BATAS NEGARA UJUNG SEBUAH NEGERI

Jika boleh mengurut, ada tiga tempat yang menjadi favorit bagi orang ketika berkunjung ke tanah Borneo Barat. Tiga tempat itu berada pada kabupaten/kota yang berbeda juga. Satu, Pontianak.

ISI PERJANJIAN TUMBANG ANOI

Residen Banjar menawarkan siapa yang bersedia menjadi tuan rumah dan menanggung beaya pertemuan. Damang Bahtu’ menyanggupi. Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Bahtu’ memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat yang ada di Kalimantan pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju dan ini disyahkan oleh Residen Banjar.

NOTONKG, TRADISI DAYAK ANGAN

Masa lalu orang Dayak tak terlepas dari tradisi mengayau. Tradisi perang antarsuku dengan cara memenggal kepala manusia. Tradisi ini sudah ditinggalkan sejak adanya perjanjian Tumbang Anoi. Sebagian orang Dayak menjadikan kepala hasil mengayau sebagai pusaka

AKAI MERAKAI

Awal Maret ini saya berkesempatan berkunjung ke Nanga Merakai. Sebuah kota kecil di perbatasan negara antara Indonesia dan Malaysia di Kabupaten Sintang.

Angan Tembawang, Halo Indonesia

Angan Tembawang. Hanya sedikit orang yang tahu daerah ini. Jangankan di peta milik republik, atlas provinsi saja tidak tercantum.

Thursday, March 29, 2012

Apa Kabar Angan Tembawang?

Apa kabar Angan Tembawang? Sudah hampir satu tahun aku tak menjenguk kampung itu. Terakhir pulang kampung, ketika kakak nomor keempat berangkat menuju dimensi lain. Ada rindu menyeruak untuk segera bertemu orang-orang Angan yang selalu ceria di tengah kertinggalannya.

Setakat ini, aku belum bisa pulang kampung. Bukan sudah lupa jalan menuju Angan Tembawang. Atau sudah tak ingat sanak keluarga. Bukan pula, lupa peristiwa-peristiwa yang kualami ketika masih kecil dulu. Ketika masih bertelanjang kaki menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah. Ketika sepeda menjadi satu-satunya kendaraan yang menjadi alat transportasi. Ketika rumah betang masih tempat bermain, berkumpul, hingga untuk memeriahkan gawai bernama notokng.

Jika menghitung waktu, aku hanya hidup di Angan Tembawang dalam kurun waktu 12 tahun. Itupun dinikmati sejak brojol dari rahim emak hingga tamat sekolah dasar. Memasuki SMP, aku sudah meninggalkan kampung yang banyak memberi inspirasi itu. Aku meninggalkan Angan Tembawang menuju Pusat Damai, karena aku bersekolah di SMP Yos Soedarso. Praktis, aku hanya pulang kampung ketika liburan sekolah tiba. Itupun paling lama, hanya satu bulan ketika liburan kenaikan kelas.

Selama tiga tahun, aku menghilang dari Angan Tembawang. Selama itu pula, aku menjadi anak yang jauh dari orangtua. Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, tentu saja ini menjadi tantangan yang berat. Apalagi harus hidup di antara orang-orang yang baru dikenal ketika bertemu di asrama. Aku benar-benar menjadi anak yang belajar mandiri. Asrama yang dikelola Pastor Fritz Budmiger OFM Cap, yang biasa kami panggil Abai (dalam bahasa Hibun berarti kakek), mengajarkan anak-anak dari kampung berbeda untuk memahami perbedaan, persahabatan, dan solidaritas. Asrama benar-benar mengajarkan kemandirian bagi seorang anak. Sebab, tak ada tempat bagi penghuninya untuk bermanja. Semua harus dilakukan sendiri.

Tiga tahun kemudian, aku pulang ke Angan Tembawang, sebagai seorang anak yang mengantongi ijazah SMP. Bangga juga. Karena, orang kampung mengganggap aku sebagai salah satu orang berpendidikan. Masa itu, sangat minim orang Angan Tembawang yang sekolah. Saya bersyukur menjadi salah satu di antaranya. Teman-teman satu angkatan yang tamat SD bersama-sama, hanya empat orang saja yang bisa menamatkan SMP-nya. Selebihnya hanya sampai kelas satu atau kelas dua.

Pulang ke Angan Tembawang bukan tanpa beban. Ijazah SMP yang kukantongi mendatangkan banyak tanya dari orang-orang Angan. "Mau lanjut ke mana? Mau sekolah di mana lagi?" Tanya yang sulit kujawab. Sebab aku memang tak pernah memikirkan, apakah nantinya harus sekolah lagi atau berhenti sampai di situ. Tanya yang kujawab dengan senyum saja. Kadang mereka menjawab sendiri dengan kalimat-kalimat pesimis.

"Untuk apa sekolah? Guru sudah ada. Dokter sudah ada. Polisi, tentara juga sudah ada. Pastor pun sudah ada. Motong (menoreh) saja. Sekolah di kebun karet."

Tetapi kemudian ada yang berubah. Orang Angan seperti saya punya nasibnya sendiri. Tentu saja tidak hanya bergantung pada nasib. Ada usaha yang dilakukan agar tidak berpasrah pada nasib. Tuhan kemudian membuka jalan. Tawaran bersekolah di Pontianak, ibu kota Provinsi Kalbar, terbuka. Berbekal uang sepuluh ribu rupiah, ketika almanak masehi berada pada angka 1991, aku berangkat ke Pontianak. Kota yang belum pernah kuinjak. Kota yang sangat asing bagi orang sebelia saya. Tetapi, saya harus menjalaninya untuk kehidupan yang lebih baik.

