punya uang minimal 35 ribu rupiah. Pukul sepuluh bus berangkat dari Batulayang. Bus yang kutumpangi berhenti di Jelimpo. Bus belum bisa ke Angan Tembawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tiga sore, aku tiba di rumah. Aku tak menemukan jenazah ayah. Rupanya ayah sudah menghadap keharibaan Ilahi tiga hari lalu. Kabar kematian itu terlambat datang pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan ibu yang sudah sepuh. Tapi masih kuat untuk bekerja, bahkan bisa dibilang workaholic. Ia marah kalau dilarang kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sudah hari ketiga. Ayah meninggal malam hari. Ia minta disuapkan dodol sisa natal. Habis makan dodol, ia seperti tersedak. Diberi air putih. Tak lama kemudian, ayahmu meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu bercerita dengan wajah sembab. Ia menangis. Pria yang telah memberinya selusin anak telah tiada. Keduanya bersetia hingga akhir hayat. Sebuah cerita tali perkawinan yang patut ditiru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mahfum aku terlambat datang. Alasan kuliah baginya sangat masuk akal. Ibu tidak ingin anak-anaknya tidak sekolah. "Biar bajumu jelek, tapi hatimu bersih," begitu ibu berpesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kerabat yang bercerita bagaimana ayah meninggal. Aku hanya mendengar saja. Bagi saya, bagaimana pun caranya, tentu kesedihan tidak bisa mengembalikan ayah. Toh, ayah sudah meninggal. Ayah sudah tenang di pangkuan Yesus. Ayah sudah di surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat kali terakhir bertemu ayah ketika masih bisa bernafas. Ada mitos, kalau seseorang yang susah meninggal karena belum bertemu salah satu anaknya. Mitos inilah yang banyak orang kira menimpa ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan terakhir itu, saya berpesan kepada ayah, "Kalau ayah mau pergi, pergi saja. Jangan menunggu saya. Saya sudah merelakan ayah pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tak menjawab. Ia sudah sulit bicara. Lidahnya kaku akibat sakit yang menderanya. Tapi wajah ayah menunjukkan kecerahan. Ia tegar. Ia sudah siap menghadapi kenyataan hidup. Ayah sudah ikhlaskan jika perziarahannya di dunia harus berakhir. Ayah bahkan sudah siap meneruskan perziarahannya di kehidupan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tahun kesepuluh bagi ayah meniti jalan di kehidupan lain. Putri sulungnya sudah menyusul setahun lalu. Beberapa cucunya juga sudah menyusul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap November, kami selalu berziarah. Orang Katolik memberi waktu khusus untuk mendoakan arwah. Setiap tahun, saya selalu meluangkan waktu untuk berziarah di perkuburan ayah. Tapi tahun ini saya tidak bisa datang. Bukan saya tidak mau, tapi pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, maafkan anakmu tak bisa ikut berziarah. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2551452585282549303?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2551452585282549303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/11/ayah-maafkan-si-bungsu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2551452585282549303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2551452585282549303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/11/ayah-maafkan-si-bungsu.html' title='Ayah, Maafkan si Bungsu'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6646715684198692014</id><published>2009-10-30T22:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T22:56:43.872-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Ruang 31</title><content type='html'>RUANG 31 di sebuah sudut kota. Hanya empat neon yang menyala. Sinarnya redup. Ruangan menjadi remang. Suara dari pengeras suara menyeruak masuk ke gendang telinga. Tiga deret kursi empuk menunggu untuk diduduki. Satu meja kaca dengan sebuah monitor untuk men-serach lagu-lagu yang sedap didendangkan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada-nada mengalir tanpa harmoni. Bibir melafalkan syair-syair lagu diiringi jakun naik turun. Ini satu malam penghabisan. Esok kami harus meniti jalan sendiri. Menguak takdir yang kami ciptakan sendiri tapi kami tak mamu menghapus jejak yang telah mengisi ruang batin kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan pejuang jurnalisme mencoba berbagi rasa. Bersama menyelami keindahan malam. Menikmati dunia gemerlap dengan kerinduan. Menggarap bait-bait pertemanan dengan tali-tali kasih. Kami sedang mempererat silaturahmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam merangkak menuju pagi. Meninggalkan sisa-sisa kesepian cinta. Kami masih asik menenggak tetesan minuman tanpa alkohol. Kesejukan menyelinap di langit-langit merah muda menuju ruang pencernaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bernyanyi tanpa beban. Mendendangkan lagu-lagu dengan suara yang lebih pantas bersenandung. Berjingkrak dengan rambut yang sengaja diacak-acakan. “Ini gaya yang tak punya model. Ekspresi kebebasan setelah delapan jam dibebani tugas yang menjemukan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger senyum tanpa tunjukkan gigi melihat si gondrong berjingkrak dengan suara parau yang tak berharmoni. Kadang ia berduet. Tapi lebih banyak meruncah syair-syair yang telah dilafalkan temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu Wak Blogger ikut bernyanyi. Meraih mikrofon menyanyikan lagu favoritnya. Yang terdalam dan semua tentang kita. Dua-duanya milik Peter Pan. Hah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penghibur coba menawarkan rasa. Mengajak menikmati malam dengan cara lain. Ada yang terpikat, tapi banyak menolak. “Itu jalan menuju ruang kegelapan.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6646715684198692014?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6646715684198692014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/ruang-31.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6646715684198692014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6646715684198692014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/ruang-31.html' title='Ruang 31'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3701861770247763876</id><published>2009-10-18T07:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-18T07:26:24.953-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Aku Ingin</title><content type='html'>Aku ingin mencintaimu &lt;br /&gt;Seperti laut yang setia kepada pantai&lt;br /&gt;Seperti matahari yang enggan meninggalkan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau mencintaimu&lt;br /&gt;Bagai bulan yang setia menerangi malam&lt;br /&gt;Bagai bintang yang indah mewarnai langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mencintaimu&lt;br /&gt;Bak awan yang tak mau mengingkari kebiruan langit&lt;br /&gt;Bak pungguk yang selalu merindukan bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap mencintaimu...&lt;br /&gt;Laiknya harmoni nada yang menbuat lagu menjadi indah&lt;br /&gt;Laiknya hidup yang terus berjalan walau ada kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Miank&lt;br /&gt;Pontianak, 18 Oktober 2009 &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3701861770247763876?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3701861770247763876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/aku-ingin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3701861770247763876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3701861770247763876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/aku-ingin.html' title='Aku Ingin'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8343037184017630336</id><published>2009-10-16T05:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T05:48:23.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Wak Blogger Menduakan Blog</title><content type='html'>Sudut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Corner&lt;/span&gt; siang kemarin. Wak Blogger tercenung. Hatinya sedang mendua. Kopi yang dipesannya mulai dingin. Keriuhan cafe kopi itu tak mengganggunya. Konsentrasinya, katanya. Seperti seorang magician sedang memeragakan keahlian di hadapan ribuan penonton yang pada akhir permainannya berharap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;standing applause&lt;/span&gt;. Hah!&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger tidak sedang bermain sulap. Ia sedang bingung mengatasi perasaannya. Sekali waktu ia pindahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mouse&lt;/span&gt; ke weblognya. Lain waktu, ia memindahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mouse&lt;/span&gt; ke fesbuk. Di weblog, ia mengamati postingan tulisan lamanya. Di fesbuk, Wak Blogger menjawab chating para temannya. Wak Blogger benar-benar sedang mendua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger makin bingung. Semakin kuat ia melawan perasaannya, semakin tak mampu ia mengatasinya. Tapi bukan Wak Blogger namanya, kalau tak bisa keluar dari masalahnya. Ia tetap larut dalam kebingungannya. Tamu-tamu cafe sudah banyak yang beranjak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pasal Wak Blogger sampai bingung begitu? Usut punya usut, rupanya Wak Blogger sedang mendua. Nah? Pandai juga hatinya mendua. Gawat. Ia berselingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi pahitnya makin dingin. Wak Blogger sudah tak selera untuk menyeruputnya. Ia panggil seorang pelayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minta air putih,” pesannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan bergegas dan membawa sebotol air mineral. Wak Blogger membuka tutupnya dan langsung menumpahkan airnya ke dalam mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segar,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis satu botol, Wak Blogger tak juga menemui gagasan. Tak mau waktunya sia-sia, ia lalu menulis surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maaf, aku tak bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkanmu. Kamu adalah cinta pertamaku. Walau aku mulai berpaling ke lain hati, tapi aku tetap mencintaimu. Sekali lagi aku minta maaf karena telah menduakanmu. Aku tak bermaksud membuat sakit hati. Aku juga tak bermaksud membuatmu terluka. Aku hanya ingin ada cerita lain dalam hidupku. Aku hanya sedang dilanda kebosanan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kenapa ini? Wak Blogger berpikir. Kemudian melanjutkan suratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bersamamu aku bahagia. Bersamamu aku bisa menikmati ruang yang lebih besar. Denganmu kreativitasku semakin terasah. Waktu yang kita jalani tidak sia-sia. Semua lebih berarti. Gagasan-gagasanku cemerlang ketika kamu ada di dekatku. Hidupku lebih berarti.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lho? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi ada ruang lain yang membuatku berpaling. Ruang semu yang penuh dengan warna. Nuansa yang berbeda dengan yang kamu punya. Ada ruang-ruang untuk bercerita, berteman, hingga bermain. Ada mafia wars, farm ville, dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak blogger berhenti sejenak. Ia bimbang. Bingung harus menulis apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku senang bercinta denganmu. Tapi aku juga senang berteman dengan ruang itu. Kamu sebenarnya sangat mengerti. Selalu tersenyum bila aku datang. Selalu tertawa bisa kita bercerita. Tapi ruang lain itu, begitu menyejukan. Terkadang ruang itu membuat hati kecewa. Banyak cercaan, makian, kadang juga hinaan.  Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi aku tetap mencintaimu. I love you full.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger mengakhiri suratnya dengan satu senyuman. Senyum yang membawanya memasuki dua dunia yang berbeda tapi memiliki kesamaan. Ia kemudian memutuskan untuk mencintai keduanya: blog dan fesbuk. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8343037184017630336?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8343037184017630336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/wak-blogger-menduakan-blog.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8343037184017630336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8343037184017630336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/wak-blogger-menduakan-blog.html' title='Wak Blogger Menduakan Blog'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7151830122927406494</id><published>2009-10-09T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T21:42:28.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Identitas</title><content type='html'>Saya mencintai perbedaan. Berbeda, bagi saya, adalah anugerah yang tidak bisa dihindari. Ada keindahan, bahkan keseragaman dalam perbedaan itu. Tuhan bahkan mencintai perbedaan. Untuk itulah, Ia menciptakannya. Aneh bila tidak ada perbedaan. Apa kata dunia? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat Zechri Bajuri. Ia pernah terpilih sebagai anggota dewan di Kalbar. Belum habis masa jabatannya, ia diganti oleh kader nomor urut kedua di bawahnya. Zechri pindah partai sehingga direcall.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Mei 2005, saya diajak kunjungan kerja pada beberapa kota di Jawa. Zechri termasuk dalam rombongan itu. Saya tak begitu mengenal sosok itu. Yang saya tahu, Zechri itu anggota dewan yang duduk di komisi kesejahteraan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung, kami naik mini bus pariwisata yang dicarter untuk berkeliling kota. Isinya ada delapan orang. Zechri salah satunya.  Ada Katarina Lies, Asmaniar, saya juga termasuk di dalamnya. Tentu bersama supir yang saya tidak tahu namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, tiba-tiba Zechri ngomong. “Kalau bisa ganti darah, saya mau, berapapun biayanya. Asalkan darah saya sudah tidak sama lagi dengan yang sekarang. Asalkan saya tidak lagi dicap sebagai orang etnis yang sekarang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terperangah. Ada yang tertawa. Aneh, saya kira. Lucu juga. Saya kira Zechri tahu kalau cuci darah sekalipun, identitasnya tak akan lepas. Ia tetap sebagai orang yang etnis yang disandangnya sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Zechri sedang bergurau. Mungkin juga ia sedang merasa tidak bahagia dengan identitasnya. Tapi Zechri tidak bisa memilih. Tuhan memberinya anugerah yang berbeda dari orang lain. Kami tak menanggapi serius apa yang diucapkan Zechri. Bagi kami, saya terutama, menganggapnya sedang bergurau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga ingat dengan Hadari Majri. Saya kenal ustaz itu ketika berkeliling ikut Akil Mochtar saat maju sebagai calon Gubernur Kalbar. Akil kalah. Kini ia menjadi salah satu Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi. Hadari adalah salah satu ustaz yang setia menemani Akil dalam memberikan ceramah agama bagi masyarakat yang dikunjungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa ceramahnya, Hadari sering melontarkan kalau perbedaan itu indah. Ia kerap mengungkapkan bahwa manusia tidak bisa memilih identitasnya. Manusia tak kuasa menolak anugerah Pencipta, bahwa ia memilih lahir dari rahim seorang ibu manapun. Tuhan sudah menggariskan identitas seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau boleh memilih. Saya minta dilahirkan dari rahim seorang istri sultan di Brunei. Begitu lahir langsung kaya. Sampai tujuh turunan, kekayaan tidak habis. Tapi saya tidak bisa memilih. Saya begitu juga dengan kita semua di sini. Kita ini begini, sudah anugerah. Jadi janganlah mempermasalahkan identitas itu. Inilah perbedaan yang begitu indah.“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang berbeda identitas dengan Hadari, ceramah itu menyejukan. Kata-kata yang menunjukkan betapa perbedaan itu melahirkan keseragaman yang berujung pada keindahan. Pesan yang menyampaikan bahwa manusia tidak bisa mengingkari identitasnya. Apapun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zechri dan Hadari adalah dua sosok yang berbeda identitas. Namun dua orang ini mengingatkan saya, tentu anda juga, bahwa identitas tak perlu dipersoalkan. Perbedaan identitas antarmanusia bukan sebagai alasan untuk merusak identitas itu sendiri. Toh, kita tidak bisa mengubahnya. Bagaimanapun caranya. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7151830122927406494?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7151830122927406494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/identitas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7151830122927406494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7151830122927406494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/10/identitas.html' title='Identitas'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7010394557728803486</id><published>2009-09-23T04:39:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T04:40:50.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Vanessa Kekasihku</title><content type='html'>Vanessa kekasihku. Empat tahun sudah kita bertemu. Banyak cerita yang kau beri. Banyak warna yang kau tumpahkan. Kadang kau buat hati kesal. Marah. Kadang juga membuatku tertawa. Gembira. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku janji bertemu Vanessa. Ingin menumpahkan kerinduan. Bersenda dan bercanda. Berkeluh tentang kegalauan hati. Berkesah soal kegamangan hidup. Bermesraan di antara rumput-rumput yang menari ditiup angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa berlarian bak anak kijang. Menyusuri padang lapang. Menyeruak ilalang yang basah karena hujan semalam. Tanpa tergores. Telanjang kaki. Rambut panjangnya berkibar bagai bendera yang tegak di puncak tertinggi tiang republik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah monumen cinta, ia berhenti. Duduk sambil mengatur nafas. Menanti dengan senyuman. Setangkai bunga ilalang dipetiknya. Memainkannya di antara lentik jemarinya. Ditiupnya. Serbuk-serbuk bunga itu terbang bersama angin membawa pesan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadisku itu sangat cantik dengan gaun putihnya. Bak pengantin menunggu mempelai laki-lakinya. Semerbak parfum dari sari mawar terbang bersama angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua jam Vanessa bermain dengan ilalang. Ia menunggu kehadiran sang kekasih. Tetap tersenyum dalam penantian. Vanessa sangat sabar. Tak tampak semburat kekecewaan. Tidak ada kegalauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintai kekasihku. Aku akan setia menunggunya. Walau hari berakhir. Aku akan menunggunya,” Vanessa membatin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu Vanessa. Kecantikannya membuatku terpesona. Dunia semakin indah. Ia membuatku ceria. Kegalauan dan kegamangan terobati. Vanessa sungguh mujarab. Ia obat paten yang mengobati segala luka. Vanessa benar-benar ajaib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa kekasihku. Tetaplah tersenyum. Tetaplah ceria. Tumpahkan warna-warna kehidupan dalam hidupku. Berlarilah bagai anak kijang di padang lapang. Jangan pernah letih membuatku tertawa. Cintailah aku hingga akhir usia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa kekasihku. Aku mencintaimu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7010394557728803486?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7010394557728803486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/vanessa-kekasihku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7010394557728803486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7010394557728803486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/vanessa-kekasihku.html' title='Vanessa Kekasihku'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5185084981446026459</id><published>2009-09-15T05:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T05:40:09.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Saya Perlu Pencerahan</title><content type='html'>Sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu datang dari seorang teman. “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya prihatin. Bagaimana seseorang yang tegar seperti dia harus kehilangan semangat. Padahal setiap ketemu saya lihat dia begitu bersemangat. Apa yang terjadi? Saya menjadi seseorang yang haus dengan keingintahuan yang membuat teman tadi tidak bersemangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, teman tadi kembali mengirim pesan singkat. Ia bilang ingin bertemu. Saya langsung iyakan. Kami bertemu di sebuah warung kopi. Saya datang lebih dulu sekitar lima belas menit. Ada beberapa teman satu profesi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlihat kalau dia memiliki beban berat. Justru sebaliknya. Si pengirim pesan singkat itu tetap ceria. Kami bicara banyak hal. Mulai dari hal yang tak penting hingga sesuatu yang membangkitkan semangat hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kita rasakan hari ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus menjawab pertanyaan ini?” Saya balik bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, disimpan saja,” sahutnya. “Hah,” kesal sepertinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap ada beban yang tersirat dari senyumannya. Saya coba menerka. “Kayaknya kami sedang mengalami masalah besar?