Setakat ini, aku belum bisa pulang kampung. Bukan sudah lupa jalan menuju Angan Tembawang. Atau sudah tak ingat sanak keluarga. Bukan pula, lupa peristiwa-peristiwa yang kualami ketika masih kecil dulu. Ketika masih bertelanjang kaki menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah. Ketika sepeda menjadi satu-satunya kendaraan yang menjadi alat transportasi. Ketika rumah betang masih tempat bermain, berkumpul, hingga untuk memeriahkan gawai bernama notokng.
Jika menghitung waktu, aku hanya hidup di Angan Tembawang dalam kurun waktu 12 tahun. Itupun dinikmati sejak brojol dari rahim emak hingga tamat sekolah dasar. Memasuki SMP, aku sudah meninggalkan kampung yang banyak memberi inspirasi itu. Aku meninggalkan Angan Tembawang menuju Pusat Damai, karena aku bersekolah di SMP Yos Soedarso. Praktis, aku hanya pulang kampung ketika liburan sekolah tiba. Itupun paling lama, hanya satu bulan ketika liburan kenaikan kelas.
Selama tiga tahun, aku menghilang dari Angan Tembawang. Selama itu pula, aku menjadi anak yang jauh dari orangtua. Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, tentu saja ini menjadi tantangan yang berat. Apalagi harus hidup di antara orang-orang yang baru dikenal ketika bertemu di asrama. Aku benar-benar menjadi anak yang belajar mandiri. Asrama yang dikelola Pastor Fritz Budmiger OFM Cap, yang biasa kami panggil Abai (dalam bahasa Hibun berarti kakek), mengajarkan anak-anak dari kampung berbeda untuk memahami perbedaan, persahabatan, dan solidaritas. Asrama benar-benar mengajarkan kemandirian bagi seorang anak. Sebab, tak ada tempat bagi penghuninya untuk bermanja. Semua harus dilakukan sendiri.
Tiga tahun kemudian, aku pulang ke Angan Tembawang, sebagai seorang anak yang mengantongi ijazah SMP. Bangga juga. Karena, orang kampung mengganggap aku sebagai salah satu orang berpendidikan. Masa itu, sangat minim orang Angan Tembawang yang sekolah. Saya bersyukur menjadi salah satu di antaranya. Teman-teman satu angkatan yang tamat SD bersama-sama, hanya empat orang saja yang bisa menamatkan SMP-nya. Selebihnya hanya sampai kelas satu atau kelas dua.
Pulang ke Angan Tembawang bukan tanpa beban. Ijazah SMP yang kukantongi mendatangkan banyak tanya dari orang-orang Angan. "Mau lanjut ke mana? Mau sekolah di mana lagi?" Tanya yang sulit kujawab. Sebab aku memang tak pernah memikirkan, apakah nantinya harus sekolah lagi atau berhenti sampai di situ. Tanya yang kujawab dengan senyum saja. Kadang mereka menjawab sendiri dengan kalimat-kalimat pesimis.
"Untuk apa sekolah? Guru sudah ada. Dokter sudah ada. Polisi, tentara juga sudah ada. Pastor pun sudah ada. Motong (menoreh) saja. Sekolah di kebun karet."
Tetapi kemudian ada yang berubah. Orang Angan seperti saya punya nasibnya sendiri. Tentu saja tidak hanya bergantung pada nasib. Ada usaha yang dilakukan agar tidak berpasrah pada nasib. Tuhan kemudian membuka jalan. Tawaran bersekolah di Pontianak, ibu kota Provinsi Kalbar, terbuka. Berbekal uang sepuluh ribu rupiah, ketika almanak masehi berada pada angka 1991, aku berangkat ke Pontianak. Kota yang belum pernah kuinjak. Kota yang sangat asing bagi orang sebelia saya. Tetapi, saya harus menjalaninya untuk kehidupan yang lebih baik.
Berangkat ke Pontianak, praktis harus meninggalkan Angan Tembawang. Harus meninggalkan emak dan ayah yang berjuang mencari dana untuk biaya sekolah. Sebuah semangat yang tak ingin anaknya seperti dia, yang tak berpendidikan. Emak bahkan tak pernah sekolah. Ayah hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakyat di zamannya. Karena itu, keduanya ingin agar anak-anaknya bersekolah lebih tinggi.
Lalu, apa kabar Angan Tembawang sekarang ini? Sejak 1991 hingga sekarang ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu di Pontianak. Pulang ke Angan hanya ketika Natal dan hari arwah tiba. Itupun kadang tidak pulang. Tetapi, sungguh aku rindu Angan Tembawang. Kampung yang memberi banyak inspirasi. Kampung yang membuatku tidak sekadar berangan-angan. Kampung yang mampu membuatku berubah menjadi orang yang harus mewujudkan satu angan-angan: menjadi lebih baik dari hari kemarin. Semoga. (*)