Berangkat ke Pontianak, praktis harus meninggalkan Angan Tembawang. Harus meninggalkan emak dan ayah yang berjuang mencari dana untuk biaya sekolah. Sebuah semangat yang tak ingin anaknya seperti dia, yang tak berpendidikan. Emak bahkan tak pernah sekolah. Ayah hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakyat di zamannya. Karena itu, keduanya ingin agar anak-anaknya bersekolah lebih tinggi.

Lalu, apa kabar Angan Tembawang sekarang ini? Sejak 1991 hingga sekarang ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu di Pontianak. Pulang ke Angan hanya ketika Natal dan hari arwah tiba. Itupun kadang tidak pulang. Tetapi, sungguh aku rindu Angan Tembawang. Kampung yang memberi banyak inspirasi. Kampung yang membuatku tidak sekadar berangan-angan. Kampung yang mampu membuatku berubah menjadi orang yang harus mewujudkan satu angan-angan: menjadi lebih baik dari hari kemarin. Semoga. (*)

Wednesday, March 28, 2012

Earth Hour, Belajarlah pada Angan Tembawang


Besok malam, selama satu jam sedari pukul 20.30 hingga 21.30 pada 31 Maret 2012, umat manusia di dunia diajak untuk mematikan lampu. Kampanye yang diberi nama Earth Hour 60+ itu mengajak semua orang untuk mengurangi emisi karbon. Kampanyenya sudah dimulai sejak tiga pekan lalu.

Katanya sih untuk menyelamatkan bumi. Tak heran, kalau orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang peduli lingkungan begitu gigih mengkampanyekan program ini, terutama kepada masyarakat perkotaan.

Aktivis, pejabat pemerintah, hingga media massa juga diajak ikut berkampanye program dengan slogan, "Ini Aksiku, Mana Aksimu" itu. Bahkan, status di jejaring sosial semacam fesbuk dan twitter pun turut jadi media untuk kampanyenya.

Ajakan mematikan lampu selama satu jam ini tak berlaku bagi orang kampung, seperti Angan Tembawang. Hingga 2012, kampung yang berpenduduk hampir 700 orang itu, belum dialiri listrik. Sebuah ironi negeri yang telah merdeka sejak 67 tahun silam. Sebuah ketidakadilan pembangunan yang hanya mementingkan kawasan perkotaan saja. Sebuah keterbelakangan yang disengaja karena dianggap tidak memberikan keuntungan secara ekonomi.

Di Angan Tembawang, Earth Hour sudah berlangsung sejak kampung itu ada. Orang-orang kota harus belajar pada Angan Tembawang tentang tata cara menghemat energi. Para aktivis lingkungan harus melihat orang Angan Tembawang dalam berkampanye menyelamatkan bumi. Kalau hanya sekadar mengurangi emisi karbon dari lampu, orang Angan Tembawang sudah melakukannya sejak lama.

Di era lapisan ozone yang kian menipis ini, banyak orang berlomba-lomba menyelamatkan bumi. Di era gejala perubahan iklim (climate change) mendunia, orang-orang berebut untuk memperlambat perubahannya. Kampanye Earth Hour juga menjadi salah satu cara untuk memperlambat terjadinya perubahan iklim itu. Nah, orang Angan Tembawang sudah melakukan ini sejak lama.

Orang-orang Angan Tembawang selalu menjaga alam dan hutan. Sungai-sungai tetap mengalir dengan debit yang tak berubah sepanjang tahun. Udara tetap segar walau hujan tak turun barang satu bulan. Tengah hari tetap mendatangkan kesejukan kendati matahari membakar bumi. Bahkan, saat matahari berada pada titik nol, titik khatulistiwa, Angan Tembawang tetap menghadirkan kesejukan.

Namun Angan Tembawang tak selamanya sejuk. Program pembangunan belum menyentuh kampung yang ada di Kabupaten Landak itu. Kalaupun ada, belum seperti orang-orang kota. Tak ada sinyal handphone, padahal era sudah memasuki teknologi informasi. Jangan berharap ada kedipan lampu pada malam hari. Sebab belum ada satupun tiang listrik di desa yang terdiri atas tujuh kampung itu. Tak usah berharap bisa berobat dengan cepat, sebab hingga kini tak satupun tenaga medis yang mau bertugas di Angan Tembawang.

Hanya satu pesan dari Angan Tembawang. "Kalau mau menyelamatkan bumi dengan mematikan lampu selama satu jam di perkotaan, mari belajar pada kami yang setiap hari beraksi mengurangi emisi karbon." (*)

Thursday, March 22, 2012

MERAYAKAN KAPUAS

Kapuas tidak pernah mati. Ia mengalir senada dengan semangat orang-orang yang mengarunginya. Kapuas selalu memberikan cerita yang menggairahkan. Kendati warnanya sudah tak jernih, Kapuas tetap menjadi inspirasi banyak orang. Setiap hari selalu ada orang yang merayakan Kapuas. Turunan generasi selalu berharap ada yang menjaga Kapuas agar tetap semangat mengalir.