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, siapa bilang?” Dia mencoba berkelit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya. Padahal sebenarnya ia sedang memanggul salib yang cukup berat. Salib adalah analogi bagi seorang kristiani jika ia memanggul beban berat. Salib merupakan sebuah gambaran penderitaan. Sama halnya ketika Yesus mengalami penderitaan ketika memanggul salib ke Golgota untuk menebut dosa manusia. Tapi salib sekarang ini tidak sebesar salib yang dipikul Yesus. Begitu juga dengan beban yang dipanggul teman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berusaha menghiburnya. Saya malah meminta dia melawan penderitaan itu. Mengajak beban itu berkelahi. Tentu saja dengan pikiran-pikiran yang positif. Tapi bukan sebuah motivasi. Justru sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman berkilah. “Saya sudah tidak percaya dengan teori-teori motivasi. Banyak buku motivasi yang isinya tidak sesuai realita. Terkadang isinya berbohong.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawab saya? “Itu betul. Saya juga tidak percaya dengan buku-buku yang katanya bisa memberi motivasi, memberi inspirasi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bilang sama dia, “Lebih baik kamu baca buku-buku kriminal. Serial-serial pembunuhan. Tentu saja saya tidak ingin kamu berbuat kriminal. Menjadi seorang pembunuh. Tapi sebaliknya. Dari cerita-cerita itu kamu harus membunuh bebanmu. Menangkap para kriminil yang mengganggumu sehingga kamu harus kehilangan semangat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bergeming. Hanya alisnya sedikit naik. Jenggot jarangnya dipilin-pilin. Ia tidak mengangguk-angguk. Saya kira ia bingung. Atau sedang mencari alasan agar bisa meng-kick balik apa yang saya bilang tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit saya biarkan. Ia tetap bergeming. Sesekali menggaruk kepalanya. Kegatalan. Kena miang. Atau mungkin ketombean. Kadang ia memegang hidungnya yang memang tak mancung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang yang sepertimu. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya lawan. Tentu dengan hal-hal yang negatif. Saya bunuh beban-beban itu. Saya tangkap dan penjarakan dia. Dan, itu berhasil.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia makin bingung. Kopi pancung yang dipesannya diseruput. Habis. Sigaret yang tersisa sebatang disulutnya. Sekali tarik, asap mengepul. Segumpal asap bebannya turut keluar. Kembali ia tersenyum. Agak getir. Tapi ada ketenangan yang keluar. Walau sedikit. Saya kira dia mulai senang. Masih jauh dari bahagia. Semangatnya belum pulih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kami ngobrol. Kami pun bubar. Sebelum bubar, saya hanya bilang, “Jalani saja apa yang kamu dapati hari ini. Bersyukurlah karena masih ada yang mau menerima tenagamu. Berbahagialah karena kamu yang terpilih. Karena banyak yang terpanggil, tapi sedikit yang terpilih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan singkat lain masuk. Saya buka. Isinya, “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” Sebuah pesan singkat yang sama. Hah! (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5185084981446026459?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5185084981446026459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/saya-perlu-pencerahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5185084981446026459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5185084981446026459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/saya-perlu-pencerahan.html' title='Saya Perlu Pencerahan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3342907131541074161</id><published>2009-09-14T07:12:00.001-07:00</published><updated>2009-09-14T07:12:57.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Aku Bertambah Tua</title><content type='html'>Apa yang terjadi besok? Sebuah pertanyaan dari seorang teman. Saya tak menjawab pertanyaan itu. Bukan tidak mau. Tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi besok. Saya bukan seorang paranormal. Juga bukan seseorang memiliki kekuatan yang bisa menatap apa yang terjadi besok. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi satu hal yang satu dan itu pasti terjadi besok. Usia saya bertambah. Sebab kemarin, 14 September, saya menikmati pertambahan usia itu. Dan, saya semakin tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun tidak ada perayaan istimewa dengan hari kelahiran itu. Saya juga tidak berpikir mau merayakannya. Hanya ciuman hangat dari seorang gadis di rumah. Dan pelukan hangat seorang gadis kecil yang setiap pagi selalu manja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, merayakan hari kelahiran bukanlah sebuah keistimewaan. Sejak kecil tidak pernah merayakannya. Makanya sampai sekarang pun saya tidak merayakannya. Hanya beberapa orang yang kenal, mengulurkan tangan mengucapkan selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi besok? Lagi-lagi saya tidak bisa menjawab. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3342907131541074161?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3342907131541074161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/aku-bertambah-tua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3342907131541074161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3342907131541074161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/09/aku-bertambah-tua.html' title='Aku Bertambah Tua'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5656237433624722829</id><published>2009-08-30T05:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T06:04:05.976-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Spongebob Vanessa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s1600-h/000001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s200/000001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375741107111585218" /&gt;&lt;/a&gt;Vanessa menggambar spongebob. Serial kartun yang ditayangkan tiap pagi itu jadi tontonan wajibnya. Apalagi kalau mau berangkat ke sekolahnya di Taman Bermain Kartini milik Suster Misi Fransiskus St. Antonius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu bersemangat untuk belajar sambil bermain di sekolah tersebut. Bangun selalu pagi. Saat libur pun ia minta diantar pergi sekolah. Sebuah harapan yang indah jika untuk masa depan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Vanessa menarik garis tegak lurus. Kemudian satu garis mendatar yang ujung kirinya bertemu dengan bagian atas garis lurus tadi. Setelah itu Vanessa menarik satu garis lurus lagi yang diletakan di sisi kanan bukunya. Ia mengakhiri bentuk persegi panjangnya, dengan satu tarikan garis mendatar di bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lingkaran kecil dibuatnya di bagian atas persegi panjang itu. Satu garis seperti huruf L sedikit melengkung dibuat di antara dua lingkaran. Satu bulan sabit dengan garis mendatar menghubungkan kelengkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar apa? “Ini gambar spongebob.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa baru berusia empat tahun. Ia lahir pada 2005 ketika subuh baru tiba. Lima belas menit setelah lahir, hujan mengguyur kediamannya. Sebuah anugerah di hari kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu kemudian mengambil crayon. Satu warna diraihnya. Tangan mungilnya mulai mencoret. Mewarnai kotak persegi panjang yang dibuatnya. Tidak beraturan. Sesuka hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok dicoret-coret? “Ndak apalah. Biar cantik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia dua tahun, Vanessa sudah pandai mencoret. Dinding-dinding ruang keluarga penuh grafiti yang tak bermakna. Diwarnai dengan kombinasi yang sangat tidak menarik. Coretan tangan khas keinginan seorang anak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafiti dinding Vanessa tetap berlanjut. Bahkan hingga usianya empat tahun sekarang ini. Grafiti yang sekarang lebih bermakna karena berupa huruf dan angka hingga gambar-gambar kartun yang disukainya. Ya itu tadi, spongebob. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ulangtahun kemerdekaan tahun 2009, Vanessa ikut lomba mewarnai tingkat kompleknya. Ia juara dua. Hadiahnya hanya buku dan seperangkat alat untuk coret-coret lagi. Ia juga ikut lomba kecepatan dan ketepatan menyusun puzzle. Lagi-lagi ia juara dua. Ia tidak bisa cepat, tapi hati-hati. “Hanya kalah cepat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa tetap menggambar spongebob. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5656237433624722829?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5656237433624722829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/spongebob-vanessa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5656237433624722829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5656237433624722829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/spongebob-vanessa.html' title='Spongebob Vanessa'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s72-c/000001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8914480524227569308</id><published>2009-08-24T02:25:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T02:30:07.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Mereka Terpaksa Menjanda</title><content type='html'>Kerusuhan antar-etnik di Sambas merenggut jiwa suami mereka. Dalam perlarian harus membesarkan anak-anak. Harta benda diambil tanpa ganti rugi. Jalan rekonsiliasi belum terwujud. Banyak perempuan terpaksa hidup menjanda. Mereka terus bertahan sebagai single parent pasca-konflik sosial di Sambas, Februari 1999.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menakutkan!” kata Marsuah. Perempuan 45 tahun itu mulai membuka tabir gelap hidupnya. Delapan anggota keluarganya, termasuk Niram, suaminya, jadi korban keganasan orang-orang yang kehilangan akal sehatnya. Membunuh sesamanya. Sebuah tragedi yang benar-benar dibumbui rasa benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah tinggal di Desa Sengawang, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas ketika konflik antar-etnik terjadi. Ia hanya seorang petani biasa, berkebun, juga merawat sapi tetangga. Marsuah luput dari peristiwa tragis itu bersama lima anak perempuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sebenarnya tidak mau lari. Tapi keponakan saya memaksa. Biarlah kami mati, tapi kamu jangan. Saya bawa lima anak waktu lari. Tidak ada orang mau membawa. Mereka takut karena anak-anak saya masih kecil. Takut menangis di tengah hutan jadi ketahuan. Belum lagi lapar. Mereka takut tidak bisa selamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang tinggal di relokasi pengungsi kerusuhan sosial di Kabupaten Sambas itu sedang menemani cucu perempuannya. Gadis kecil yang masih berusia empat tahun itu tidak mengenakan baju ketika saya temui, pekan lalu, di rumahnya, di SP I Madani, Desa Mekarsari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Tempat ini lazim disebut Tebang Kacang. Sebuah perkampungan yang berjarak sekitar 35 kilometer dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000, ada 500 kepala keluarga yang direlokasi ke SP I Madani. Pemerintah mengirimnya secara bertahap. Penempatan rumah dilakukan dengan pola undi. Namun semua korban kerusuhan sosial, baik Sambas maupun Sanggau Ledo memperoleh satu unit rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah juga memperoleh satu unit rumah untuk memulai kehidupan barunya. Rumahnya sangat sederhana. Tak ada peralatan mewah. Bahkan cenderung kosong. Hanya beberapa kursi saja. Namun rumah beratap seng yang terbangun dari papan itu bersih. Pohon jambu air hasil cangkokan ditanam di sisi kiri rumah. Satu kios kecil menghadap jalan gang. “Bekas jual bensin. Bensin sudah tidak ada lagi,” kata Marsuah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumah Marsuah, ada sebuah polindes yang dibangun pemerintah. Namun tidak ada tenaga medisnya. Di sebelah polindes, sebuah sekolah dasar. Sayup-sayup terdengar suara guru memberikan pelajaran kepada anak-anak. Sebagian dari mereka tidak mengenal kakeknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir sepuluh tahun, Marsuah tinggal di Tebang Kacang. Namun ia belum bisa melupakan peristiwa tragis yang menimpa keluarganya. Ia bahkan menolak menikah lagi karena menghormati suaminya. “Ndaklah saya. Ingat sama bapaknya,yang diarak kepalanya. Kasian dengan dia. Makanya saya tidak mau. Anak saya juga dipinta orang, tapi saya tidak mau. Biar saya bawa sendiri. Anak saya hidup, saya juga hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah bisa selamat dari kerusuhan itu. Ia bekerja apa saja untuk menghidupi gadis kecilnya. Mulai dari kerja upahan, mengangkut papan, pipa air, hingga mencari rumput untuk makanan sapi. Semua dilakukan agar anak-anaknya bisa tumbuh dewasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hidup di Kamp Pengungsian&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik antar-etnik di Sambas terjadi pada Februari 1999. Mereka yang terpaksa melarikan diri dari rumahnya berjumlah 53.948 jiwa atau 9.913 kepala keluarga (KK). Di Kota Pontianak, mereka berjumlah 30.120 jiwa atau 5.535 KK. Mereka ditampung di lokasi pengungsian Kompleks Olahraga di Jalan Ahmad Yani juga di Asrama Haji Jalan Soetoyo. Ada juga yang diamankan di rumah keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang ditampung di Kabupaten Pontianak dengan jumlahnya 16.319 jiwa atau 2.961 KK. Mereka yang diamankan di lokasi pengungsian sebanyak 6.120 jiwa atau 1.156 KK, sedangkan di rumah keluarga 10.199 jiwa atau 1.806 KK. Di Kabupaten Bengkayang 7.504 jiwa atau 1.416 KK. Sebanyak 4.209 jiwa atau 848 KK di antaranya tinggal di lokasi pengungsian, dan sisanya 3.295 jiwa atau 568 KK menetap di rumah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal Maret 1999, mereka diungsikan dari Kabupaten Sambas, menyusul meletusnya pertikaian antar-etnik selama Februari 1999, rumah dibakar serta ratusan jiwa lainnya tewas dibunuh. Lebih dari satu tahun, mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kemudian melakukan relokasi ke Tebang Kacang. Sebuah desa yang jaraknya sekitar 35 kilometer ke arah tenggara dari Kota Pontianak. Desa Tebang Kacang masuk wilayah Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Kubu Raya resmi jadi kabupaten pada 2007 hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak. Program relokasi ini menelan biaya sekitar Rp2,5 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbekal Baju di Badan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah lain lagi. Ia jadi korban kerusuhan antar-etnik pada 1996-1997 di Sanggau Ledo, Kabupaten Sambas (sekarang Bengkayang). Ada sekitar 1.770 kepala keluarga atau sekitar 9.000 warga yang terpaksa mengungsi di dua barak yaitu barak Galang dan Motong Tinggi, yang terletak di Anjungan, Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah juga terpaksa menjanda. Suaminya, Alimin tidak selamat. Perempuan 42 tahun ini lari bersama empat anaknya, Aliati, Mohayuwin, Marliati, dan Soimah yang baru berumur 40 hari. “Ia masih merah. Baru 40 hari,” kata Marhonah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu suaminya jadi korban dari salah satu keluarganya yang selamat. Namun ia tidak begitu saja percaya. Marhonah percaya suami masih hidup dan yakin akan bertemu pada suatu saat nanti. Harus menunggu lima tahun baru percaya jika Alimin telah meninggal. Marhonah lari tidak membawa harta bendanya. Satu-satunya harta adalah baju yang melekat dibadannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mandi. Baju itu diperas, dipakai lagi. Setiap hari begitu terus. Sampai dua minggu. Itu dicuci, diperas, dipakai lagi. Semua anak-anak saya itu begitu. Setelah itu ada bantuan. Bahkan Soimah, dua minggu tidak mandi karena tidak ada air. Hanya dilap pakai handuk. Air bersih juga tidak jalan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dialami Maryam (65) dan anaknya Maisurah (28). Keduanya terpaksa menjanda. Abdullah, suami Maryam dan Syamsuri, suami Maisurah jadi korban konflik di Sanggau Ledo. Keduanya bertempat tinggal di Desa Jirak, Kecamatan Monterado, Bengkayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Maisurah baru 27 hari tiba dari Kualalumpur, Malaysia. Ia menjadi tenaga kerja wanita selama belasan tahun. Kerinduannya kepada keluarga mendorong Maisurah dan Syamsuri pulang ke Kalimantan Barat, Indonesia. Ia tak menyangka kepulangan itu justru kali pertama sekaligus terakhir bagi suaminya untuk bertemu orangtuanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya tidak punya rencana untuk pulang, tapi suami saya ingin ketemu mertuanya. Jadi balek. Sudah ada informasi dari tentara kalau ada kejadian di Kalimantan. Tapi saya tidak yakin. Beberapa kali ia mengingatkan. Bukan saya tidak percaya, tapi rasanya tidak mungkin. Memang sering terjadi tapi dapat lari. Tapi sekarang tidak bisa lari lagi,” kata Maisurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah, Maryam, dan Maisurah merupakan warga Desa Jirak, Kecamatan Monterado, Kabupaten Sambas (sekarang Bengkayang). Tiga wanita ini kehilangan suaminya akibat kerusuhan antar-etnik 1996-1997. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum konflik, ketiganya bekerja sebagai penyadap karet. Penghasilan satu hari bisa mencapai 30 kilogram. Namun itu tidak ada lagi setelah kerusuhan itu. “Kami sekarang baru mulai hidup baru lagi. Harta benda masih di sana, tapi tidak mungkin diambil lagi. Kejadian itu benar-benar membuat kami kehilangan segala-galanya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis Perempuan Kepala Keluarga Holilah mengungkapkan, konflik antar-etnik telah membuat para korban trauma. Holilah mulai mendampingi perempuan yang kehilangan suaminya sejak 2003. “Cukup sulit untuk membangkitkan kembali semangat hidup mereka. Mereka sangat trauma,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata Holilah, secara perlahan, mereka bisa melupakan kejadian itu. sehingga bisa hidup secara mandiri untuk kehidupan mereka yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Sambas, waktu itu bupatinya dijabat Tarya Aryanto, mencatat kerugian material akibat kerusuhan antar-etnik tersebut menelan kerugian hingga Rp13,56 miliar. Perkiraan itu diperoleh setelah tim inventarisasi menyelesaikan tugas pendataan di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil inventarisasi, jumlah rumah yang terbakar habis sebanyak 998 unit, dan rusak ringan 22 unit. Kemudian gedung sekolah dasar satu unit,  dan tempat ibadah enam unit. Penduduk yang kehilangan tempat tinggal tercatat 976 kepala keluarga.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8914480524227569308?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8914480524227569308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/mereka-terpaksa-menjanda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8914480524227569308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8914480524227569308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/mereka-terpaksa-menjanda.html' title='Mereka Terpaksa Menjanda'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6094514195027334556</id><published>2009-08-17T07:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T07:10:42.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Dari Angan Tembawang Kukibarkan Merah Putih</title><content type='html'>Setiap tahun, ulangtahun kemerdekaan republik ini diperingati. Setiap tahun pula, rakyat belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka masih miskin. Masih belum bisa menikmati jalan mulus, air bersih belum ada, kampung masih gelap gulita jika malam datang. Namun merah putih tetap berkibar di Angan Tembawang. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah boleh mencatat kemerdekaan Republik Indonesia sudah 64 tahun. Tapi saya belum merasa merdeka selama itu. Saya lahir sesudah tahun 1945. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengkritik negara belum memberikan kemerdekaan kepada rakyatnya. Tak sedikit yang pesimis, negara ini bisa memakmurkan rakyat. Tidak banyak yang berkata, “Saya tidak hanya mengkritik negeri ini. Saya telah berbuat banyak untuk republik ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, saya mengibarkan merah putih. Sesuatu yang tidak saya lakukan sejak dilahirkan. Bukan karena republik sudah berpihak kepada saya, tapi ada gadis kecil yang mengingatkan. Gadis kecil yang baru empat tahun usianya. Ia beli merah putih untuk dikibarkan di halaman rumah ayahnya yang belum habis kreditnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah saya tidak berada di Angan Tembawang. Tapi saya dilahirkan di desa yang jaraknya sekitar 300 kilometer dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Belum ada kemerdekaan yang sesungguhnya di desa itu. Ketertinggalan masih menghantuinya. Entah sampai kapan? Mungkin menunggu salah satu putranya menjadi eksekusi kebijakan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari republik, Angan Tembawang tetap mengibarkan merah putih. Kecintaan terhadap Indonesia sudah mengakar. Itu saya rasakan sejak lahir hingga mengenyam bangku sekolah. “Walau tertinggal, kami masih mencintai Indonesia. Kami tak ingin melepaskan diri.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6094514195027334556?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6094514195027334556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/dari-angan-tembawang-kukibarkan-merah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6094514195027334556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6094514195027334556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/dari-angan-tembawang-kukibarkan-merah.html' title='Dari Angan Tembawang Kukibarkan Merah Putih'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-776306150412568168</id><published>2009-08-05T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T06:12:01.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Mbah Surip, Gombloh, dan Kematian</title><content type='html'>Mbah Surip mengakhiri ziarahnya di dunia. Pelantun Tak Gendong itu menghembuskan nafas terakhirnya ketika berada di puncak popularitas. Ia menjadi miliarder dalam waktu singkat setelah ring back tone lagunya banyak diunduh pengguna telepon seluler. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Mbah Surip membuat semua orang berduka. Terutama keluarga, kolega, kerabat, sahabat, bahkan Presiden SBY secara khusus mengucapkan rasa belasungkawanya. Dunia panggung hiburan langsung kehilangan sosok fenomenal. Tak ada lagi Tak Gendong, Bangun Tidur, dan I Love You Full. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar Mbah Surip, ada Gombloh. Kisah penyanyi Di Radio ini tak jauh berbeda dengan Mbah Surip. Meninggal ketika lagu-lagunya sedang jadi hits. Keduanya populer saat usianya sudah menapaki tangga senja. Dua-duanya dicintai dan dikagumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dua orang ini juga punya perbedaan. Mbah Surip ngetop saat dunia hiburan sudah sangat maju. Sehingga sangat cepat dikenal. Gombloh terkenal ketika teknologi informasi belum begitu maju. Gombloh sangat minim tampil di layar televisi. Acara hiburan, musik, bahkan infotaiment juga belum ada. Namun sihir Di Radio sanggup membuat Gombloh menjadi begitu dikenal bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah bertemu kedua musisi itu. Bahkan, menontonnya secara langsung dalam sebuah acara musik juga tidak pernah. Saya hanya tahu Mbah Surip dari media televisi dan koran. Pun begitu dengan Gombloh. Saya hanya kenal dari televisi dan radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Gombloh ngetop saya masih anak sekolahan. Pun begitu ketika Gombloh meninggal. Beda dengan Mbah Surip. Ketika ia ngetop saya sudah bisa mencari duit sendiri. Anak saya, Vanessa bahkan bisa melantunkan Tak Gendong yang begitu fenomenal itu. Ibunya, Susiati, bahkan merekam suara Vanessa dengan handphonenya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Gombloh, lagu-lagu tidak sempat saya rekam. Maklum belum punya handphone. Namun lagu-lagunya masih saya ingat. Apalagi lagu yang bertemakan nasionalisme, seperti Kebyar Kebyar. Hingga sekarang lagu itu masih saya ingat. Indonesia juga masih suka menyanyikan lagu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit. Tubuhnya yang kurus memang banyak menyimpan berbagai penyakit, ditambah kebiasaan merokoknya yang sulit dihilangkan. Menurut salah seorang temannya, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin. Namun Gombloh pantang menyerah. Karena itulah ia mampu bertahan hidup cukup lama, meskipun dengan tubuh yang penyakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Mbah Surip dan Gombloh menunjukkan bahwa episode dan jalan kematian itu ada. Setiap orang memiliki jalan kematian dengan cara berbeda. Mbah Surip dan Gombloh meninggal saat berada di puncak kesuksesan. Keduanya meninggalkan orang-orang yang tengah mengandrungi karya seninya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian membuat kita mengakhiri perziarahan di dunia. Setiap orang pasti mengalami karena tidak ada keabadian. Bahkan nabi saja harus menghadapi kematian. Sebagian orang takut menghadapi kematian. Takut karena tidak siap. Tidak siap karena banyak tugas mulia yang belum dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak pernah berkata, “kematian itu bukan untuk ditakuti. Kematian itu ada untuk kehidupan yang sesungguhnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Requiem in Pace, Mbah Surip. I Love You Full. Merdeka!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-776306150412568168?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/776306150412568168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/mbah-surip-gombloh-dan-kematian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/776306150412568168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/776306150412568168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/08/mbah-surip-gombloh-dan-kematian.html' title='Mbah Surip, Gombloh, dan Kematian'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3679369651082612043</id><published>2009-07-31T22:40:00.001-07:00</published><updated>2009-07-31T22:40:41.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kita Tak Sempurna</title><content type='html'>Lihat......&lt;br /&gt;Ruang-ruang langit&lt;br /&gt;Penuh gambar kegelapan&lt;br /&gt;Menari mencari mangsa&lt;br /&gt;Mereka yang tak berderma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar......&lt;br /&gt;Gemerisik air yang menghentak batu&lt;br /&gt;Memberi nyanyian tak sempurna&lt;br /&gt;Seolah ingin berkata&lt;br /&gt;“kamu memang tak sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa....&lt;br /&gt;Kepedihan sebuah hati&lt;br /&gt;Setelah dikhianati cinta&lt;br /&gt;Merindu tak berarti&lt;br /&gt;Bertepuk tak berjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari....&lt;br /&gt;Undang sahabat masuk&lt;br /&gt;Biar hidup dengan indah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3679369651082612043?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3679369651082612043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/kita-tak-sempurna.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3679369651082612043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3679369651082612043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/kita-tak-sempurna.html' title='Kita Tak Sempurna'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7050182030890247288</id><published>2009-07-31T22:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T22:30:51.361-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Rumah Persahabatan</title><content type='html'>Inilah rumah persahabatan. Rumah yang penuh kegembiraan. Tidak ada kecemburuan, pertengkaran, dan kedengkian. Sahabat-sahabat yang mendiaminya sangat bersahaja. Seperti orang-orang bijak yang mencintai sahabat-sahabatnya. Tamu-tamu yang datang disuguhi menu-menu persahabatan. Tangganya bertahtakan emas persahabatan. Pintunya diukir dengan kata-kata yang menyejukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di rumah persahabatan, kesahajaan menjadi yang utama. Tak ada gengsi karena memiliki kelebihan atau kekurangan. Ruang-ruang hidup dengan bersahabat. Orang-orangnya bergandeng tangan. Setiap ruang adalah keceriaan. Jendelanya dari bahan yang dipenuhi cinta. Ventilasinya terbuat karena indahnya persahabatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap plafon dihiasi dengan warna-warna persahabatan. Lampu-lampu menerangi dengan cahaya yang bersahabat. Banyak orang merindukan untuk masuk ke rumah ini. Tidak sedikit yang antre untuk mendiaminya. Banyak yang bermimpi untuk menempatinya. Di tempat ini juga nestapa menjelma gembira. Mimpi-mimpi kian ditebal karena disinari cahaya persahabatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang diundang masuk ke rumah persahabatan. Tak ada pemeriksaan yang ketat seperti ketika mau masuk istana. Hanya kita perlu meninggalkan semua tradisi-tradisi di luar. Karena di rumah persahabatan kita harus mengisi ruang-ruang hidup dengan kebahagiaan. Sudut-sudut kehidupan harus dipenuhi suara-suara kejernihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan ada di mana saja. Dia ada di ruang-ruang pengap. Dalam lift yang macet. Dalam kesedihan, dalam kesendirian. Seperti seorang Mandela yang merelakan tubuhnya di penjara untuk membebaskan sahabat-sahabatnya dari diskriminasi warna kulit. Seperti Mother Teresa, yang membebaskan orang-orang terhina di jalan-jalan kumuh India. Dan, banyak lagi sahabat-sahabat yang merelakan tubuhnya didera untuk membebaskan sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga diundang untuk menempati rumah persahabatan. Semakin banyak yang masuk, semakin indah. Banyak yang merelakan tubuhnya untuk tidak mendalami persahabatan. Ada ruang kebencian yang tertutup jika kita memasuki rumah persahabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabat. Tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua berhasil mendapatkannya. Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Namun di rumah persahabatan, tidak ada pengkhianatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu masuk ke rumah persahabatan, kamu harus meninggalkan semua tradisi yang pernah kamu lakukan di luar. Kita harus masuk dengan kesucian diri untuk menemukan sahabat sejati. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7050182030890247288?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7050182030890247288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/rumah-persahabatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7050182030890247288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7050182030890247288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/rumah-persahabatan.html' title='Rumah Persahabatan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3955458016367305053</id><published>2009-07-16T07:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T07:38:43.253-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Cintai Hidup</title><content type='html'>Seorang musafir berhenti di tempat sahabatnya. Ia pun dipersilakan masuk. Bahkan ditawari menginap. Musafir menerimanya. “Ini teman lama. Sudah sepuluh tahun tak bertemu. Terakhir bertemu ketika masih sama-sama lulus SMA,” kata Musafir itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, bila sang musafir menerima tawaran menginapnya. Sahabat melayani musafir dengan cinta. Memberikan keinginan musafir yang telah berjalan jauh. Memuaskan dahaga, mengenyangkannya dari rasa lapar, memulaskan tidurnya yang sudah lama terjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang yang berteman ini ngobrol hingga larut malam. Banyak cerita, banyak kisah, banyak pengalaman yang mereka tukarkan. Ada kesibukan, ada masa santai. Ada kepedihan, kegembiraan, keputusasaan, hingga ketidakberuntungan keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir bilang, aktivitasnya membuat kesibukannya bertambah. Namun produktivitasnya memberi hasil yang memuaskan. Memang aktivitas memakan waktu yang akan memperbudak, bila tidak bisa mengelolanya. Akan tetapi, produktivitas dari aktivitas yang ada akan membebaskan kita dari waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang harus berhenti menganalisa hidup. Jangan pernah membuat pisau bedah terhadap hidup yang tengah dijalani. Jalani saja. Nikmati saja, apa adanya. Sebab analisa yang kita buat membuat hidup menjadi lebih rumit. Bahkan sangat rumit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari esok yang kita khawatirkan kemarin. Kita merasa khawatir karena menganalisa hidup. Merasa khawatir menjadi kebiasaan yang akan memperbudak diri sendiri. Inilah yang membuat hidup kita menjadi tidak senang. Kita selalu risau, resah, dan gugup menjalani hidup itu sendiri. Kita selalu meminta pertolongan orang lain. Walau melakukan hal yang sepele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa yang kita buat menjadikan hidup penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Sebab ia selalu membayangi perjalanan hidup seseorang. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan. Karena itu, kita harus menentukan sebuah pilihan. Sama seperti ketika ada pemilihan umum. Pilih-pilihan yang membuat kita menjadi lebih baik. Tidak ada satupun orang yang ingin memilih, agar hidupnya tidak lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian itu sama halnya dengan rasa sakit yang tidak bisa dihindari. Kekhawatiran juga sama halnya dengan penderitaan. Keduanya adalah sebuah pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran dan penderitaan itu ibarat intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Namun, manusia berbeda dengan emas dan intan. Manusia diasah dengan pengalamannya. Kadang penderitaan menjamahnya. Kadang kebahagiaan menghinggapi. Walau sejenak, bisa menyejukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak bilang, dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya. Dalam kehidupan lain, banyak yang beranggapan, guru lebih banyak memberi pemahaman dibanding pengalaman. Padahal pengalaman dan pemahaman adalah dua hal yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman penuh dengan rintangan. Masalah menjadi rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha. Hidup berleha-leha hanya akan membuat pengalaman dan pemahaman menjadi hampa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak mau melihat ke dalam. Ia lebih melihat keluar. Jika kita melihat keluar, maka kita tidak akan tahu kemana mau melangkah. Sangat lebih baik, jika kita melihat ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lain mengukur keberhasilan kita. Orang lain hanya bisa menilai dari luar. Apa yang terlihat itulah yang dinilai dan diukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan kepuasan. Kepuasan diukur oleh diri sendiri. Jika kita tahu kemana kaki melangkah, ia akan melahirkan kepuasan. Bekerjalah dengan ketulusan. Bekerjalah dengan hati yang terarah. Biarkan orang lain berlomba dengan waktu. Karena ia tidak akan mampu mengalahkan waktu. Waktu terus perputar, sementara kita semakin diperbudaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pujangga bilang, jalani hidup dengan cinta. Besarkan keyakinan. Tinggikan kesabaran. Buanglah segala rasa takut. Lawanlah ketidakpastian. Penuhi diri dengan rasa syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu sebuah misteri. Ia haruslah dipecahkan. Namun hidup bukanlah sebuah masalah yang mesti diselesaikan. Kembalilah kepada Tuhan. Berikan kepercayaan kita kepada-Nya. Pasrahkan diri agar Ia menuntun jejak langkahmu dalam berziarah di dunia ini. Hidup akan indah, bila kita paham untuk mengisinya. Cintailah kehidupan karena ia akan memberi hidup yang penuh dengan cinta....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3955458016367305053?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3955458016367305053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/cintai-hidup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3955458016367305053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3955458016367305053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/cintai-hidup.html' title='Cintai Hidup'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-459765083833121234</id><published>2009-07-07T00:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T00:38:14.271-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Rumah Cinta</title><content type='html'>Datang dan masukilah rumah cinta. Ada kasih sayang. Ada keindahan, kesenangan, dan kebahagiaan. Setiap tangga adalah lukisan cinta. Setiap dinding terukir syair-syair cinta. Setiap pintu mendendangkan senandung cinta. Tiang-tiang dipenuhi motif kasih. Keluarga yang tinggal di rumah cinta disinari cahaya cinta.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang perempuan yang berjalan di gelap malam. Di pundaknya tergantung tas. Sesekali kakinya menendang kerikil. Kepala terus tertunduk, seolah tak ingin melihat realita. Padahal ada segumpal cinta yang harus diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang merasa jiwanya tidak memiliki cinta. Tapi ada juga orang yang merasa kalau ia sudah dipenuhi rasa cinta. Orang-orang yang merasa tidak memiliki cinta akan menghianati cinta. Padahal kekuatan cinta yang ada dalam jiwanya sangat luar biasa. Apalagi jika cinta itu diberikan kepada orang-orang yang memusuhinya, yang iri kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, orang-orang yang merasa memiliki cinta sudah mempunyai segala-galanya. Padahal tidak semua rasa cinta yang ia miliki itu ikhlas. Ada orang yang mencintai dengan terpaksa. Mungkin saja ia sudah dijodohkan. Atau mungkin saja, ia mencintai karena ada imbal balas jasa. Cinta seperti ini biasanya tidak datang dengan keikhlasan. Rumah cinta juga tidak ikhlas menerima cinta yang tidak ikhlas. Terutama pada cinta-cinta yang dipenuhi rasa benci, dan rasa iri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat berkata, “Apakah di dalam jiwaku ada rumah cinta?” Harus diakui, dalam setiap diri manusia, rumah cinta berdiri kokoh. Namun banyak orang yang tidak mengetahui seberapa kokoh rumah cinta yang dimilikinya. Orang-orang yang tidak mampu menggali rumah cinta dalam dirinya, berarti hatinya tidak dipenuhi cinta. Lain halnya dengan mereka yang bisa menggali cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tertulis, ketuklah maka pintu akan dibukakan. Agar kita bisa menemukan rumah cinta dalam diri, ketuklah pintu rumah cinta itu. Sang maha cinta akan membukakan pintu. Ia akan berucap, “Datang dan masukilah rumah cinta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau sudah disilakan masuk, sebelum masuk, seperti yang ditulis Kahlil Gibran, sebaiknya engkau tinggalkan semua tradisi-tradisimu di luar. Sucikan dirimu agar rumah cinta bisa menerima keikhlasan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dan masukilah rumah cinta. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-459765083833121234?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/459765083833121234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/rumah-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/459765083833121234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/459765083833121234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/07/rumah-cinta.html' title='Rumah Cinta'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2559402891936805189</id><published>2009-06-12T02:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T02:57:47.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Kampungku Tertutup Daun Pisang</title><content type='html'>Tiba-tiba malam ini saya teringat kampung halaman. Ingin pulang tapi tugas kantor berjibun. Iseng-iseng saya buka datangi tuan google. Saya ketik satu nama kampung: angan tembawang. Hasilnya tentu saja tidak mengejutkan saya. Hanya ada 243 hasil telusur untuk angan tembawang dengan waktu penelusuran 0.24 detik.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedih ketika tahu berapa jumlah angan tembawang terposting dalam dunia maya. Saya semakin sedih ketika tahu kalau angan tembawang lebih banyak diposting oleh saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau saya sendiri tidak melek teknologi informasi?” saya bertanya pada diri sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya teringat seorang teman ketika masih tinggal di Asrama Sepakat. Pacarnya yang iseng-iseng lihat peta Kalbar bertanya, “kampung abang di mana?” &lt;br /&gt;Teman tadi hanya bilang, “jangan tanya di mana kampung abang. Dia tak kelihatan karena tertutup daun pisang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah! Aneh ini orang. Di peta kok ada daun pisang? Kebun kali, ya? Saya hanya senyum-senyum saja dengar celoteh teman. Pacarnya yang serius bertanya, hanya tersipu. Edan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang peta tak bisa memasukan semua tempat. Apalagi kalau skalanya kecil. Tak heran kalau banyak tempat, termasuk desa saya yang luput. Kampung yang kecil dan terpelosok itu sangat tidak mungkin masuk dalam peta yang skalanya kecil. Kasian ya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angan Tembawang, satu kampung di Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Provinsi Kalbar. Ia masih masuk Republik Indonesia. Masih tertinggal karena akses dari perkotaan jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh dusun di kampung itu: Bangka, Tutu, Angan Tembawang, Pelanjau, Limau, Rampan, dan Landak. Orangnya mayoritas bertani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang era 2000-an, orang-orang mulai kenal Angan Tembawang. Apalagi mulai banyak nama itu tercantum dalam kamus besar tuan google. Saya bangga bisa memopulerkan nama itu. Walau hanya sebatas di dunia maya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya jadi ingat ucapan seorang bijak. Jangan tanya apa yang diberikan kepadamu, tapi apa yang bisa kau berikan kepadanya. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2559402891936805189?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2559402891936805189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/06/kampungku-tertutup-daun-pisang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2559402891936805189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2559402891936805189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/06/kampungku-tertutup-daun-pisang.html' title='Kampungku Tertutup Daun Pisang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8342247522734243872</id><published>2009-05-26T03:57:00.001-07:00</published><updated>2009-05-26T03:59:51.800-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Episode Kematian</title><content type='html'>Sebagian orang yakin kalau kematian sudah digariskan. Tapi ada juga yang memberontak. Sebab ada kematian yang direncanakan, bahkan terpaksa. Lalu bagaimana sebenarnya jalan menuju kematian tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengikuti media gathering sebuah produk minuman dalam kemasan di Yogyakarta, pertengahan Mei lalu, dalam perjalanan menuju Sombron, kami melihat seorang pengendara sepeda motor bersenggolan dengan sebuah mobil pick up. Pengendara sepeda terjatuh, penutup kepalanya pecah, tubuhnya penuh goresan. Ia terluka dan tidak sadarkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kasian,” kata Pipit, salah satu pegawai perusahaan minuman dalam kemasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, “mereka sedang mendaftarkan diri untuk kehidupan berikutnya. Jika soalnya sulit, maka mereka akan kembali. Itu artinya mereka tidak lulus. Sebaliknya, kalau soalnya mudah, maka mereka akan menjalani kehidupan berikutnya. Mereka lulus. Berarti mereka sudah meninggal.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode kematian ibarat masuk perguruan tinggi. Mulanya mendaftar di universitas yang dikehendaki. Mendaftar ini sama saja dengan seseorang yang sedang sakit, dan dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapat perawatan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dokter jaga menyatakan harus menjalani rawat inap, berarti memasuk fase menunggu test. Fase menunggu ini bisa masuk intensif care unit atau ruang perawatan khusus. Di ICU, kita sedang menunggu panggilan untuk test. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak mampu ditangani di ICU, bisa saja langsung dirujuk ke ICCU. Di ICCU ini, kita harus mengisi soal-soal yang telah disiapkan. Dalam menunggu hasil pengumuman, sangatlah bergantung terhadap isian soal ketika kita berada di ICCU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kita bisa mengisi soal yang diberikan berarti bisa lulus. Itu berarti, kita harus meninggalkan dunia yang fana ini. Untuk melakoni kehidupan berikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, jika tidak bisa mengisi soalnya, berarti gagal. Itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan pertobatan dengan menjalani sisa perziarahan di bumi. Ini haruslah dimanfaatkan.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8342247522734243872?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/8342247522734243872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/05/episode-kematian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8342247522734243872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/8342247522734243872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/05/episode-kematian.html' title='Episode Kematian'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1674293954926716631</id><published>2009-03-30T20:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T20:31:19.789-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='identitas'/><title type='text'>Grafiti Tanpa Makna</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s1600-h/vanesa+(319).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s200/vanesa+(319).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319188725892535234" /&gt;&lt;/a&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu grafiti terbentuk. Coretan dinding yang tak beraturan. Seperti sebuah karya seni yang tak beraliran, bahkan (mungkin) tidak bermakna. Si pencoret juga tidak tahu sedang melukis apa, atau hanya iseng saja untuk melampiaskan kesenangan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pencoret dinding hanya seorang anak kecil. Ia baru berusia tiga tahun delapan bulan. Kegemarannya mencoret dinding menjadi ruang berukuran lima kali tiga meter itu penuh warna. Tentu saja warna yang tak beraturan dan tak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa gadis kecil yang mencoret dinding itu? Ia seorang perempuan yang terlahir pada 12 Juni 2005 di Pontianak,  sebuah gang yang mirip dengan ibu kota Perancis: Paris. Tak ada yang tahu apa yang ada dibenaknya ketika membuat grafiti itu. Tapi tak ada satupun yang melarangnya mencoret dinding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi ruang kosong tanpa grafiti. Warna warni crayon dan spidol. Tak ada keindahan. Tak ada makna, bahkan tak ada aturan dari coretan itu. Semuanya hanya kesenangan sang pencoret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pencoret tidak pernah puas. Bangun tidur, seusai makan, sehabis mandi, dan rehat sebelum tidur, selalu membuat grafiti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ia punya talenta seni yang besar. Biarkan ia memanfaatkan talenta itu dengan apa adanya. Mungkin suatu saat talenta itu akan membuatnya menjadi seorang seniman besar, yang selalu dikenang dunia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan pencoret dinding adalah bagian dari kebahagiaan keluarga. Ia membawa pencerahan ketika suntuk mendera. Tangannya yang mungil menari di tiap sudut dinding, dan lembar-lembar kosong buku seharga dua ribu rupiah. Ia bangga dengan karya seninya yang kolokan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa nama gadis kecil itu. Sejak setahun lalu, ia mulai merasakan iklim dunia belajar: playgroup. Ia menyukainya karena bertemu sejawat yang sama-sama punya rasa keingintahuan yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ingin grafiti Vanessa memberikan makna pada satu waktu nanti. Grafiti yang membawanya menjadi orang besar. Sebuah cita-cita mulia yang terpatri di dinding penuh grafiti. Tak hanya sekadar spongbob  squarepants. Lebih dari itu.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1674293954926716631?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1674293954926716631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/03/grafiti-tanpa-makna.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1674293954926716631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1674293954926716631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/03/grafiti-tanpa-makna.html' title='Grafiti Tanpa Makna'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s72-c/vanesa+(319).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5233729683154748543</id><published>2009-03-13T21:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T21:54:30.807-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><title type='text'>Miang dengan Huruf K</title><content type='html'>William Shakespeare bilang, apalah arti sebuah nama. Petuah bijak lainnya bilang nama punya makna. Lalu bagaimana dengan Miank?&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya 1996, kemudian 2002. Satu nama melekat dalam dirinya. Miank, begitu namanya dipanggil. Seorang Dayak dari Angan Tembawang, satu desa yang jauh dari Kota Ngabang, di bagian tengah Kalimantan Barat. Orang desa menggantung hidupnya dengan menoreh karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kemudian mengenalnya dengan sebutan miank. Sebuah nama yang menjadi trade mark-nya dalam dunia jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 1996, ada Orientasi Kegiatan dan Pembinaan bagi mahasiswa baru Katolik di Universitas Tanjungpura. Orkabina, begitu anak-anaknya menyingkatnya. Ini pekerjaan yang sulit karena kami harus bertanggungjawab terhadap mahasiswa baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, di Untan ada enam fakultas. Kami harus mengumpulkan sekitar 500 orang mahasiswa baru. Gedung widya Dharma jadi pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya satu dari sekian banyak panitia. Tiap fakultas ada perwakilan. Paling tidak satu atau dua orang. Saya mewakili Fakultas Teknik. Saya salah satu dari seksi pengarah massa. Seksi yang berhubungan langsung dengan mahasiswa baru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia membuat tata tertib, mahasiswa baru harus datang pukul setengah lima pagi. Sebelum masuk kelas, mereka harus mendapat pengarahan dari panitia. Tugas pengerah massa untuk mengumpulkan anak-anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tidak tidur satu malam. Harus mempersiapkan kegiatan ini. Panitia bilang jangan ada kekacauan. Pengerah massa salah satu seksi yang diminta tidak membuatnya menjadi kacau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu terlambat,” tanya Dalawi, salah satu pengerah massa. &lt;br /&gt;Mahasiswa yang ditanya diam saja. &lt;br /&gt;“Kalian ini miang. Buat kami gatal saja,” saya menimpali. &lt;br /&gt;“Sudah, push up sepuluh kali,” perintah Dalawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalawi, seorang pengerah massa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Ia memiliki nama lengkap Antonius Dalawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leni, mahasiswa baru yang terlambat itu. Seorang perempuan calon guru. Ia termasuk satu dari banyak mahasiswa yang terlambat. Ia harus jalan jongkok sejauh 50 meter. Hukum perempuan dan laki-laki memang beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 1996, pukul tiga sore, saya pulang dari kampus. Jalan pulang harus melewati kos Leni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, bang Miank. Baru pulang, ya,” tanya dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget. Ia menyapa dengan sebutan yang bukan nama saya. Leni kemudian mengingatkan saya soal miank itu. “Kan abang yang dulu waktu Orkabina sering bilang miank.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru mudeng. Itu rupanya. Saya akhirnya mahfum juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Leni menggunakan sebutan itu memanggil nama saya, toh, tidak ada orang lain yang ikut-ikutan. Biar tak punya teman, Leni tetap bergeming. Hingga saya tidak lagi bertemu Leni, tak ada orang lain yang memanggil saya dengan sebutan miang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat dari Teknik, saya langsung pulang kampung. Jadi seorang penoreh, petani sawah dan ladang, juga pengojek. Beban berat bagi seorang ‘tukang insinyur’ yang dipandang sebagai orang pintar, intelek. Memupus harapan orangtua yang ingin anaknya menjadi seorang pegawai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 2002, musim tengkawang tiba. Ada empat pohon tengkawang milik saya yang berbuah. Hasilnya lumayan walau harga jualnya sangat rendah. Seribu rupiah untuk yang kering dan tujuh ratus rupiah yang masih basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2002, saya memutuskan untuk berangkat ke Pontianak. Berbekal duit Rp500 ribu hasil menjual buah tengkawang, saya berangkat dengan restu ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan di Pontianak, saya membaca lowongan jadi repoter di harian Pontianak Post. Saya coba menulis lamaran. Tak dinyana, lamaran itu diterima. Ada 37 orang yang ikut seleksi tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian, tujuh orang diterima untuk ikut seleksi wawancara. Kala itu, CEO Pontianak Post Tabrani Hadi yang menginterview. Hanya ada dua pertanyaan saja: Anda merokok dan latarbelakang keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sudah berhenti merokok sejak 1 Januari 2002 langsung bilang tidak. Sementara latar belakang keluarga juga dijelaskan. Selebihnya hanya wejangan dari satu orangtua untuk seorang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai seleksi wawancara, lima orang yang dipanggil. Dua hari sebelum turun ke lapangan, Mella Danisari, yang mengasuh halaman Metropolis memberikan kesempatan pada reporter baru untuk memilih inisialnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini sudah ada dua Budi, satu Budi Darmawan (bud) yang bertugas di Sambas dan Budiman (bd) yang bertugas di Kapuas Pos Sintang. Nah, kamu harus cari inisial lain.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung juga harus makai inisial apa. Saya teringat dengan Leni. Sebutannya yang miang itu tergiang. “Saya makai inisial mnk aja.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu,” tanya Mella. “Miank,” jawab saya mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mella tertawa. Kok? “Miank itu kan gatal-gatal, kayak bambu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari inisial donk,” pinta Mela. Saya bergeming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Miank itu yang membuat gatal. Yang gatal itu, yang kena miank. Coba liat rebung. Dia tidak gatal kan, yang gatal, kalau kita terkena miang yang lekat di rebung,” saya mencoba memberikan dalil yang sekenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, miank menjadi satu nama baru saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo miank. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5233729683154748543?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5233729683154748543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/03/miang-dengan-huruf-k.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5233729683154748543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5233729683154748543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/03/miang-dengan-huruf-k.html' title='Miang dengan Huruf K'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3675520027639784990</id><published>2009-02-26T06:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T04:50:24.815-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s1600-h/vanessa+(133).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s200/vanessa+(133).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307110381607595714" /&gt;&lt;/a&gt;Ia perlu satu tongkat untuk berjalan. Bukan untuk menyangga tubuhnya. Tongkat itu mengganti matanya. Sejak tahun lalu, ia tidak bisa lagi melihat. Ibu sudah buta. Bukan karena sakit, tapi matanya termakan usia. Walau tak melihat, ia mengenal suara. Ibu melihat dengan hati dan nurani. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Usia ibu sudah delapan puluh tahun. Walau tak ada identitas yang bisa menunjukkan berapa usianya. Tapi dari tubuh ringkihnya tergambar kalau ia tidak lagi muda. Dari rahimnya lahir satu lusin manusia baru. Saya salah satunya. Anak keduabelas dari duabelas bersaudara. Enam dari anaknya telah pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu ibu saya. Namanya Laci. Orang akrab memanggilnya dengan Nek Ombon. Maklum waktu masih muda, ia paling suka membawa jarai, yang dalam bahasa Dayak Angan disebut ombon atau kebondon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek Ombon punya satu cita. Semua anak-anak bisa baca tulis. Syukur-syukur kalau bisa bergelar sarjana. Walau tak semua, cita-citanya tercapai. Dua anaknya bergelar sarjana. Satu jurusan agama. Satu lagi jurusan teknik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak pernah sekolah. Ia tak bisa baca tulis. Ia hanya bisa menghitung. Itupun harga barang. Terutama karet. Kami anak-anaknya yang menjual karet tak bisa bohong. Ibu tahu kalau kami bohong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu termasuk istri yang setia. Ia merawat suaminya yang sejak 1994 terkena lumpuh total. Makan, minum, mandi, sekaligus buang kotoran di tempat tidur. Empat tahun ia harus menghadapinya. Baginya menjadi istri adalah amanah. Pada Januari 1999, ibu resmi menjanda. Ayah saya meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sendiri, ibu tetap berjuang mengongkosi pendidikan saya. Hasilnya satu gelar sarjana teknik berhasil digondol. Walau kemudian tidak bekerja sesuai spesialisasi. Tapi ibu tetap bangga. Ia bisa berdiri tegak di antara orang-orang kampung yang dulu mengejeknya. “Untuk apa mengongkosi anak sekolah tinggi. Nantipun ia akan jadi petani.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tipe orang yang bekerja keras. Ketika masih kuat, tak satu haripun dilewatkan tanpa kerja. Ia pernah marah ketika disuruh berhenti kerja. Ia bilang, “sakit badan ibu ndak kerja.” Wuuiiihhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ibu benar-benar sudah tidak kerja. Bukan karena tidak mau. Tubuh tuanya sudah tidak kuat. Ia berjalan pun harus pakai tongkat. Kalau tidak, apapun di depannya akan ditabrak. Ia sudah tidak bisa melihat. Ia buta. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3675520027639784990?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3675520027639784990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/02/ibu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3675520027639784990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3675520027639784990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/02/ibu.html' title='Ibu'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s72-c/vanessa+(133).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2494845884729508735</id><published>2009-02-12T22:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T22:14:55.023-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Mencari Tuhan</title><content type='html'>Pernahkah Anda membaca riwayat Santo Agustinus? Atau pernahkah Anda menonton film ‘Para Pencari Tuhan’. Jika belum, ada baiknya Anda segera menjelajahi dunia maya dengan bertanya pada tuan google. Atau Anda segera pergi menemui penjual video cassette disk untuk membeli film besutan Deddy Mizwar tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Katolik, seperti saya, Santo Agustinus sangat dihormati. Saya sudah dikenalkan pada seorang Santo Agustinus sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia begitu terkenal sehingga kami yang masih belia pun harus mengenalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita tentang Santo Agustinus. Saya hanya menerima satu dari sekian banyak cerita itu. Pembimbing saya ketika masih SMP hanya bercerita bagaimana Agustinus mencari Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, saya teringat kembali cerita guru pada 15 tahun lalu itu. Saya mencoba mengingat-ingat. Tapi tidak juga kunjung ingat. Saya kemudian teringat ada tuan google yang bisa jadi tempat bertanya. Begitu google saya jelajahi, hasilnya sungguh luar biasa. Ada sekitar 110.000 hasil telusur untuk Santo Agustinus dengan durasi selama 0.09 detik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya telusuri satu film  berjudul, “Para Pencari Tuhan”.  Ada sekitar 146.000 hasil telusur dengan durasi selama 0.08 detik. Para Pencari Tuhan adalah sinetron kuis Ramadhan berdurasi 1,5 jam. Sinetron ini ditayangkan oleh SCTV, diproduksi PT Demi Gisela Citra Sinema. Skenarionya ditulis Wahyu HS dan disutradarai oleh Deddy Mizwar dan Kiki ZKR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Agustinus dan Para Pencari Tuhan memberi satu pelajaran bagi manusia. Pelajaran yang membuat manusia tidak serta merta mencari fisik Tuhan. Sebab Tuhan tidak hadir dalam bentuk fisik seperti halnya mahluk yang diciptakan-Nya. Tuhan hadir dalam diri setiap mahluk yang dicipta-Nya. &lt;br /&gt;Santo Agustinus yang dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya St. Monika, seorang Kristen yang saleh. Sementara Para Pencari Tuhan bercerita tentang kehidupan seorang penjaga mushaladan ketiga muridnya yang mantan narapidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada legenda yang terkenal seorang Santo Agustinus. Kisah inilah yang diceritakan guru ketika saya masih SMP. Cerita ini begitu membekas hingga saya ingin mencarinya dengan menjelajahi dunia maya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suatu hari, Santo Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil di tepi pantai. Saat itu Ia sedang berusaha memahami misteri Trinitas ketika dilihatnya seorang anak kecil sedang berusaha memasukkan air laut ke dalam lubang kecil yang digali anak itu di tepi pantai. Agustinus menertawai anak itu karena usaha yang dilakukan anak itu adalah sia-sia belaka. Tetapi, anak itu malah menjawab bahwa usaha seorang manusia untuk memahami Allah adalah juga sia-sia belaka. Barulah Agustinus terbuka matanya bahwa anak kecil itu adalah Tuhan Yesus sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa manusia mencari Tuhan? Tuhan adalah jawab dari semua hal. Persoalan akan selesai jika manusia pasrahkan diri kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak menjawab, seperti seorang ayah mengabulkan permintaan anaknya yang ingin membeli es krim. Tuhan juga tidak menjawab pertanyaan, seperti halnya seorang murid bertanya pada gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menjawab permintaan, mengabulkan permohonan, dan mengiyakan doa, dengan cara lain. Cara yang tanpa disadari oleh manusia. Cara yang jauh dari nalar dan logika manusia. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2494845884729508735?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2494845884729508735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/02/mencari-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2494845884729508735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2494845884729508735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/02/mencari-tuhan.html' title='Mencari Tuhan'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7265181527053404649</id><published>2009-01-24T19:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T19:26:22.205-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Riwayat Karet</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;by: budi miank&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Srek...srek...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lading &lt;/span&gt;berlari mengitari pohon&lt;br /&gt;Darah putih mengalir &lt;br /&gt;Mengikuti alur gesekan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu daun menancap membentuk pancur&lt;br /&gt;Tetes-tetes darah putih berjatuhan&lt;br /&gt;Mulanya deras&lt;br /&gt;Kemudian menyusut&lt;br /&gt;Dan berhenti&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tadah&lt;/span&gt; menunggu di bawah pancur&lt;br /&gt;Bambu tua terbelah&lt;br /&gt;Termpurung kelapa menganga&lt;br /&gt;Menampung darah putih yang berjatuhan&lt;br /&gt;Setia hingga tetes terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani datang&lt;br /&gt;Ia membawa satu ember&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tadah&lt;/span&gt; diangkat&lt;br /&gt;Darah putih berpindah tempat&lt;br /&gt;Kulat dikuliti&lt;br /&gt;Petani tempelkan di bibir ember&lt;br /&gt;Kadang digumpalkan&lt;br /&gt;Membentuk satu bantal kecil&lt;br /&gt;Terkadang berbentuk bola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap batang didatangi&lt;br /&gt;Semua isi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tadah&lt;/span&gt; dipindahkan&lt;br /&gt;Tak bersisa&lt;br /&gt;Petani pun pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kibasan ilalang tak dipedulikan&lt;br /&gt;Walau menggesek celana selutut yang berderai&lt;br /&gt;Ember nongkrong manis di pundak&lt;br /&gt;Menuruni tebing&lt;br /&gt;Menapaki tangga-tangga tanah&lt;br /&gt;Licin ketika hujan turun&lt;br /&gt;Liat ketika hujan baru usai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang rumah&lt;br /&gt;Petani turunkan ember&lt;br /&gt;Satu bak disiapkan&lt;br /&gt;Diolesi tanah biar tak melekat&lt;br /&gt;Kulat dipisahkan dari latek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu seloki cuka getah dituangkan&lt;br /&gt;Petani mengaduk&lt;br /&gt;Setengah beku&lt;br /&gt;Latek dituangkan di dalam bak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani menunggu&lt;br /&gt;Latek beku&lt;br /&gt;Dituangkan dalam satu cetakan&lt;br /&gt;Getah beku dibentuk jadi satu lembaran&lt;br /&gt;Cukup tipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani membersihkan diri&lt;br /&gt;Tangan dan kaki&lt;br /&gt;Penuh latek yang membeku&lt;br /&gt;Serabut kelapa untuk menggosoknya&lt;br /&gt;Terkadang dilumasi minyak tanah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktunya tiba&lt;br /&gt;Lembaran getah dibawa ke penggilingan&lt;br /&gt;Biar tipis dan lebih rapi&lt;br /&gt;Dijemur hingga kering&lt;br /&gt;Karet pun siap jual.......&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7265181527053404649?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7265181527053404649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/narasi-satu-lading.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7265181527053404649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7265181527053404649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/narasi-satu-lading.html' title='Riwayat Karet'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3803496852970324590</id><published>2009-01-23T20:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:29:58.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><title type='text'>Kusni Kadut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://reinhardjambi.files.wordpress.com/2008/04/kusni-1.jpg?w=238&amp;h=300"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 8px 8px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 298px;" src="http://reinhardjambi.files.wordpress.com/2008/04/kusni-1.jpg?w=238&amp;h=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika masih SMP, satu guru bercerita soal Kusni Kasdut. Ia bilang Kusni Kasdut itu penjahat ulung yang divonis mati pengadilan. Kusni Kasdut begitu terkenal ketika melakukan tindak kejahatan. Ia tak segan melakukan pembunuhan dengan kekejian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak punya pretensi apa-apa soal Kusni Kasdut. Ia tidak saya kenal. Apalagi ketika saya SMP, teknologi informasi belum begitu populer. Secepat itu juga saya melupakan penjahat legendaris itu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun berlalu, tiba-tiba saya teringat orang yang begitu terkenal di eranya. Saya coba browsing di dunia maya. Saya temui tuan Google. Setidaknya ada 11.300 hasil telusur untuk Kusni Kasdut, dengan waktu telusur selama 0,05 detik. Hal yang luar biasa karena begitu banyak literatur soal penjahat itu. Dari banyak penelusuran itu, saya tertarik dengan postingan milik satu sahabat dari Jambi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reinhard Hutagaol, si empunya blog. Postingan soal Kusni Kasdut ia ambil dari berbagai sumber. Cukup menarik. Ada beberapa foto Kusni Kasdut yang ditampilkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3803496852970324590?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3803496852970324590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/kusni-kadut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3803496852970324590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3803496852970324590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/kusni-kadut.html' title='Kusni Kadut'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5455100878715746230</id><published>2009-01-02T22:05:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T23:37:03.498-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Dayak Angan dalam Mozaik Dayak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SV8DE9ppi-I/AAAAAAAAATg/qXsm4cnpdrk/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SV8DE9ppi-I/AAAAAAAAATg/qXsm4cnpdrk/s200/Untitled-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286947871359863778" /&gt;&lt;/a&gt;Dua manusia Dayak dan satu orang Jawa melakukan penelusuran suatu identitas. Tiga orang itu butuh waktu lebih dari sepuluh tahun untuk mengumpulkan beragam data. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengolahnya dan mengemasnya dalam bentuk satu mozaik. Dayak Angan, satu dari banyak identitas yang masuk dari mozaik itu. Buku Mozaik Dayak itu diluncurkan di Pontianak pada 17 Mei 2008. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Saya diundang panitia, bukan sebagai manusia Dayak yang diteliti identitasnya, tapi sebagai seorang jurnalis untuk meliput. Dalam undangan ada satu potongan motif Dayak yang menempel pada latar kertas berwarna hitam. Dalam undangan itu juga tertulis satu judul, yang saya pikir itu buku, ‘Mozaik Dayak; Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak.’ Semua ditulis dalam huruf kapital.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar tahu apa isi mozaik itu, saya datang pada pesta peluncurannya. Saya bertemu beberapa teman. Saya bicara juga pada dua manusia Dayak yang menelurusi identitas dalam mozaik itu: Albertus dan Sujarni Alloy. Saya bertemu, tapi tidak berbicara, dengan satu orang Jawa yang terlibat dalam menyusun mozaik itu: Chatarina Pancer Istiyani. Banyak hal yang diceritakan dua manusia Dayak yang selama bertahun-tahun mengumpulkan catatan-catatan yang sempat hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Saya tidak akan cerita bagaimana kisah para penelusur itu. Saya ingin tulis satu kegembiraan saja. Saya ingin berbagi kebanggaan. Satu Dayak yang selama ini tidak dikenal orang, tercatat dalam mozaik itu: Dayak Angan. Satu komunitas dari mana saya berasal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga penelusur identitas itu menempatkan subsuku Dayak Angan pada halaman 67, bagian 4 ‘Keberagaman Suku Dayak di Kalimantan Barat’ di mozaiknya. Ia menempati urutan pertama karena disusun sesuai abjad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bahasan soal Dayak Angan itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subsuku Dayak Angan adalah subsuku Dayak yang bermukim di wilayah adat atau Binua Angan di Kabupaten Landak. Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tayan di Kabupaten Sanggau. Bahasa yang dituturkan oleh orang Angan adalah bahasa Angan Be-aye’. Bahasa Ba-aye’ menyebar sampai ke Kecamatan Tayan. Di daerah Tayan dan Sosok, bahasa Angan Ba-aye’ tersebut disebut juga bahasa Mali. Penduduk yang menuturkan bahasa ini disebut orang Dayak Mali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang, Angan Limo, Angan Asepm, Angan Tigakng, Angan Pelanjau, Angan Rampan, dan Angan Bulu Lanak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penutus bahasa Angan menurut data kecamatan pasa saat penelitian dilaksanakan adalah sebanyak 1.499 jiwa. Jumlah itu terdiri dari laki-laki sebanyak 746 jiwa dan perempuan sebanyak 753 jiwa. Jumlah kepala keluarganya sebanyak 248 ditambah dengan 150 kepala keluarga di Binua Rantauan dan Sengkunang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsuku Dayak Angan sudah berada di Binua Angan sejak nenek moyang mereka dulu. Jadi, mereka merupakan penduduk asli di tempat yang sekarang mereka huni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kabupaten Pontianak dan Ketapang juga terdapat sekelompok orang Mali. Orang Mali yang berada di Ketapang merupakan penyebaran orang Mali dari Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau. Sementara itu, orang Mali yang di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang diduga penyebaran mereka pada tahun 1960. penyebaran orang Mali ini masih perlu ditelusuri secara lebih mendalam lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pembahasan soal Dayak Angan hanya 162 kata dari 215 kata. Sisanya membahas soal penyebaran orang Mali. Bisa dikatakan hanya satu halaman dari buku itu. Banyak tidaknya pembahasan soal orang Angan bukan satu masalah. Sepatutnya orang Angan berterima kasih kepada penelusur, yang sudah berupaya untuk menggali data tentang orang Angan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada yang membuat saya tidak tenang. Kalimat ini, misalnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tayan di Kabupaten Sanggau.”  &lt;/span&gt;Semestinya bukan Kecamatan Tayan. Seharusnya kalimat itu ditulis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Balai di Kabupaten Sanggau.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kemudian pada alinea kedua yang berbunyi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang, Angan Limo, Angan Asepm, Angan Tigakng, Angan Pelanjau, Angan Rampan, dan Angan Bulu Lanak.” &lt;/span&gt;Ini alinea yang salah besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya alinea ini ditulis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang (orang Angan menyebutnya Rumah Angan), Angan Merimo (disebut juga Angan Limau), Angan Sepmtigakng (disebut juga Angan Rampan), Angan Pelanjo (disebut juga Angan Pelanjau), Angan Belanak (disebut juga Angan Landak), Angan Bangka, dan Angan Tutu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam launching itu, saya sudah sampaikan keberatan karena kesalahan tulis tadi. Tapi penelusurnya bilang, “buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Perlu waktu lagi untuk menelusurinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya maklum kalau kesalahan itu terjadi. Penelusur, untuk tidak menyebut peneliti, juga manusia. Mereka juga punya keterbatasan. Sama seperti manusia-manusia lainnya. Saya bersyukur: Dayak Angan tercatat dalam satu mozaik yang ditulis orang-orang cerdas. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5455100878715746230?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5455100878715746230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/dayak-angan-dalam-mozaik-dayak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5455100878715746230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5455100878715746230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/dayak-angan-dalam-mozaik-dayak.html' title='Dayak Angan dalam Mozaik Dayak'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SV8DE9ppi-I/AAAAAAAAATg/qXsm4cnpdrk/s72-c/Untitled-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7273285039420255121</id><published>2009-01-02T03:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T03:56:20.612-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Berkelana dalam Silaturahmi Politik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Handphone&lt;/span&gt; di saku kiri celana jeans biru yang kukenakan bergetar, petanda ada panggilan masuk. Kuraih dan dilayar terlihat nama AR Muzammil. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Bang,” kusapa dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mau ajak ke Tayan meliput kunjungan Akil Mochtar,” sahutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam berapa berangkat,” tanya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Empat pagi,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak sulit bangun pagi. Tapi saya mencoba untuk tidak membuatnya tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sih&lt;/span&gt; mau saja. Tapi saya minta izin dulu dari redaktur,” saya mencoba meyakinkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak masalah. Nanti Bang Akil yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngomong&lt;/span&gt; langsung. Siapa orangnya?” tanya dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa Holdi, bisa Salman,” jawabku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Holdi Bulhasan, redaktur pelaksana dan Salman, pemimpin redaksi tempat saya bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzammil menelepon saya pada Jumat, 28 April 2006 sekitar pukul empat sore. Ia mengajar bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura. Belakangan belajar politik. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu pada 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberitahu Holdi ketika ia tiba di kantor pada pukul tujuh malam. Ia mengatakan kepada saya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kasi&lt;/span&gt; tahu Salman.” Sepertinya saya mendapat izin dari ucapannya tadi.  Satu jam kemudian, saya memberitahu Salman. “Okelah,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat izin dari dua orang itu, saya langsung kirim pesan singkat ke Muzammil. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oke&lt;/span&gt;, kami jemput jam empat pagi, ya,” ia membalas pesan singkat yang saya kirim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah awal perkenalan saya dengan Akil Mochtar. Dulu saya hanya tahu, ia merupakan anggota dewan di Senayan. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dan membaca di koran saja. Setiap pulang ke Kalbar, ia selalu muncul di koran kami: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pontianak Post. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini korannya Akil,” kata saya pada beberapa awak redaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dongkol juga karena setiap minggu selalu ada foto dan komentarnya. Kadang bisa pada dua atau tiga halaman. Saya makin dongkol karena berita tentang dia selalu dimuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus men-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; alarm di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt; agar bisa bangun pagi. Benar saja. Pukul tiga pagi, saya ditelepon Muzammil. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oi&lt;/span&gt;, bangun,” ujarnya. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Udah &lt;/span&gt;Bang, siap berangkat nih. Jemputlah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Akil di Jalan Karya Baru nomor 20. Dua mobil terparkir di halamannya. Satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;land cruiser&lt;/span&gt;, satu lagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;strada&lt;/span&gt;. Beberapa orang sudah menunggu. Orang-orang yang tidak saya kenal. “Kita mau ke Tayan. Ada undangan silaturahmi,” kata Akil sambil menjabat tangan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini rupanya orang yang bernama Akil Mochtar,” kata saya membatin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat pukul lima pagi. Di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;land cruiser &lt;/span&gt;ada Anto, pemegang stir; Kasiono, ajudan merangkap tukang sibuk, Akil Mochtar, dan Akim. Di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;strada, &lt;/span&gt;ada Muzammil, saya, Mustafa, dan Ade yang mengemudikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di Tanjung Hulu, kami harus menaikan satu penumpang lagi: Akim, seorang wartawan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Equator &lt;/span&gt;(sekarang di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tribun Pontianak&lt;/span&gt;). Ia menambah jumlah rombongan menjadi delapan orang. Kami meluncur ke Tayan lewat jalan transkalimantan yang belum diaspal. Harus rela badan bergoyang-goyang karena lubang-lubang tidak mungkin dihindari. Batu-batu kecil terbang terlindas roda. Debu mengudara terembus angin dan singgah di paru-paru yang menghirupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah orang-orang di sepanjang jalan transkalimantan berwarna seragam: coklat keabu-abuan. Dinding-dinding terpoles secara alami. Kaca-kaca tak lagi bening. Ventilasi bukan lagi pintu masuk udara segar ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan becek, kemarau berdebu,” kata Akim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paru-paru mereka sudah berisi debu-debu jalan,” saya menyambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil yang kami tumpangi tetap berlari di antara lubang-lubang jalan, di atas batu-batu kecil. Menggilas dan melahirkan debu baru bagi warga di sepanjang jalan. Warga hanya menutup hidung dengan tangan, tanpa masker. Sebagian lagi tak ambil pusing. Cuek saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Tayan pukul sepuluh. Sambil menunggu sampan yang menyeberangkan, kami &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngopi &lt;/span&gt;dulu. Akil menemui pedagang ikan, udang. Ia berdialog. “Kenal semua orang dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wak &lt;/span&gt;ini,” kata saya dalam hati. Ada seorang ibu yang berteriak, “Pak Gubernur.” Akil hanya tersenyum. “Amin,” katanya menyahut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyeberang dengan dua sampan. Saya cukup akrab dengan Tayan. Dari bahasa, saya bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyambung &lt;/span&gt;karena masih satu rumpun. Jarak Tayan dengan kampung saya, Angan Tembawang, kira-kira 40 kilometer. Kalau jalan kaki bisa dua hari. Kalau pakai sepeda bisa setengah hari. Kalau pakai sepeda motor satu jam. Maklum jalannya rusak berat. Belum beraspal. Pengerasan ada, tapi berlubang sana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang dari Tayan sekitar pukul satu siang. Tidak ada informasi istimewa yang bisa saya tulis dari silaturahmi itu. Hanya perjumpaan sederhana antara seorang politisi Senayan dengan konstituennya. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7273285039420255121?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7273285039420255121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/berkelana-dalam-silaturahmi-politik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7273285039420255121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7273285039420255121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/berkelana-dalam-silaturahmi-politik.html' title='Berkelana dalam Silaturahmi Politik'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-342644458049657020</id><published>2009-01-01T03:03:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T03:12:32.103-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Satu Hadiah Malam Tahun Baru</title><content type='html'>Tak ada yang istimewa dari pergantian tahun ini. Semua berjalan apa adanya. Berjalan seperti biasa. Hanya doa-doa yang teruntai: ingin anugerah terindah tetap diberikan dalam melakoni tahun yang baru ini. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai magrib, saya baru pulang dari bermain futsal. Ini permainan yang terakhir pada 2008. Awak redaksi Pontianak Post yang penggila futsal berharap bisa bermain lagi pada tahun berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja, kita akan main terus,” kata Salman, pemimpin redaksi dari koran Pertama dan Terutama di Kalimantan Barat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri dan anak semata wayang menunggu di rumah. Mendengar derum sepeda motor shogun 125R biru, Vanessa langsung menghambur keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, baru pulang main bola, ya,” tanya bocah yang baru tiga tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberikan senyumnya. Kemudian berlari menuju meja plastik biru di dekat pintu masuk kamar tidur utama. Ia mengambil satu buku dan spidol warna. Mulai menulis angka-angka yang bisa ia tulis. Lima menit berlalu, ia datang lagi kepada saya yang sudah duduk di bangku sambil menikmati air putih. Ia tunjukkan hasil coretannya. Walau tak sempurna, angka 1 sampai 4 berhasil ditulisnya. Ia belum bisa menulis 5 dan 6. Tapi Vanessa bisa menulis angka 7 dan 8. Ia juga menulis 10, tapi belum bisa menulis angka 9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya keluar dari dapur. “Kemana kita malam ini, Yah,” tanyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan-jalan,” jawabku sekenanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mandi, kami siap-siap mau jalan-jalan. Lihat orang-orang merayakan malam tahun baru. Malam pergantian tahun tikus ke tahun kerbau. Tahun yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Semua sudah rapi. Vanessa pakai baju serba pink. Ayah ibunya pakai baju merah. Kompak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar gang, kami disuguhkan musik-musik dengan suara keras dari panggung-panggung rakyat. Ada yang sekedar menonton memenuhi bahu jalan. Ada juga yang jingkrak-jingkrak. Tapi ada yang selintas lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor kupacu melintasi jalur-jalur protokol. Mulai dari Sutan Syahrir, Sutan Abdurachman, masuk ke Ahmad Yani. Singgah sebentar di satu rumah makan. Sudah waktunya makan malam. Habis makan, kami bertiga melintasi jalan Ahmad Yani. Singgah sekejap di depan Gedung Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beli terompet.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graha pena tetap menjulang di tengah keramaian Jalan Gajahmada. Gedung biru tempat saya menuangkan karya-karya jurnalistik itu sudah mulai ramai. Tikar sudah terhampar di bawah tenda biru. Sepeda motor terparkir rapi. Anak-anak berlarian. Mereka berteriak, bermain lepas. Lantunan nada-nada dari organ tunggal mengalun lembut. Melahirkan irama yang indah memeriahkan tahun baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya juga bermain. Ia berlari sesuka hatinya. Kadang lari ke ibunya yang duduk di tangga depan lift. Kadang ke saya yang ngobrol bersama orang-orang sekantor. Sesekali merengek minta gendong. Sesekali berjoget mengikuti alunan irama organ tunggal. Terkadang asyik bergaya biar dijepret kamera. Enjoy aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini peringatan tahun baru sederhana yang dipenuhi doorprize dari sponsor. Tetamu yang datang diberi tiga kupon sesuai dengan rombongannya. Saya dapat nomor 7, 63, dan 64. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan kita dapat lagi,” kata istri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dimulai sekitar pukul sembilan malam. Welsi yang jadi pembawa acara membuka dengan basa basinya. Games menebak judul lagu dan goyangan anak-anak kecil. Usai games, pencabutan undian dimulai. Saya salah satu yang beruntung: voucher makan di Hotel Mahkota senilai seratus ribu rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadilah daripada tidak dapat,” kata saya pada istri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang dari acara itu sekitar pukul setengah sebelas malam. Tahun sudah berganti. 2008 telah usai. 2009 sudah datang. Selamat tahun baru. Happy new year. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-342644458049657020?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/342644458049657020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/satu-hadiah-malam-tahun-baru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/342644458049657020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/342644458049657020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2009/01/satu-hadiah-malam-tahun-baru.html' title='Satu Hadiah Malam Tahun Baru'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2771968613256691687</id><published>2008-12-29T00:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T00:18:14.151-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Belian Untuk Anakku</title><content type='html'>Saya menanam satu pohon belian di halaman. Bukan untuk satu kalpataru. Bukan juga untuk satu pujian dari orang-orang yang melihatnya. Cita-cita saya hanya sederhana: ingin anak-anakku tahu seperti apa pohon belian itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah menanam satu pohon belian. Apalagi saya tidak paham soal ilmu pertanian ataupun perkebunan. Saya hanya ikut kata hati saja. Kalau saya ingin menanam, ya tanam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tumbuh, ya syukurlah. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji belian sangat keras. Ia memiliki tempurung yang tebal. Di dalam tempurungnya ada satu daging biji yang bisa bertunas. Tidak mudah bagi tunas untuk menembus tempurung yang tebal dan keras itu. Lebih mudah meraih predikat kepala daerah bagi orang yang berduit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ujung biji belian itu saya pecahkan. Ini akan memudahkan biji itu bertunas. Setidaknya begitu metode yang saya ketahui ketika browsing di internet. Karena menurut saya itu bagus, ya diikuti saja. Tak salahkan kalau dicoba. Ada delapan belas biji yang tersemai. Ada yang saya taruh di dalam pot plastik. Ada yang saya tanam di polibag. Sebagian lagi saya taruh begitu saja di tanah. Lainnya saya tanam di satu bedengan depan jendela kamar tidur utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus menunggu tiga bulan hanya untuk melihatnya bertunas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua biji yang bertunas. Biji yang saya taruh di depan kamar tidur utama. Saya gembira. Begitu juga istri yang dulunya memprotes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa tanam belian?” protesnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jalan terus. Saya bilang, “biar nanti anak kita tahu mana pohon belian.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akhirnya mengalah. Tapi tak pernah merawatnya. Satu tunasnya patah. Istri saya yang mematahkannya. Ia patahkan ketika sedang membersihkan rumput-rumput di halaman. Ia bilang tidak sengaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunasnya ndak kelihatan. Kena senggol tangan. Jadi patah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa bilang apa-apa. Toh sudah patah. Saya berharap, ada tunas baru yang tumbuh lagi. Tapi sampai dua tiga minggu tak juga tumbuh. Hingga berdaun dan berbatang, hanya satu biji yang bertahan. Itu yang bisa saya lihat hingga sekarang. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2771968613256691687?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/2771968613256691687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/belian-untuk-anakku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2771968613256691687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/2771968613256691687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/belian-untuk-anakku.html' title='Belian Untuk Anakku'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4626718371649234304</id><published>2008-12-29T00:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T00:13:17.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Petani</title><content type='html'>Apakah anak Anda bercita-cita menjadi seorang petani? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu siang di Ayani Megamall, sebuah pesta ulangtahun digelar. Diandra, satu anak yang menghelatkan hari lahirnya di mall termegah di Kota Pontianak itu. Teman-temannya datang. Tentu saja ditemani kedua orangtuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan muda yang memandu acara cukup kreatif. Ulangtahun yang cukup mewah itu menjadi meriah. Balon-balon bergelantungan di langit-langit ruang rumah makan itu. Lagu-lagu berirama rancak dilantunkan. Aneka permainan disuguhkan. Siapa yang bisa menjawab diberi hadiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dian, kalau sudah besar mau jadi apa?” tanya cewek pemandu acara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokter,” singkat Dian menjawab dengan suara kecilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu temannya dipanggil ke atas panggung. Pemandu acara juga bertanya hal yang sama pada anak lelaki itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab singkat, “Tentara.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pemandu acara memanggil satu teman cewek Dian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengusaha,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang makan bersama keluarga tak jauh dari acara itu tersenyum kecil. Pertanyaan itu saya ajukan pada anak semata wayangku yang masih berusia tiga tahun enam bulan. Ia hanya senyum saja. Mungkin belum tahu mau jadi apa sudah besar nanti. Atau ia belum mengerti apa itu cita-cita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat ketika masih kecil dulu. Satu guru sekolah dasar kampung bertanya, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Apa saya jawab? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau jadi insinyur.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari berikutnya, guru lain bertanya yang sama padaku. Apa jawab saya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi dokter.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila! Banyak benar cita-cita ketika masih kecil dulu. Dari insinyur, dokter, pengusaha, tentara, polisi, hingga pastor. Itu mimpi yang kemudian tak terbeli. Mimpi indah seorang anak kampung yang orangtuanya hanya seorang petani. Bukan petani modern, hanya tradisional yang tak mengenal teknologi canggih industri pertanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sama dengan anak-anak yang merayakan ulangtahun di mall itu. Tidak punya cita-cita menjadi seorang petani, bahkan petani modern. Walaupun saya anak seorang petani miskin yang hanya mengandalkan hasil penjualan karet, yang ketika itu hanya Rp2.000 per kilogramnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani bukanlah satu cita-cita yang baik bagi anak-anak. Orangtua, saya yakini itu, tidak ingin anaknya menjadi seorang petani. Semua orangtua ingin anaknya punya cita-cita, punya mimpi, lebih dari menjadi seorang petani. Orangtua, seperti saya, ingin agar anak nanti ketika dewasa menjadi orang sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, pertanian itu satu sektor andalan. Negara mengklaim surplus beras karena sektor pertanian berkembang pesat. Tentu ini jasa seorang petani. Jasa yang menghadirkan beras-beras ke rumah-rumah warga. Beras yang hingga kini belum tergantikan sebagai makanan utama rakyat di republik ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah punya cita-cita agar pertanian semakin maju sehingga tidak lagi mengimpor beras dari negeri orang. Akan banyak dana negara yang tersedot untuk membiayai impor beras. Dana yang banyak itu akan lebih baik untuk memberikan subsidi bibit kepada petani. Sehingga cita-cita swasembada beras bisa terwujud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tidak ada orangtua yang menganjurkan anaknya bercita-cita menjadi petani. Bagi mereka, petani itu pekerjaan yang suram bagi masa depan anaknya. Mereka lupa kalau petani telah membuatnya bertahan hidup hingga puluhan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan kalau pada masa mendatang, mimpi anak-anak itu terwujud. Cita-cita kecil mereka yang ingin jadi insinyur, pengusaha, polisi, tentara, pegawai negeri tergapai. Coba bayangkan, kalau anak-anak desa, anak-anak petani, ketika besar nanti tidak lagi menjadi petani. Bisa bayangkan, kalau semua anak-anak petani sukses tidak sebagai seorang petani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan sulit mencari beras. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4626718371649234304?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4626718371649234304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/petani.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4626718371649234304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4626718371649234304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/petani.html' title='Petani'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5641000411382057799</id><published>2008-12-21T21:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T21:28:23.723-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><title type='text'>Aku Ingin Anakku Sekolah</title><content type='html'>Hari ibu kembali tiba.  Kaum ibu belum terbebas dari beragam persoalan. Ada yang menjadi korban eksploitasi. Terkadang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ada juga yang harus menafkahi keluarga. Mereka berjuang untuk keluar dari ketertindasan. Bagaimana perjuangan seorang ibu yang harus menjadi kepala keluarga?  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita Buntat hanya sederhana. Ia ingin empat anaknya berpendidikan cukup. Kerja serabutan dilakoninya. Kadang menjadi orang upahan di sawah milik tetangga. Satu hari menjadi pembantu rumah tangga. Lain waktu kerja lain lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buntat tinggal di Kampung Arang Limbung, Kubu Raya. Seorang janda berusia 43 tahun yang memiliki empat anak. Suaminya memilih perempuan lain ketika putri bungsunya, Anggita berusia 40 hari. Tiga anaknya sudah mengenyam bangku sekolah. Putri sulungnya, Agustina sudah kelas tiga sekolah menengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perinduk&lt;/span&gt; di rumah ini,” kata Buntat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Melayu, tiga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perinduk&lt;/span&gt; sama artinya dengan tiga kepala keluarga. Ada sebelas jiwa dalam rumah kecil di ujung gang itu. Walau begitu, penghuni rumah tetap harmonis. “Mau bagaimana lagi. Beginilah kami. Mau bangun rumah sendiri, tidak mampu. Ini juga masih menumpang,” Buntat menggendong satu keponakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Buntat berada di pinggiran Sungai Kapuas. Tak ada halaman. Tanahnya ngepas buat bangun rumah. Ada satu jalan kecil bersemen untuk  masuk. Kiri kanan jalan masuk barisan kain-kain jemuran menggantung. Ada pagar kayu yang membatasi jalan itu. Dalam pagar, ada beberapa batu nisan khas orang muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suaminya memilih perempuan lain, Buntat ingin bunuh diri. Ia juga ingin bekerja sebagai tenaga kerja di Malaysia. Sepekan sebelum berangkat, Mawardiansyah, putra keduanya, kecelakaan yang membuat kaki kirinya patah. Buntat tak meninggalkan anaknya. Niatnya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tekawe&lt;/span&gt; buyar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuannya dengan Kholilah membawa warna baru baginya. Semangat dan ketegaran tumbuh. Perubahan terjadi dalam dirinya. Buntat menjadi perempuan yang berani menerima realitas kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus menghadapinya,” begitu tekadnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholilah adalah seorang pendamping lapang dari Perempuan Kepala Keluarga. Satu organisasi yang bekerja untuk perempuan miskin karena berbagai alasan berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggungjawab mencari nafkah bagi keluarganya. Di Kalimantan Barat ada tiga pendamping lapang. Mereka telah mengadvokasi sekitar 500 perempuan sejak 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Butuh waktu paling sedikit tiga bulan untuk mengubah pola pikir mereka. Dari tertutup dengan masalah-masalahnya menjadi lebih terbuka. Tiga bulan itu pun hanya mau berkumpul-kumpul saja,” kata Kholilah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholilah juga seorang perempuan. Ia tidak menyerah untuk mengubah pola pikir perempuan-perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Kholilah bilang perempuan yang didampinginya berasal dari beragam persoalan. Ada yang ditinggal mati suami, ditinggal kawin lagi, hingga korban kerusuhan sosial beberapa tahun silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ingin seorang ibu, seorang perempuan lebih kuat menjalani hidup. Jangan sampai mereka putus asa. Masih ada harapan untuk menjalani sisa hidup. Inilah yang kami lakukan,” kata Kholilah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buntat adalah satu perempuan yang didampingi Kholilah. Perempuan tegar yang ingin anak-anak tetap sekolah. “Saya tak ingin mereka seperti saya. Saya mau mereka lebih pintar,” kata Buntat. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5641000411382057799?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5641000411382057799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/aku-ingin-anakku-sekolah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5641000411382057799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5641000411382057799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/aku-ingin-anakku-sekolah.html' title='Aku Ingin Anakku Sekolah'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6718268194395266832</id><published>2008-12-13T20:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T20:38:12.346-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Jalan Pulang</title><content type='html'>Saya masih ingat ketika masih sekolah dulu. Setiap libur datang, selalu ingin pulang kampung. Banyak faktor yang membuat keinginan itu begitu menggebu-gebu. Uang, salah satunya. Tapi juga ada kerinduan untuk bertemu ibu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai berpisah dengan ibu sejak umur 12 tahun. Pada saat tamat sekolah dasar. Masih polos, begitu lugu. Sekolah yang saya pilih milik misionaris. Orang bilang sekolah pastor. Tapi bukan untuk menjadi seorang pastor. Kebetulan saja pengelola para pastor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yos Sudarso, begitu nama sekolah lanjutan saya setamat SD tersebut. Ia berada di Pusat Damai, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sanggau. Tidak ada satupun orang yang saya kenal ketika pertama kali menginjak kaki di sekolah itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semester pertama, saya tinggal bersama saudara laki-laki nomor tiga. Kami ada tujuh saudara. Tiga perempuan, empat laki-laki. Saya adalah bungsu dari tujuh itu. Tapi hanya dua orang yang kemudian bisa menyelesaikan pendidikan hingga tingkat sarjana. Saya salah satunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang saya sudah berkeluarga. Ia bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit. Gajinya tak begitu besar, tapi cukuplah untuk menghidupkan dua anak perempuannya. Tapi ia punya kavling sawit yang dikelolanya sendiri. Ia seorang alkoholic akut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu pertama, saya tak kerasan dengan lingkungan baru itu. Setiap hari menangis. Saya rindu ayah, rindu ibu, dan rindu bersenda dengan teman-teman di kampung. “Saya ingin pulang.” Abang saya melarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis Natal tahun 1988, saya memilih tinggal di asrama putra dekat sekolah. Unit Tayan, nama asrama tempat saya tinggal. Bertemu teman baru. Beragam desa, latarbelakang, bahkan karakter. Kembali rasa ingin pulang datang. Saya rindu ibu yang setiap hari menoreh untuk membiayai sekolah saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika liburan kenaikan kelas, kerinduan itu terobati. Saya pulang dengan kegembiraan. Selain naik kelas, saya juga termasuk siswa berprestasi. Juara dua di kelas. Juara dua di kelas saya pegang selama tiga tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan anak-anak masa kini, saya pulang kampung bukan untuk liburan. Saya pulang untuk mencari duit. Menoreh, itu pekerjaan wajib setiap hari. Pagi-pagi sudah bangun. Dingin merasuk di sum sum, tapi ibu memaksa untuk menoreh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau sekolah tinggi, kamu harus rajin. Kamu harus noreh,” kata ibu setiap pagi kalau saya malas bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau malas, saya toh akhirnya bangun juga. Pakaian dinas di dapur sudah menunggu. Koyak sana sini. Celana panjang terpotong setengah dengan potongan tak sempurna. Topi yang sudah berubah warna. Sudah tidak karuan lagi. Banyak noktah hitam di setiap bagiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul lima pagi, sudah berangkat ke kebun karet. Embun pagi yang tertinggal di daun menambah kesejukan pagi. Tapi harus tetap dilawan. Menoreh dan menoreh. Sekolah dan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya kalian lebih pintar dari saya,” kata Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ibu tidak bisa baca tulis. Ia hanya bisa mendengar dan melihat, juga merasakan. Tapi ibu bisa menghitung. Kami tidak bisa membohongi ibu kalau sudah berhitung. Terutama menghitung uang dan harga jual karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ia bisa lebih cepat dari anak-anak yang sekolah dalam hal menghitung harga. Ini kelebihan ibu saya. Saya bahkan belajar menghitung harga dan duit dari ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali berpisah dengan ibu ketika liburan berakhir. Ia tak pernah mengantar. Tapi ia selalu memberi petuah bijak. Petuah-petuah itulah yang selalu membuat saya ingat jalan pulang. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6718268194395266832?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6718268194395266832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/jalan-pulang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6718268194395266832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6718268194395266832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/jalan-pulang.html' title='Jalan Pulang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1163374779018433849</id><published>2008-12-04T01:01:00.001-08:00</published><updated>2008-12-04T01:11:25.689-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Kita Tidak Lagi Mencoblos</title><content type='html'>Tata cara pemungutan suara pada Pemilu 2009 berbeda dengan pemilu sebelumnya. Pada 2004, pemungutan suara dilakukan dengan mencoblos tanda gambar dan nama calon anggota legislatif, Pemilu 2009 pemilih cukup memberikan tanda satu kali pada surat suara. Komisi Pemilihan Umum memiliki kewenangan dalam memberikan pemahaman kepada pemilih terkait perubahan tata cara pemungutan suara tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan Pemilu 2009 masih lima bulan lagi. Aroma politik untuk pesta demokrasi itu sudah marak. Ada 38 partai politik ditambah empat partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam yang berebut simpati pemilih. Ribuan calon anggota legislatif yang siap mewakili rakyat di kursi parlemen. Beragam sesumbar politik terlontar agar simpati pemilih berpihak kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pemilu 2004 dihelat, tata cara pemungutan suara masih sama dengan pemilu sebelumnya. Pemilih sudah terbiasa dengan pola itu sehingga sosialisasi tata cara pemungutan suarat tidak begitu rumit. Kendati begitu, Komisi Pemilu tetap memberikan pemahaman kepada pemilih, terutama pemilih pemula terkait tata cara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemungutan suara pada Pemilu 2004 dilakukan dengan mencoblos. Aturan itu tertuang dalam UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu pada Bab Ix Pemungutan, Penghitungan Suara, dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum Bagian Pertama tentang Pemungutan Suara Pasal 84 ayat (1) yang berbunyi, “Pemberian suara untuk Pemilu anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dilakukan dengan mencoblos salah satu tanda gambar Partai Politik Peserta Pemilu dan mencoblos satu calon di bawah tanda gambar Partai Politik Peserta Pemilu dalam surat suara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan pemungutan suara untuk calon anggota Dewan Perwakilan Daerah. Pada Pasal (2) UU No. 12/2003 tentang Pemilu berbunyi, “Pemberian suara untuk pemilihan anggota DPD dilakukan dengan mencoblos satu calon anggota DPD dalam surat suara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh anggota DPR periode 2004-2009, tata cara pemungutan suara Pemilu 2004 diubah. Dari mencoblos dengan memberi tanda satu kali pada surat suara. Pemilih harus memahami bagaimana tata cara pemungutan suara pada Pemilu 2009. Pemberian suara tidak lagi dengan mencoblos seperti yang dilakukan pada Pemilu sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan itu tercantum dalam UU No. 10/2008 tentang Pemilu pada Bab X Pemungutan Suara Pasal 153 ayat (1) yang berbunyi, “Pemberian suara untuk Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilakukan dengan memberikan tanda satu kali pada surat suara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada ayat (2) berbunyi, “Memberikan tanda satu kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan prinsip memudahkan pemilih, akurasi dalam penghitungan suara, dan efisien dalam penyelenggaraan Pemilu.” Lantas ayat (3) berbunyi, “Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara memberikan tanda diatur dengan peraturan KPU.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan tata cara pemungutan suara memberi peluang terjadinya kerusakan pada kertas suara. Sebab sudah puluhan kali Pemilu, pemilih selalu melakukan pencoblosan pada kertas suara. Perubahan yang drastis ini dikhawatirkan oleh calon anggota legislatif dan Dewan Perwakilan Daerah. Mereka khawatir kerusakan surat suara memengaruhi tingkat keterpilihannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPD periode 2004-2009 asal Kalbar, Piet Herman Abik mengusulkan agar KPU mengeluarkan petunjuk pelaksana yang tegas terkait tata cara pemberian tanda saat pemungutan suara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Pemilu 2009 merupakan masa transisi dari mencoblos dengan memberi tanda. “Mestinya baik mencoblos maupun menconteng dibenarkan dalam pemberian tanda. Masyarakat sudah terbiasa dengan cara mencoblos. Ini hanya dilakukan pada Pemilu 2009,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia khawatir jika dipaksakan dengan cara menconteng akan banyak suara tidak sah karena masyarakat salah memberi tanda saat pemungutan suara. “Ini harus dipertimbangkan oleh KPU. Buat aturan pelaksana yang tegas sehingga suara tidak sah bisa ditekan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut. Usulan Piet Herman Abik didengar Komisi Pemilu. Melalui Peraturan KPU No. 35/2008 tentang tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara di Tempat Pemungutan Suara dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2009, KPU menganggap sah jika ditemukan surat suara yang dicoblos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40 ayat (1)  huruf (b) dalam peraturan itu menyebutkan suara bisa dinyatakan sah bila pada surat suara diberi tanda centang (√) sebanyak satu kali. Pemberian tanda centang (√) pada kolom nama partai atau kolom nama calon anggota legislatif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara juga dinyatakan sah bila sudut tanda centang (√) atau sebutan lainnya terdapat di dalam kolom nama partai politik, walaupun ujung garis tanda centang (√) melewati garis kolom nama partai politik, atau sudut tanda centang (√) atau sebutan lainnya terdapat pada kolom nomor urut calon atau kolom nama calon, tetapi bagian akhir garis tanda centang (√) atau sebutan lainnya melampaui kolom nomor urut calon atau kolom nama calon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati menetapkan tanda centang dalam pemberian suara, KPU juga mengakomodir jika ditemukan surat suara yang dicoblos. “Ini dilakukan karena masih masa transisi. Tetapi kami akan tetap mengajak masyarakat untuk memberikan tanda centang pada surat suara,” kata Ketua KPU Kalbar AR Muzammil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perhitungan suara, sambungnya, apabila KPPS menemukan bentuk pemberian centang (√) karena keadaan tertentu seperti tinta pada ballpoint ternyata tidak dapat berfungsi sempurna sehingga menyebabkan bentuk tanda tersebut menjadi tidak sempurna maka tetap dianggap sah. “Kita berpatokan pada sudut centang tersebut,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, partai politik juga harus menyampaikan tata cara pemungutan suara ini kepada konstituennya. Sebab partai politik berkepentingan langsung terhadap hal ini karena terkait perolehan suara pada Pemilu 2009. “Kami juga sedang menyusun program sosialisasi mengenai tata cara ini,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Umum telah berjalan sejak 1955. Sejak itu pula masyarakat memberikan suaranya dengan cara mencoblos. Kebiasaan mencoblos itu harus ditinggalkan ketika Pemilu 2009 dihelat. Pemilih tidak lagi menemukan paku dan bantal di bilik suara. Mereka akan mendapatkan satu ballpoint untuk mencentang siapa calon yang diinginkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Pemilu berharap diberikan dana yang memadai untuk memberikan sosialisasi tata cara pemberian suara itu. Harusnya tingkat kerusakan atau tidak sahnya surat suara bisa ditekan. Tentu saja ini tugas yang berat. Sehingga Komisi Pemilu tidak bisa bekerja sendiri. Partai politik, calon anggota legislatif, masyarakat, dan media massa harus membantu proses sosialisasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 2009 tinggal beberapa bulan lagi. Masa mencoblos sudah berakhir. Masa baru telah tiba: masa mencentang. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1163374779018433849?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/1163374779018433849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/kita-tidak-lagi-mencoblos.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1163374779018433849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/1163374779018433849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/12/kita-tidak-lagi-mencoblos.html' title='Kita Tidak Lagi Mencoblos'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3577972981331528176</id><published>2008-11-29T21:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:58:29.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL'/><title type='text'>Hidup Karena Antiretroviral</title><content type='html'>Penyebaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Human Immunodeficiency Virus&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Acquired Immune Deficiency Syndrome&lt;/span&gt; telah menginfeksi jutaan manusia di dunia. Banyak yang tidak sanggup menerimanya. Ada juga yang tetap semangat menjalani hidupnya. Pengidap mesti mengkonsumsi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antiretroviral&lt;/span&gt; secara berkala. Bagaimana mereka menjaga semangat hidup saat kekebalan tubuhnya terinfeksi virus yang belum ada obatnya itu? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berwajah oriental masuk membawa dua gelas air mineral. Ia meletakannya di atas meja mesin jahit yang tampaknya sudah lama mengganggur. Saya menyodorkan tangan ingin memberi salam. Ia menyalami saya dengan seberkas senyum di bibirnya. Lelaki itu kemudian duduk di pintu masuk ke ruangan lain rumah kopel tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kopel itu berada di gang sempit sebuah pemukiman penduduk di Kota Pontianak. Sebuah jembatan beton mengangkangi sungai kecil. Airnya keruh. di atasnya, anak baru gede asyik nongkrong. Walau belum malam minggu. Dua sepeda motor terparkir di depan rumah lelaki itu. Anak-anak keluar masuk rumah karena membeli jajanan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu bernama Toni. Itu bukan nama aslinya. Itu nama kesepakatan antara saya dengannya. Ia salah satu warga Kota Pontianak yang terdeteksi telah mengidap AIDS. Umurnya baru 34 tahun. Sudah berkeluarga. Rima, nama  istrinya. Itu juga bukan nama aslinya. Perkawinannya sudah dikaruniai satu anak. Eko, namanya, juga bukan nama asli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, banyak juga yang beli warungnya,” saya membuka omongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ini usaha kecil-kecilan. Cukuplah untuk makan satu dua hari,” jawab Toni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omongan kami terhenti, anak-anak datang membeli jajanan. Ada yang membeli es, manisan, bahkan ada yang sekadar ikut temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu anak-anak pergi, Toni mulai cerita. Ia terdeteksi mengidap AIDS pada 2005 ketika berobat pada sebuah rumah sakit di Jakarta. Saat cek darah, dokter bilang terinfeksi rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaget. Saya tidak percaya. Kok, bisa? Saya pasrah. Saat itu tidak ada dampingan dari siapapun,” kata Toni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memerah. Sesekali ia membetulkan lengan bajunya. Ia berusaha tersenyum. Obrolan kembali terhenti. Anak-anak mengetuk pintu. Mereka hendak membeli jajanan. “Tiap hari seperti ini. Nanti jam delapanan sudah sepi,” kata Toni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tamat sekolah menengah, ia ke Jakarta. Di kota metropolitan itu, Toni mengenal narkotika. Uang gaji selalu habis untuk membeli narkoba saat sakaw menghampiri. Ketika terdeteksi, keluarga kaget. Tapi mereka mendukung. “Mereka tidak mengucilkan. Saya malah dikuatkan. Sudah terjadi, apa mau dikata,” Toni bercerita sambil berusaha mengembangkan senyum. Ada kegetiran dari kata-kata yang terungkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rima juga tak kalah kaget. Walau begitu, tak terbersit dari benaknya untuk berpisah dengan lelaki yang dinikahinya pada 2000 itu. “Saya juga tidak bisa ngomong apa-apa. Saya mencintainya,” kata Rima. Semangat Rima mendampingi Toni untuk selama-lamanya bersambut. Ini membuat Toni semakin semangat menjalani hidupnya. Kekebalan tubuhnya terus digerogoti. Ia pun harus disiplin mengkonsumsi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antiretroviral&lt;/span&gt;. Cinta membuat keduanya mampu bertahan menjaga bahtera keluarga sederhananya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus minum tujuh butir pil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antiretroviral&lt;/span&gt; setiap hari. Jadwalnya harus beraturan. Setiap 12 jam sekali dengan jam yang sama. Tidak boleh telat,” kata Toni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antiretroviral&lt;/span&gt; diperolehnya secara gratis dari pemerintah. Tujuh butir itu berlainan jenis. Tiga diminum pukul delapan pagi, empat lainnya diminum pukul sembilan pagi. Begitu juga malamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal Ardiansyah dari Global Fund AIDS, Tubercolosis, Malaria Kalimantan Barat mengaku khawatir dengan ketersediaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antiretroviral&lt;/span&gt;. Sebab pengidap AIDS sangat bergantung pada obat tersebut. Apalagi jumlah pengidap yang ditemukan semakin banyak. Tentu saja kebutuhan terhadap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antiretroviral&lt;/span&gt; juga semakin tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu orang empat butir satu hari. Tapi ada juga yang belum minum obat, 240 orang yang minum obat. Yang tidak minum karena ada terapi lain. Yang dianjurkan minum obat karena tingkat kekebalan tubuhnya makin rendah. Stok sekarang, masih khawatir. Ketapang sudah tipis,” kata Rizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditemukan pada 1993, jumlah pengidap AIDS terus bertambah. Hingga Oktober 2008, jumlah pengidap AIDS mencapai 915 orang, sedangkan HIV sebanyak 1.606 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 244 orang telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat penyembuh AIDS masih misteri. Ilmuan belum menemukan formula jitu untuk menghentikan gerilya virus yang melemahkan kekebalan tubuh itu. Hari-hari pengidap hanya bergantung pada antiretroviral. Butiran pil yang memperlambat perkembangan virusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, dunia memperingati Hari AIDS. Kampanye yang mengajak masyarkat untuk berprilaku hidup sehat terus digaungkan. AIDS sudah menjadi wabah yang mengerikan. (*)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3577972981331528176?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/3577972981331528176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/11/hidup-karena-antiretroviral.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3577972981331528176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/3577972981331528176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/11/hidup-karena-antiretroviral.html' title='Hidup Karena Antiretroviral'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-4613923953896207140</id><published>2008-11-11T02:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T02:30:22.393-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Jurnalisme Sastrawi</title><content type='html'>Pukul sembilan pagi. Di Hotel Peony, Jalan Gajahmada, Pontianak, tempat workshop narative reporting dilaksanakan. Di Roof Cafe, lantai lima gedung itu tujuh belas orang sudah berkumpul. Saya orang kedelapan belas yang datang. Setidaknya itu yang tercatat pada daftar absen di meja pintu masuk.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex Mering berdiri. Ia menjadi pembawa acara dalam kegiatan itu. “Bisa kita mulai. Pesertanya sudah lengkap,” ujar Alex. Seremonial hanya berlangsung lima belas menit. Topik seremonial pun berganti materi kursus, tentang jurnalisme dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas Harsono, suhunya jurnalisme sastrawi jadi instruktur tunggal dalam kegiatan tersebut. Andreas beranjak dari duduknya. Sebuah laptop di meja terhubung over head projector. Ia maju menuju sebuah layar putih yang menampilkan materi kursus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas Harsono, seorang wartawan yang pernah bekerja untuk harian The Nation di Bangkok, Associated Press Television di Hongkong, The Star di Kuala Lumpur, dan Pantau di Jakarta. Ia mendapatkan Niemen Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard 1999-2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai Senin, 10 November 2008 hingga lima hari ke depan, sebanyak 19 peserta akan digodok materi kursus jurnalisme sastrawi. Beragam latar belakang yang ikut. Dari pekerja media hingga ibu rumah tangga. Tiga di antaranya berasal dari Jerman. Walau tak lancar berbahasa Indonesia, ketiganya tetap semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saya boleh mengganti slide dengan materi berbahasa Inggris?” tanya Andreas. “Teman-teman kita dari Jerman, agak kesulitan.” Tampilan materi yang sebelumnya berbahasa Indonesia pun berganti menjadi Bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali Andreas harus menuju laptopnya. Jika salah satu tutsnya tak disentuh, tampilan materi kursus yang disampaikan hilang. Berkali-kali pula Andreas memindahkan kursinya. Kadang ditarik dekat meja. Kemudian ditarik lagi dekat layar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.00, Andreas mengakhiri paparannya. “Saatnya makan siang,” kata Alex Mering, pantia pelaksana. Beberapa peserta langsung menyantap hidangan. Sebagian lagi, masih melanjutkan obrolannya. Ada juga yang memanfaatkan masa rehat dengan merokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas dimulai pukul satu siang. “Makanannya enak,” kata Andreas sebelum memberi materi. Sesi kedua ini membahas tentang wawancara. “Saya minta dua sukarelawan,” kata Andreas. Satunya sebagai pewawancara, yang lainnya menjadi narasumbernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas menuliskan Rule of the interview pada white board. Ada empat hal pokok yang dibahasnya.Pertama, on the record artinya boleh mengutip apapun sesuai apa yang diinginkan. “Ini yang paling baik dalam melakukan wawancara,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, background – quotation only, artinya boleh mengutip tapi minta persetujuan narasumber bagian yang akan dikutip. Perlu ada kepercayaan antara narasumber dan penanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, attribution artinya tidak menyebut nama sumber tetapi hanya jabatannya. Misalnya, menurut Dosen Universitas Tanjungpura, menurut seorang dekan di Universitas Tanjungpura. “Semakin sempit ruang untuk diketahui narasumbernya semakin bagus,” ujar Andreas. Terakhir, off the record. Ini sebaiknya tidak dipakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Safriyanti dan Sinna jadi relawan pertama. Wawancara dilakukan dengan duduk. Keduanya diberi waktu lima menit untuk sesi wawancara. Dwi yang advokat mengaku gugup. Begitu juga Sinna. Orang Jerman ini tak fasih berbahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relawan kedua, Hentakun dan Johan Wahyudi. Mereka membahas topik wawancara di luar kelas. “Waktunya hanya satu menit,” kata Andreas. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang tidak mau memberi penjelasan. Sehingga harus dilakukan dengan mencegat narasumber. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu kita hanya sedikit,” kata Andreas. “Pertanyaan yang diajukan harus bersifat close question. Narasumber hanya menjawab ya atau tidak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diakhir sesi, Andreas memberikan tugas rumah kepada peserta. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-4613923953896207140?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/4613923953896207140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/11/jurnalisme-sastrawi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4613923953896207140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/4613923953896207140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/11/jurnalisme-sastrawi.html' title='Jurnalisme Sastrawi'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7844896344696723096</id><published>2008-09-22T07:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T07:15:02.698-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Talang</title><content type='html'>Ini satu judul lagu yang sering kami nyanyikan waktu masih di asrama dulu. Semacam lagu kebangsaan ketika mau membeli keperluan untuk beramai-ramai. Membeli dengan pola keroyokan. Itu karena tidak ada satupun yang punya duit cukup untuk mentraktir semuanya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pencipta dari lagu ini. Syair dan nadanya muncul begitu saja. Tapi sangat akrab di telinga. Maklumlah lagu ini hampir setiap hari dinyanyikan. Wajib hafal bagi anak baru. Kalau tidak bisa dihukum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;push up&lt;/span&gt; atau sejenisnya. Saya pernah mendapatkan hukuman itu ketika baru masuk asrama pada 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini syairnya: &lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Talang-talang.....&lt;br /&gt; Talang-talang....&lt;br /&gt; Welcome to matuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Talang-talang....&lt;br /&gt;        Talang-talang....&lt;br /&gt;        Seribu agik....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa lagu ini sangat populer di asrama kami? Ada solidaritas dan kebersamaan dalam lagu ini. Diiring gitar bolong, penuh semangat menyanyikannya. Satu dari antara kami, akan berkeliling membawa wadah sebagai tempat menaruh uang. Uang inilah yang dijadikan modal membeli apa yang diperlukan. Macam-macamlah. Mulai dari minuman hingga kacang-kacangan, juga makanan ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus bahasa indonesia: talang berarti saluran air pada cucuran atap. Tapi tidak bagi kami. Talang adalah cara mengumpulkan uang untuk membeli kebutuhan pada saat itu. Kekuatan lagu talang bisa membangkitan solidaritas. Lagu talang juga memupuk rasa kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya mau membeli kebutuhan saat itu, kami membudayakan talang. Ketika ada kawan-kawan penghuni asrama dilanda masalah, kami juga membantunya dengan cara talang. Kayaknya talang telah membudayakan dalam darah anak-anak asrama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tidak menyanyikan lagu ini. Mungkin karena saya tidak lagi tinggal di asrama. Mungkin juga karena tidak ada lagi teman untuk saya menyanyikannya. Tidak apa-apalah. Yang penting saya masih ingat bagaimana menyanyikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak tahu, apakah lagu ini masih berkumandang di asrama kami yang sudah modern itu? Semoga saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7844896344696723096?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/7844896344696723096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/talang.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7844896344696723096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/7844896344696723096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/talang.html' title='Talang'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6000509655997936036</id><published>2008-09-22T05:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T01:44:13.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Matuk</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SNisOUEWmfI/AAAAAAAAAMk/D7Yd3ngx_xc/s1600-h/matuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SNisOUEWmfI/AAAAAAAAAMk/D7Yd3ngx_xc/s320/matuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249134727605426674" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak keluar dari asrama pada 2005 awal, saya tidak pernah lagi berkunjung ke sana. Tapi tiba-tiba dua hari lalu saya sangat ingin kembali. Ada perasaan rindu melihat suasana asrama itu kini. Sebuah keinginan yang harus saya wujudkan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya kaget begitu sampai di asrama. Perubahan drastis terjadi. Tak ada lagi pohon durian yang dulu tempat kami bersantai. Yang kalau berbuah, selalu kami tunggu jatuhnya. Tempat pohon itu berdiri sudah berdiri bangunan bercat putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekagetan saya bertambah. Sudah banyak pohon rambutan yang ditebang. Padahal itu salah satu sumber makanan kami. Kalau berbuah, banyak di antara kami yang tidak perlu makan nasi. Cukuplah makan buah rambutan sepulang kuliah. Wajar saja karena duit kiriman dari kampung tak pernah cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengagetkan saya, tak ada lagi pohon jambu bol yang berdiri tegak sebelum memasuki komplek. Dulu pohon itu, jadi arena nongkrong anak-anak asrama. Di tempat itulah, kami bernyanyi, berdiskusi banyak hal. Mulai dari tugas-tugas dari kampus hingga persoalan yang dihadapi di asrama. Tapi yang paling utama adalah matuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh kami, pohon itu diberi nama Pohon Matuk. Agak aneh. Banyak orang yang datang ke asrama bingung. “Kok, pohon diberi nama matuk. Maksudnya apa?” Apa sih keistimewaan pohon itu? Sehingga harus diberi nama matuk? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam tafsir muncul. Ada yang bilang matuk itu ‘mahasiswa ngantuk’. Ada juga yang bilang ‘makan tidur untuk kuliah’. Ada juga yang bilang ‘mahasiswa terkutuk’. Tentu saja ketiganya bukan arti sebenarnya terhadap matuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matuk muncul karena ada kebiasaan bagi anak-anak asrama. Tidak ada kata matuk dalam kamus bahasa indonesia. Yang ada patuk. Bagi kami tak penting arti harafiah dari matuk atau patuk. Yang penting kami memahami makna matuk itu sendiri. Karena matuk sudah bagian dari kreativitas anak muda dalam membuat istilahnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak makna dari matuk. Memang ada kebiasaan bagi kami untuk duduk-duduk, minum-minuman keras. Sebutlah arak, tuak, lonang, bir, dan sejenisnya. Tak jarang, sampai mabuk. Tapi sampai sekarang belum ada cerita alumni asrama itu meninggal karena minuman keras. Justru banyak yang berhasil. Bahkan ada yang menjadi kepala daerah. Mantapkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa makna dari matuk? Ketika digulirkan sebuah buletin, kami menamainya dengan suara matuk. Mengapa begitu? Inilah bagian dari mahasiswa tinjauan ulasan dan kreativitas. Di sinilah, kreativitas menulis anak-anak asrama dilatih. Saya pernah menjadi salah satu pengelola suara matuk itu. Era saya berakhir, buletin itu pun ikutan tamat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matuk memang luar biasa memacu kreativitas kami dalam menulis. Banyak di antara pengelolanya yang menjadi jurnalis. Termasuklah saya. Pantaslah saya bersyukur karena ada sedikit ilmu menulis ketika mengelola suara matuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6000509655997936036?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6000509655997936036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/matuk.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6000509655997936036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6000509655997936036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/matuk.html' title='Matuk'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SNisOUEWmfI/AAAAAAAAAMk/D7Yd3ngx_xc/s72-c/matuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6855960397717218652</id><published>2008-09-19T04:40:00.001-07:00</published><updated>2008-09-19T04:45:59.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora'/><title type='text'>Sepeda Motor Bertransformasi Menjadi Mesin Pembunuh</title><content type='html'>Populasi sepeda motor meningkat setiap tahun. Pemerintah senang karena pendapatan asli daerah juga meningkat. Satu dekade terakhir, sepeda motor menjadi objek pajak yang menopang pendapatan daerah. Namun pertumbuhan itu berbanding terbalik dengan pertambahan ruas jalan di Kalimantan Barat. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor bukan lagi barang mewah. Harganya semakin terjangkau. Penjual berebut menawarkan diskon yang merayu pembeli. Ada yang memberi subsidi uang muka hingga Rp1,5 juta. Ada juga yang menawarkan hadiah langsung untuk pembelian satu unit sepeda motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penawaran itu menarik minat pembeli. Sifat konsumerisme masyarakat di Kalimantan Barat juga mendukung tingginya angka penjualan. Pada 2007, peredaran kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat di Kalbar mencapai 774.043 unit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepeda motor sudah menjadi transportasi publik. Harga dan subsidi relatif terjangkau menggiurkan pembeli,” kata Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kalbar Darwin Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diungkapkan Darwin tidaklah berlebihan. Kasat mata, sepeda motor telah memenuhi jalan-jalan di Kota Pontianak. Kadang kala kehadirannya menyebabkan terjadinya kemacetan di jalan raya. Kerap kali sepeda motor menjadi mesin pembunuh akibat kecelakaan lalu lintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Sistem Administrasi Manunggal di bawah Satu Atap (Samsat) periode 2001-2006, populasi kendaraan bermotor meningkat setiap tahunnya. Pada 2001, kendaraan bermotor hanya 311.296 unit. Lima tahun kemudian, bertambah menjadi 688.313 unit. “Terjadi kenaikan hingga 221 persen,” ujar Darwin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi kendaraan bermotor terbanyak ada di Kota Pontianak yakni 172.730 unit pada 2001, bertambah menjadi 352.519 unit pada 2007. Di Ketapang, populasi kendaraan juga cukup tinggi. Hingga 2007, jumlahnya mencapai 73.411 unit. Kabupaten Melawi yang memiliki kendaraan bermotor terendah yakni 8.691 unit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga pajak yang berkaitan dengan sepeda motor. Ketiga pajak itu meliputi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB). Ketiga pajak ini mendongkrak penerimaan daerah setiap tahunnya. “Kalbar masih mengandalkan kendaraan bermotor untuk penerimaan pajaknya,” aku Darwin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2007, realisasi penerimaan PKB mencapai Rp118,13 miliar. Sementara BBN-KB sebesar Rp139,5 miliar dan PBB-KB sebesar Rp110,77 miliar. Hingga Februari 2008, penerimaan PKB sudah mencapai Rp22,39 miliar dari target sebesar Rp128,45 miliar. Sedangkan BBN-KB sebesar Rp28,59 miliar dari target Rp120,97 miliar dan PBB-KB sebesar Rp21,47 miliar dari target Rp114,84 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju populasi sepeda motor tidak sebanding dengan ruas jalan raya. Pertambahan jalan raya berjalan lambat. Perlambatan itu diperparah dengan kondisi jalan yang tak mulus. Mayoritas jalan di Kalbar belum memenuhi standar kualitasnya. Malahan cenderung mengalami kerusakan yang cukup parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Kalbar memiliki jalan negara sepanjang 1.575 kilometer; jalan provinsi sepanjang 1.517,93 kilometer, jalan kabupaten/kota sepanjang 5.240 kilometer. Sehingga total jalan yang ada di Kalbar mencapai 8.333 kilometer. Dari jumlah itu sepanjang 2.496 kilometer atau 29,96 persen mengalami rusak, sedangkan 2.984,62 kilometer atau 35,82 persen menderita rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya ruas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor. Sepeda motor sudah bertransformasi menjadi mesin pembunuh. Jalan raya menjadi areal penjagalan massal. Kerusakan jalan dan sikap tidak tertib lalu lintas mendukung transformasi sepeda motor tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok data kecelakaan lalu lintas Polda Kalbar terkini yang melibatkan kendaraan bermotor dalam tiga tahun terakhir. Pada 2006, terjadi kecelakaan lalu lintas sebanyak 1.263 kasus. Korban meninggal dunia tercatat sebanyak 436 orang. Korban luka berat terhitung 532 orang dan luka ringan sebanyak 1.521 orang. Kerugian materil karena kecelakaan lalu lintas mencapai Rp2 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007, jumlah kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor naik sebanyak 80 kasus, hingga total kecelakaan lalu lintas mencapai 1.343 kasus. Korban meninggal dunia adalah sebanyak 474 atau naik sebanyak 38 kasus. Korban luka berat pada 2007, berjumlah 581 kasus atau naik 49 kasus. Sedangkan luka ringan sebanyak 1637, atau naik 116 kasus. Jumlah kerugian materil Rp3 Miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terjadi kenaikan kerugian materil akibat kecelakaan lalu lintas selama satu tahun sebanyak Rp1 miliar. Kenaikan kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor diyakini semakin bertambah. Hingga Agustus 2008, Polda Kalbar mencatat 211 korban meninggal dunia di jalanan. Kemudian luka berat sebanyak 344 orang. Sedangkan luka ringan sebanyak 500 kasus. Kerugian materil mencapai Rp1,5 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolda Kalbar Brigjen R. Natakesuma mengatakan, kecelakaan lalu lintas dipengaruhi oleh human error. “Pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang tidak seimbang dengan panjang jalan raya,” kata Natakesuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Abdul Hamid mengungkapkan, kecelakaan lalu lintas bukan hanya masalah lokal, tetapi nasional. “Ini skala nasional. Harus menjadi prioritas kebijakan nasional,” kata Hamid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pembangunan jalan raya  harus berkualitas. “Kualitas jalan kita masih kalah jauh dengan negara lain. Kita harus malu dengan Malaysia dan Brunei. Mereka mungkin tidak ngomong, tapi kita harus merasa dan sadar,” kata Hamid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor sudah menjadi transportasi publik yang terjangkau. Harusnya jalan raya tidak menjadi tukang jagal. Naiknya pendapatan daerah dari pajak kendaraan bermotor, diimbangi dengan perbaikan jalan. (*) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6855960397717218652?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/6855960397717218652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/sepeda-motor-bertransformasi-menjadi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6855960397717218652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/6855960397717218652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/sepeda-motor-bertransformasi-menjadi.html' title='Sepeda Motor Bertransformasi Menjadi Mesin Pembunuh'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5752350393771391720</id><published>2008-09-19T04:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T04:43:17.531-07:00</updated><title type='text'>Kendalikan Angka Kelahiran dengan KB</title><content type='html'>Ledakan jumlah penduduk atau baby booming dikhawatirkan akan meningkat tajam. Pemerintah memperkirakan pada 2015 jumlah penduduk Indonesia akan bertambah menjadi 247,5 juta jiwa. Sungguh peningkatan yang mengkhawatirkan. Program Keluarga Berencana menjadi garda terdepan untuk mengendalikan kelahiran terutama pada era otonomi daerah. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju pertumbuhan penduduk di Kalimantan Barat tercatat lebih rendah dari seluruh provinsi di Indonesia. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, laju pertumbuhan penduduk periode 2000-2005 untuk Provinsi Kalbar hanya sebesar 0,18 persen. Angka itu lebih rendah dari angka nasional sebesar 1,3 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan jumlah penduduk ini akan berdampak luas terhadap penyediaan anggaran dan fasilitas kesehatan, pendidikan, serta ketersediaan pangan. Selain itu juga berdampak terhadap pemenuhan gizi bayi serta meningkatnya angka pengangguran. Kondisi ini akan menambah beban pengeluaran keuangan daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ketersediaan anggaran tidak bisa terpenuhi akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Karena jumlah penduduk yang padat akan sulit untuk memenuhi kebutuhan pokoknya karena daya dukung anggaran dari pemerintah yang berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tantangan bagi pemerintah daerah agar penduduknya berkualitas. Kalau penduduk berkualitas, beban pengeluaran daerah tidak masalah. Namun, kalau kualitas penduduknya rendah, akan jadi beban daerah dan masyarakat,” kata Anggota DPRD Kalbar Katharina Lies.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada langkah yang strategis dari pemerintah daerah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Kendati secara nasional, Kalbar tergolong paling lambat lajunya, tetapi haruslah diwaspadai. Sebab kalau terjadi ledakan penduduk yang melebih angka nasional bisa berakibat merosotnya kualitas manusianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Keluarga Berencana bisa menekan laju pertumbuhan penduduk di Kalbar. BKKBN Kalbar menargetkan pada 2008 sebanyak 26.100 akseptor keluarga berencana baru. Saat ini baru tercapai 51 persen dari target yang ditetapkan. “Selain mengantisipasi ledakan penduduk, KB juga bisa mengentaskan kemiskinan,” kata Kepala BKKBN Kalbar Gun Djamani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak otonomi daerah gerakan KB semakin berkurang. Ini berdampak pada kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB juga turut menurun. Ditambah lagi keuangan daerah yang terbatas. Sehingga kucuran dana untuk meningkatkan program KB juga semakin berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar program KB kembali digiatkan, pemerintah di daerah diwajibkan membentuk lembaga struktural. Dengan begitu, ada kewajiban bagi daerah untuk membiayai lembaga tersebut. Langkah ini juga sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Dalam Struktur Organisasi Perangkat Daerah yang baru ini, pemerintah mengusulkan adanya Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak, Masyarakat dan Keluarga Berencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur BKKBN di daerah kabupaten/kota juga harus jelas. Ada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Pada Bagian Ketiga yang mengatur Perumpunan Urusan Pemerintahan Pasal 22 ayat (5) huruf i menyebutkan pengaturan mengenai bidang pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua kabupaten/kota berkomitmen mengikuti amanah peraturan pemerintah itu, maka perhatian untuk menekan ledakan jumlah penduduk bisa dilakukan. “Diperlukan political will pemerintah daerah di era otonomi ini. Artinya tidak sekadar membentuk lembaga struktural, tetapi haruslah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengikuti program KB,” ungkap Andreas Lani, seorang parlemen Kalbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalbar, kurun waktu 2000-2005, laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,18 persen. Pertumbuhan ini dibantu dengan adanya program transmigrasi untuk pemerataan penduduk. Kendati begitu, laju pertumbuhan penduduk di Kalbar masih terendah di Indonesia. Bahkan Kalbar meraih penghargaan dari pemerintah pusat terkait keberhasilan program keluarga berencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan penduduk juga berpotensi menambah angka kemiskinan. Data BPS Kalbar menunjukan, persentase penduduk miskin periode Maret 2007 ke Maret 2008 menurun sekitar 12,92 persen. Pada periode tahun 2007 ke tahun 2008 jumlah penduduk miskin turun dari 584,3 ribu orang menjadi 508,8 ribu orang. Hal ini berarti bahwa jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 75,5 ribu orang. Kendati mengalami penurunan, jumlah orang miskin di Kalbar masih tertinggi di Pulau Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalbar, garis kemiskinan sebesar Rp158.834 per kapita per bulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 508,8 ribu orang dan tingkat kemiskinan mencapai 11,07 persen. Indeks kedalaman kemiskinan di Kalbar sebesar 1,66 dan indeks keparahan kemiskinan 0,42. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan jumlah penduduk miskin yang cukup pesat terjadi di perdesaan, yaitu dari 440,20 ribu orang pada Maret 2007 menjadi 381,3 ribu orang pada Maret 2008. Jumlah itu berkurang sekitar 58,9 ribu orang, sementara di perkotaan berkurang 16,6 ribu orang yaitu dari 144 ribu orang pada 2007 menjadi 127,5 ribu orang tahun 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan angka pengangguran. Angka pengangguran terbuka pada Februari 2008 sebanyak 141 ribu orang, angka ini bertambah hampir dua ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2007 sebanyak 139 ribu orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penambahan terbesar terjadi pada laki-laki sebesar dua ribu orang yaitu dari 79 ribu orang menjadi 81 ribu orang, sedangkan jumlah pengangguran terbuka penduduk perempuan relatif stabil yaitu sebesar 60 ribu orang," kata Maksum Djauhari, kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan penduduk bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini menjadi persoalan bersama. Harus ada sinergitas semua elemen dalam menekan angka kelahiran. Program Keluarga Berencana mesti ditingkatkan. (*) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5752350393771391720?l=www.pedagi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pedagi.com/feeds/5752350393771391720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/kendalikan-angka-kelahiran-dengan-kb.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5752350393771391720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5564142300435343561/posts/default/5752350393771391720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pedagi.com/2008/09/kendalikan-angka-kelahiran-dengan-kb.html' title='Kendalikan Angka Kelahiran dengan KB'/><author><name>Budi Miank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07663392499613992043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SYZ_uxv8ARI/AAAAAAAAAUc/755kBeauNXU/S220/miank+(429).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
